<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946</id><updated>2012-02-16T05:30:57.652-08:00</updated><category term='Diagon Alley 1985'/><category term='Biodata'/><category term='Seleksi Asrama 1985'/><category term='Stasiun King&apos;s Cross 1985'/><category term='Hogwarts Express 1985'/><category term='Gubuk Hagrid 1985'/><category term='Kontrak Sihir'/><category term='Surat Tahun Pertama'/><category term='Boathouse'/><category term='Fan Fiction'/><category term='Leaky Cauldron 1985'/><category term='Danau 1985'/><category term='On the Night Like This'/><title type='text'>Zeus Pierre Debussy</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-4256945832706267620</id><published>2010-12-06T18:47:00.000-08:00</published><updated>2010-12-07T09:56:50.237-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='On the Night Like This'/><title type='text'>On the Night Like This</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://imgur.com/C5JdD.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://imgur.com/C5JdD.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;99B Charing Cross Road&lt;br /&gt;Covent Garden, London&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ada yang sedang menjerang satu kuali penuh Ramuan Merica Mujarab di bawah pori-pori kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';"&gt;Analogi&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;, Flemming menerjemahkannya dengan tiga puluh delapan koma lima derajat selsius dan saran tepat untuk&lt;em&gt;bedrest&lt;/em&gt;. Kayleigh tidak menolak atau menurut atau mengerucutkan bibir maju ke depan (seperti yang biasa dia lakukan dalam sosok abobil empat belas tahunnya). Untuk membantah pun dia tidak punya tenaga, karena membantah Flemming akan berlanjut dalam debat panjang yang akan berlangsung paling tidak selama setengah jam, dan itu jauh lebih melelahkan daripada menonton konser D'Lordz dua setengah jam nonstop dalam keadaan digantung terbalik (&lt;small&gt;apadeh&lt;/small&gt;). Meskipun saran untuk tetap tinggal di tempat tidur, alih-alih keluar rumah dengan hidung memerah dengan cairan hijau kental mengendap di dua rongganya, adalah yang terbaik yang bisa didengarnya sekarang, gadis itu menggelengkan kepala diam-diam.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Keras kepala.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memijat-mijat keningnya yang hangat selagi langkah kakinya membawanya masuk ke ruangan lengang dengan satu tempat tidur berselimut-jahitan-perca, satu set meja dan kursi bocel-bocel, lemari pendek, dan dinding yang dipenuhi tempelan poster dan perkamen. Lengang, rapi, dengan dua buah koper yang sudah dipak di dekat pintu. Oh ya, hanya beberapa hari lagi menjelang keberangkatannya ke negeri orang dan kesehatannya tidak mau diajak kerja sama.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Ngedrop&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;dengan sukses. Terbatuk-batuk kecil, diayunkannya tongkat sihirnya sampai mangkuk berisi sup bawang yang masih mengepul itu terjungkir pelan-pelan dan menumpahkan isinya dalam wadah kedap udara lain yang sudah disiapkan. Satu ayunan tongkat lain, dan wadah itu menutup lalu meluncur masuk dalam tas sandang hitamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai. Masih pukul sembilan malam. Peduli setani demam ini dulu sebentar—dia harus segera pergi ke Leaky Cauldron sebelum Flemming memergokinya kabur lagi. Tidak&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;harus&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;sih. Hanya&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;ingin&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;saja. Ingin yang benar-benar ingin. Kayleigh meraih tongkat sihirnya, mengayunkannya sampai lampu kamarnya padam dengan sukses, lalu melangkah limbung keluar kamar. Dibacanya lagi pesan yang dikirimkan Zeus Pierre padanya tadi sore sebelum gadis itu menganggukkan kepalanya yang pusing. Dihelanya pelan-pelan nafasnya yang mulai berat ketika pandangannya tertuju pada potret bergerak dua orang yang dibingkai di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cain. Cain dan Kayleigh—&lt;em&gt;London Zoo, musim panas 1989.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua detik diamnya, tangan itu akhirnya terjulur juga, meraih bingkai foto itu dengan cepat... dan menelungkupkannya ke bawah. Tidak mengatakan apa-apa lagi, dia memperbaiki posisi tas sandangnya dan segera melangkah keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;Sial.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Kangen Cain.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;strong&gt;Kamar 112&lt;br /&gt;Leaky Cauldron, London&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seratus Dua Belas,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;ini dia.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Zeus bilang tidak perlu ketuk, langsung masuk saja, jadi dia mendorong pelan pintu yang tidak terkunci itu dan melongokkan kepala lebih dulu. Ha. Entah ini bisa dibilang kompak atau apa—&lt;em&gt;yea yea, apasajaboleeeeeh&lt;/em&gt;—namun mereka berdua sakit disaat yang bersamaan. Demam, flu, dan kehilangan kemampuan untuk berdiri atau duduk tanpa merasakan dunia sedang berputar dalam putaran hebat nyaris jungkir balik. Zeus mengabarinya tadi sore, dan karena rumahnya&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;dekat sekali&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;dari sini, Kayleigh bersedia datang. Hei, dia sudah menganggap Z seperti kakak kandungnya sendiri... dan beberapa hari lagi dia akan&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;pergi.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Ke sebuah negara di seberang sana, yeps. Tidak ada salahnya meluangkan waktu sebentar untuk menengok Zeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, dia butuh bahu-bahu menganggur untuk bisa dipakai menyandarkan kepala sejenak. Dan seseorang yang masih mau diajak bercerita, langsung, tanpa perantara burung hantu (meskipun arsip surat-menyurat musim panasnya dengan Erin menggunung dengan sangat cepat, melebihi pertumbuhan ruas bambu di negeri tropis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, ini aku," dia melangkah masuk, menghampiri tempat tidur dengan sosok yang sangat dikenalnya sedang terbaring di atasnya.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Whoops.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Diletakkannya punggung telapak tangannya di atas dahi Zeus, mengukur termalnya, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Seriously&lt;/em&gt;, seseorang bisa memasak telur di atas sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, di atas dahi mereka berdua,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;to be exact.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://img139.imageshack.us/img139/9233/zeusx.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;Kamar 112&lt;br /&gt;Leaky Cauldron, London&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dia tumbang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda yang sebenarnya memiliki stamina sangat kuat itu kini terbaring di atas tempat tidur di kamar penginapan. Sengaja menjauh dari rumah, dari Skull Alley, dari kastil Elsveta di Rusia bahkan dari rumah Nabelle di Dublin. Bukan karena mereka mengganggu hanya saja jika Zeus berada di salah satu tempat itu maka dia takkan bisa beristirahat dengan tenang. Grandpa Elsveta selalu sibuk mengurusi ini dan itu berkenaan dengan perubahan sistem pemerintahan Rusia dan kekeraskepalaan sang kakek untuk tetap mempertahankan kebangsawanan mereka. Skull Alley pun penuh dengan anak-anak yatim piatu yang membutuhkan perhatiannya (jelas Zeus takkan mau beristirahat kalau sudah ada di sana). Di rumah, melihat wajah Candy hanya membuatnya semakin galau. Dan Nabelle sendiri sekarang sedang sibuk mengurusi pendaftaran kuliahnya di Universitas Seni London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leaky Cauldron jadi pilihan satu-satunya. Dekat dengan tempat Kayleigh. Walau sesekali terdengar suara bising dari bar di bawah, Leaky Cauldron terbilang tenang. Dia bisa tidur lelap tanpa memusingkan apa-apa. Sesekali Nabelle datang beraparisi membawakannya makanan dan merawatnya sampai tertidur tapi malam ini sepupu kesayangannya itu harus mengurus Benaya yang masih terbaring di rumah sakit. Kondisi Benaya sudah lebih baik meski mereka semua harus pasrah pada apa yang terjadi dengan ingatan anak itu. Setidaknya ketakutan dokter soal kelumpuhan sudah bisa dibuang jauh-jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brengsek. Sudah dua hari lewat tapi keadaannya bukan semakin membaik malah semakin memburuk saja. Seluruh tubuhnya seperti ketambahan bobot berlipat-lipat dari bobot tubuhnya sendiri dan seolah ada gurun pasir di dalam sana mengambil alih. Panas dan kering. Hingga rasanya Zeus ingin membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;, dia memang hanya mengenakan&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;boxer&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;saja, sih. Plus selimut putih tipis yang menutupi tubuhnya. Kayleigh mau datang. Mana mungkin dia buka-bukaan di depan adik sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derit pintu terbuka kemudian terdengar. Zeus menoleh dan menyipitkan mata melihat siapa yang datang. Seharusnya gadis berambut coklat itu, sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Hey, ini aku,"&lt;/span&gt;—dan memang dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Hey, K,"&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;balasnya dengan suara serak. Pemuda sembilan belas tahun itu tersenyum tipis ketika Kayleigh meletakkan punggung tangan di keningnya dan bercanda soal memasak telur di atasnya. Zeus menggenggam tangan itu kemudian menariknya pelan hingga gadis berambut coklat itu terduduk di tempat tidurnya.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Kau terlihat pucat, K,"&lt;/span&gt;ujarnya memandangi wajah Kayleigh dengan raut kuatir,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Kau sakit juga, ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang rasa bersalah tiba-tiba saja mengalir di dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Kenapa tidak bilang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kalau tahu, aku takkan menyuruhmu datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://imgur.com/C5JdD.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;em&gt;Hangat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, suara yang serak teredam itu sudah cukup menunjukkan ada yang tidak beres juga dengan saluran tenggorokan dan hidung Zeus, dan Kayleigh merasa seperti sedang mencengkeram gagang mug berisi cokelat panas yang baru saja diseduh air hangat. Dia terduduk pelan di sisi tempat tidur dan meletakkan tasnya di lantai, bersandar pada meja di samping tempat tidur, sebelum menarik keluar wadah berisi sup bawang yang tadi dia siapkan dari rumah. Ini bukan sup bawang biasa, sih. Ada ramuan tertentu yang diteteskan kedalamnya, efektif untuk mengurangi produksi lendir di rongga hidung dan menurunkan suhu tubuh. Bahkan Bian Kenneth van Houten sendiri sudah memvalidasi kesahihan khasiat ramuan-dalam-sup dalam sebuah wawancara di sebuah tabloid-sihir-kurang-terkenal. Oke, memang (&lt;em&gt;doh&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyadari dalam dua detik kalau Z hanya menenggelamkan diri dalam balutan selimut bulukan Leaky Cauldron tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Dan yeah, sekali lihat juga tahu kalau pemuda itu mandi keringat. Dia sekarang meraba leher Z dengan punggung tangannya, kemudian bibirnya langsung mengerucut singkat—&lt;em&gt;protes.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pakai baju, ya?" Gadis itu bangkit limbung mencari-cari kaus atau kemeja longgar di sampiran kursi, kemudian menarik salah satunya dan menyerahkannya pada Zeus. "Kau mandi keringat—astaga. Sebentar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handuk kering. Pasti ada. Terbatuk-batuk menahan pening, Kayleigh menyambar sehelai handuk kering yang terlihat matanya dan membantu Zeus duduk, agar dia bisa menyeka keringat yang membanjir sebelum membantunya mengenakan kemeja longgar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;strong&gt;"Kau sakit juga ya?"&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campuran semingguan begadang, banyak pikiran, dan kangen. Yeah,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;memang.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Memang sedang sakit. Tapi dia datang kesini dengan kesadarannya sendiri, beberapa hari lagi dia sudah di Stuttgart dan Zeus akan kembali ke Hogwarts. Kalau mau bertemu langsung empat mata seperti ini harus menunggu lagi sampai liburan musim dingin atau malau&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;summer break&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;tahun depan lagi,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;kalau&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;dia melewatkan kesempatan yang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa," dia menyerah, memberi kesempatan agar tubuhnya beristirahat beberapa puluh detik dengan duduk di tepian tempat tidur dengan punggung disandarkan ke dinding, satu tangannya sudah menggenggam tangan Zeus lagi. "Cuman kecapekan—dan kau bilang kau sendirian di Leaky Cauldron,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;lagi sakit begini&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;pula. Masa mau kucueki begitu saja?" Satu toyoran pelan ke pelipis Z, dan dia nyengir tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti belum makan. Mau kusuapi sup?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, dia juga bisa jadi yang&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;seperti ini&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;di saat-saat tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://img139.imageshack.us/img139/9233/zeusx.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;Serius, deh. Demi apapun. Pemuda sembilan belas tahun itu bukannya mau pamer otot atau apa sampai-sampai hanya memakai&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;boxer&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;saja. Sebenarnya sejak tadi sebelum Kay datang pun dia sudah berniat memakai kaosnya. Tapi karena keringatnya masih bandel, berulang kali kaosnya basah dan akhirnya pemuda itu jadi capek sendiri lalu akhirnya ketiduran sampai Kay datang. Nasib orang sakit, tidak bisa mengendalikan tubuh sesuai kemauan. Walau rasanya risih, Zeus terpaksa pasang muka badak alias berlagak tidak tahu malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Thanks&lt;/em&gt;," ucapnya ketika Kay mengambilkan sehelai kaos dari dalam tasnya di lantai. Lalu berdecak ketika lagi-lagi Kay berdiri untuk mengambil handuk kering. Kalau saja Kay tidak sedang sakit, Zeus takkan merasa bersalah begini. "Sudah, K. Duduk saja. Tak usah&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;ngapa-ngapain&lt;/em&gt;. Nanti sakitmu makin parah." Zeus kembali menarik gadis itu untuk duduk setelah ia dibantu duduk lebih dulu. Memalukan. Dirinya lebih lemah daripada Kay sekarang. Diraihnya handuk kering yang ada di tangan K dan ia membasuh sendiri keringat di tubuhnya. Asal-asalan. Kemudian kaos yang diambilkan tadi juga dipakainya dengan susah payah. Badannya terasa bertambah bobot berkilo-kilo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Tidak apa-apa,"&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;jawab Kay membuat Zeus menggelengkan kepala dan membalas genggaman gadis yang dianggapnya adik sendiri itu. Tahu bahwa beberapa hari lagi Kay akan pergi ke Jerman untuk pelatihan menjadi seorang&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;magizoologist&lt;/em&gt;. Jadi, ia memutuskan untuk tidak banyak protes karena ia memang ingin bertemu dengan gadis itu sebelum ia kembali ke Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;Cuman kecapekan—dan kau bilang kau sendirian di Leaky Cauldron, lagi sakit begini pula. Masa mau kucueki begitu saja?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus tersenyum sambil memegang pelipisnya yang baru saja ditoyor oleh Kay, kalau saja ia tidak sedang lemas begini, toyoran itu pasti sudah dibalasnya dengan cubitan keras di pipi. Kay sedang beruntung saja. Ha.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Baiklah. Aku kalah,"&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;ujar pemuda itu akhirnya menyandarkan kepala ke dinding. Pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Pasti belum makan. Mau kusuapi sup?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Sup? Buat sendiri?"&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;tanyanya kembali mengangkat kepala dan memandang Kay. Tidak ada tampang bisa memasak, memang. Tapi barangkali usia yang sudah beranjak dewasa membuat gadis itu belajar memasak. Untuk bekal menikahnya nanti, mungkin. Hey, Nabelle saja selama liburan ribut minta diajari semua resep nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Mau,"&lt;/span&gt;—mau disuapi. Tak peduli lidahnya sedang mati rasa. Orang sakit memang dimana-mana sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;img src="http://imgur.com/C5JdD.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;em&gt;Ohiyadoms.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sadar sesadar-sadarnya, dengan titel lulusan Hogwarts dengan usia sudah menginjak delapan belas tahun seperti ini, sudah saatnya waktu mainnya sendiri dikurangi. Tidak, dia tidak bilang dia harus berhenti main-main total (dan menggadaikan gelar&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;abobiltiga&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;ke pasar daging terdekat, bukan begitu). Seorang Kayleigh masih jadi penggemar berat Bian Kenneth van Houten dan masih menganggap bahwa kegiatan main&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;tic-tac-toe&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;kepala Snape itu adalah salah satu cabang olahraga berpikir yang harus dilestarikan. Namun diatas semuanya, Flemming sudah memulai program&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;ini&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;sejak dua tahun yang lalu. Judulnya terlalu serius,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Program Bertahan Hidup&lt;/em&gt;, padahal acaranya hanya belajar memasak, menyetir mobil, main gitar, belajar negoisasi, (terkadang membahas pengetahuan-pengetahuan umum "makanan" Flemming sehari-hari yang tidak pernah mau dijamahnya), dan... dan&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;banyak.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, yeah, ini salah satu resultan sederhananya. Beberapa orang bilang sekarang dia jadi lebih serius (dan mulai bisa nyambung diajak ngobrol yang sedikit berat). Yang lain bilang dia lebih suka meng&lt;em&gt;galaw&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;daripada diajak senang-senang lagi. Kayleigh bilang dia tidak peduli, toh Charlie Weasley juga&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;galaw.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Errrr, bukan. Iya juga sih, tapi bukan (karena Kenneth menolak ikut&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;galaw&lt;/em&gt;). Aduh. Well, selama dia tidak merugikan orang lain, jadi apa salahnya? Kadang ada beberapa waktu yang membuatnya berpikir, tentang dirinya sendiri, tentang orang lain, tentang apa yang akan dia capai di masa depan... Dan yeah, bentuk perhatian-perhatian seperti ini juga tidak ada salahnya ia tunjukkan pada Zeus. Selagi sempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Siapa tahu ada chimaera nyasar yang mencaploknya di Black Forest nanti—kan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lihatlah, dua orang sakit yang duduk bersisian. Satu sama lain sudah menganggap hubungan ini telah merambah sejenis tali persaudaraan, jadi tidak ada kecanggungan ketika tangan Kayleigh menggenggam tangan Zeus dengan posisi kepala yang hampir disandarkan pada bahu pemuda itu. Yeah, baginya ini sama saja seperti saat dia mengurus Flemming yang sakit. Atau bagi Zeus, mungkin sama saja seperti dia diurusi Nabelle. Dan selayaknya orang sakit, level kemanjaan Zeus di detik ini sudah menyenggol atap kamar 112 ini sedemikian rupa, dan Kayleigh terkekeh pelan. Jarang dia melihat Zeus yang seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diraihnya wadah seperti mangkuk plastik yang tadi dibawahnya, kemudian dengan sekali sentak pelan tutupnya terbuka, merekahkan asap tipis dan aroma bawang dan rempah ke seluruh ruangan. Sayangnya hidungnya sedang tidak bekerja sebagaimana biasanya, aroma super-lezat itu jadi tidak terlalu tercium. Mungkin begitu juga yang terjadi dengan Z. Dia meraih sendok dan menyendokkan benda itu ke dalam cairan kental kekuningan dengan irisan wortel, bawang, dan sayuran lain itu, kemudian menyodorkannya ke arah mulut Zeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nih,"&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;inginnya terkekeh geli saja, sekali lagi&lt;/em&gt;. "Aaaaaa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;img src="http://img139.imageshack.us/img139/9233/zeusx.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;Kapan lagi dimanja begini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda bermarga Elsveta itu&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;nyengir&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;lemah memandangi wajah Kay yang kini bersandar di bahunya. Dua orang sakit duduk berdampingan. Yang satu pucat tapi masih lincah-limbung (ini bahasa apa, ya?), yang satu lagi pucat basah kuyup tak kuat bangun. Dua-duanya terlihat menyedihkan seperti orang rabun menuntun orang buta. Baiklah, ini hanya racauan tak jelas.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Skip&lt;/em&gt;. Intinya, Zeus yang sakit itu sedang dalam mode manja tingkat&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;supreme&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;(kalau ada). Dengan mata hanya terbuka setengah seperti orang mabuk, Zeus memandangi Kay dari dahi, hidung, bibir sampai ke dagunya. Dan tiba-tiba saja pemuda itu berpikir kalau adiknya yang manis itu seharusnya tidak boleh dibiarkan pacaran dengan orang lain. Biar saja jomblo selamanya. Toh, ada Zeus yang akan menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman';"&gt;^MANA BISA!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan. Hanya sisi&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;siscom&lt;/em&gt;-nya saja yang tiba-tiba timbul ke permukaan. Pemuda itu kemudian terbatuk-batuk lalu berdeham-deham mengusir dahak yang kental di lehernya. Sudah kental, menggelitik pula. Sebenarnya memang gatal tapi reaksinya kalau tak ada Kay pasti hanya berguling saja di kasur. Berhubung ada orang, Zeus menambahkan erangan (ingat, lagi manja). Sesudah melewati dua bulan yang melelahkan rasanya pemuda itu wajar-wajar saja bertingkah begini. Iya, wajar. Wajar kalau nanti dijitak Kay atau mungkin disiram sekalian dengan kuah sup di dalam wadah yang sedang dibuka gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Aaaaaa."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sendok berisi kuah kekuningan dengan potongan wortel, bawang dan sayur-sayuran disodorkan ke mulutnya. Zeus mengerutkan kening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Aku tak suka wortel."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minta ditabok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;img src="http://imgur.com/C5JdD.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;Nah,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;kan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini saat-saat langka, dan saat-saat langka biasanya&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;priceless.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Dia biasanya melihat sosok Zeus sebagai sosok kakak hiperaktif yang sangat&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;care&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;pada orang-orang yang disayanginya. Mungkin karena naluri sosial Z sendiri sudah terbentuk sejak di Skull Alley. Hanya akhir-akhir ini saja, saat epidemik&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;galawisme&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;melanda separuh bagian bumi dan hampir semua orang yang ia kenal terkena dampaknya, Zeus makin terlihat murung. Sekarang saat kondisi tubuhnya sendiri menyerah dan nge-drop, dia baru tahu Z punya sisi yang seperti ini.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Manja.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Dan Kayleigh menertawakannya pelan—&lt;em&gt;bukan mengejek&lt;/em&gt;, dia hanya gemas. Gemas sampai ingin mengacak-acak rambut gelap Z dengan satu tangan dan menoyor-noyor pelipisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Errr, mungkin inilah yang dinamakan dengan&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;oenjoe moment.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu jenis demam yang seperti ini akan menciptakan sensasi pening di kepala (yeah, karena dia juga&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;sedang&lt;/em&gt;mengalaminya), jadi dia mengurungkan niatnya untuk menoyor kepala Z. Tapi, yeah, dia menggantinya dengan satu tepukan ringan di pipi dengan bonus nyengir lebar tak berdosa seperti yang sekarang sedang dia lakukan. Rasanya peningnya sendiri sedikit mereda, meskipun ketika dia menghela nafas, bagian bawah hidungnya masih merasakan hembusan hangat. Masih demam. Dan hidungnya masih mampat... tenggorokannya juga. Ah, ya sudahlah. Pikirkan diri sendiri itu bisa nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;strong&gt;"Aku tak suka wortel."&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wah, minta diunyel-unyel ya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sedikit manyun lagi sekarang, menyendok ulang sup-tanpa-menyertakan-wortel kemudian menyodorkannya kembali sendoknya ke arah Zeus.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Tahan cengir.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nih, tanpa wortel. Aaaaa..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum sendok itu sempat dilahap Z, dia segera membelokkannya ke arah mulutnya sendiri. Dan yeah, sedetik kemudian sensasi rempah-rempah melegakan sudah menguasai indera perasanya. Hangat. Dengan potongan bawang dan bayam yang kini sukses dikunyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, satu lirikan jahil pada Zeus—yang ditutup oleh satu kekehan panjang ketika dia tertawa. Lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;img src="http://img139.imageshack.us/img139/9233/zeusx.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;Zeus diam saja waktu Kay menepuk pelan pipinya sambil&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;nyengir&lt;/em&gt;. Ceritanya pemuda itu sedang ngambek karena tidak bisa membalas menepuk pipi Kay. LEMAS ITU MENYEBALKAN!! GRAOO—kalau saja bisa berteriak begitu. Pemuda itu mendengus tapi tak ada udara yang keluar karena saluran lubang hidungnya sedang terjadi kemampatan dari dalam yang menyebabkannya sejak dua hari lalu harus bernapas lewat mulut seperti ikan megap-megap. Aroma sup yang dibawa Kay pun sama sekali tidak bisa dihirupnya padahal sepertinya baunya enak dan menggelitik napsu makan. Sayang sekali, tak ada yang tergelitik dari diri Zeus saat ini. Yang ada hanya keinginan untuk bermanja-manja. Sedikit lupa kalau Kay juga sebenarnya sedang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Nih, tanpa wortel. Aaaaa..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia memutuskan membuka mulut dan tidak melanjutkan rajuknya. Kasihan nanti Kay jadi geregetan lalu stress dan menangis meraung-raung karena makanannya tidak dimakan oleh Zeus (hanya spekulasi). Tapi begitu sendok itu nyaris masuk ke mulut, Kay membelokannya dan menelannya sendiri (kuahnya tanpa sendok, lho). Zeus hanya bisa melongo sambil menaikkan sebelah alisnya memandangi Kay asyik mengunyah. Lirikan gadis itu pun dibalasnya dengan lirikan yang senada tapi kekehan Kay hingga tawa lepasnya sukses membuat Zeus memonyongkan bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikerjai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"K, kau..."&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Pemuda itu mengangkat tangannya perlahan dan menempelkannya ke pipi Kay yang sedang tertawa. Memberikan cubitan yang sebenarnya diniatkan keras tapi ternyata tak bertenaga sama sekali.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Sial. Tanganku mengkhianati."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gantinya, Zeus merebahkan kepalanya di bahu Kay lalu—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—sebuah gigitan pun bersarang di lengan atas gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Gotcha..."&lt;/span&gt;—gantian, Zeus yang terkekeh sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;img src="http://imgur.com/C5JdD.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;Yeah, Kayleigh sudah mulai tidak yakin bahwa dua orang yang sekarang duduk bersisian dengan punggung disandarkan pada sandaran tempat tidur ini memang sedang menderita demam, sakit kepala, dan gangguan di bagian tenggorokan. Dia tidak memungkiri bahwa energi tubuhnya sendiri seperti tersedot keluar seperti di pompa oleh pengungkit tak terlihat. Untuk melangkahkan kaki atau duduk saja rasanya super-limbung (jika diterjemahkan ke dalam bahasa asing, maka keadaan ini dinamakan&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;nggaknyante&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;atau bisa juga&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;apadeeeh&lt;/em&gt;). Namun dia tahu sakitnya Zeus lebih parah daripada sakitnya, dan pemuda itu sudah kehilangan lebih dari separo tenaganya untuk membalas perlakuan jahilnya tadi. Gadis itu nyengir ringan dan membiarkan satu cubitan ringan mendarat di pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa tenaga, eah eah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;strong&gt;"Sial. Tanganku mengkhianati."&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang," dia menyahut kalem kemudian menyendok mangkuk supnya lagi. "Tuh. Makanya nurut sini. Makan sesendok saja, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja dia akan menyodorkan satu sendokan itu ke arah mulut Zeus, pemuda sembilan belas tahun itu malah menyandarkan kepalanya ke lengan atas Kayleigh, dan tidak ada yang heran saat sedetik kemudian gadis itu terlonjak kaget sejenak.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Buset.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Orang sakit memang macam&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;orang sakit&lt;/em&gt;. Untung sendok berisi sup ini tidak terlontar dari pegangannya dan mengotori selimut dan tempat tidur Z. Mau tidak mau, satu tepukan ringan lagi mendarat di pipi Zeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dilarang gigit-gigit!" Tahan cengir, sekali lagi. "&lt;em&gt;Mangap&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;sini, atau aku pulang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir tadi memang disengaja, toh pada akhirnya dia terkekeh lagi. Tidak tahan pura-pura manyun dan mengancam akan pulang tanpa memberi hint bahwa yang tadi itu hanya candaan saja. Kayleigh tidak akan pulang sebelum Zeus mengusirnya keluar kok. Biarkan saja, toh mereka sama-sama tahu yang semacam ini mungkin tidak akan terjadi lagi untuk dua atau tiga tahun ke depan, saat satu sama lain sudah mengurusi urusan masing-masing dan hanya bertemu muka disaat-saat sempat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sendokan lain. Dan lagi. Dan...&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;lagi.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Zeus harus makan sesuatu, paling tidak jangan sampai perutnya sepenuhnya kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So, how's your summer?" gadis itu membuka topik lain selagi sendokan demi sendokan sup dia arahkan pelan-pelan ke mulut Zeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;img src="http://img139.imageshack.us/img139/9233/zeusx.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;Zeus menghentikan tawanya ketika Kay mengancam mau pulang. Ia tahu, kok kalau Kay hanya becanda saja. Ia tahu tabiat adiknya itu tapi ia pura-pura tak tahu saja. Lagian kepalanya sekarang teramat pusing. Pandangannya mulai berputar dan matanya mulai mengerjap-ngerjap. Lemas. Sampai-sampai kepala yang tadinya berada di pundak Kay sekarang merosot jatuh ke pangkuan gadis itu. Perutnya memang sejak pagi belum diisi sama sekali. Tapi ia juga tidak merasa lapar. Bawaan penyakit. Anak-anak di Skull Alley yang kemarin ini harus dirawatnya pun rata-rata kehilangan napsu makan karena demam tinggi dan ia, sebagai pemilik panti asuhan Skull Alley harus memaksa mereka makan. Persis seperti yang Kay lakukan sekarang hanya saja lebih tegas lagi. Sekarang, ia jadi tahu perasaan anak-anak itu. Ingin dimanja. Persis seperti dirinya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkuan Kay empuk, ngomong-ngomong. Membuat Zeus jadi merasa semakin ngantuk saja. "Begini saja, ya," ujarnya lirih sembari memejamkan mata, "Makannya nanti saja. Aku pusing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengahnya manja. Setengahnya lagi serius, kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;So, how's your summer?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Hot&lt;/em&gt;," jawabnya singkat. Maksudnya panas, sibuk, melelahkan, menegangkan dan menggalaukan. Keren, ya. "Sampai-sampai badanku jadi ikut hot."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba berkelakar. Tapi jika disampaikan dengan mata terpejam dan wajah pucat pasi, kelakarnya tersampaikan atau tidak? Well, berbicara soal galau. Tiba-tiba pemuda itu ingat kalau wajah Kay saat datang tadi terlihat galau juga. Selain pucat, binar mata Kay terlihat sedih. Zeus membuka matanya sedikit untuk memastikan. Tuh, kan sedih.&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Kau sendiri bagaimana? Mukamu kacau banget, lho."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita saja. Mumpung abang di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Kau tak sedang bertengkar dengan si&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;hati,&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;img src="http://imgur.com/C5JdD.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;"&lt;em&gt;Obviously.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Summer is&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;hot&lt;/em&gt;, he said. Yeah, musim panas memang&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;'panas'&lt;/em&gt;—musim panasnya juga entah kenapa tidak sebaik yang dia kira. Harusnya dia&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;excited&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;menyambut hari keberangkatannya ke Jerman sana, namun distraksi terbesarnya adalah memikirkan perpisahan. Terutama dengan Flemming (kakaknya selalu bilang pergi dari Inggris dan menetap di Jerman adalah salah satu keputusan&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;paling baik&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;yang pernah dia buat selama delapan belas tahun ia hidup di dunia, dan Kayleigh terlalu semangat sampai tidak sempat memikirkan ada&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;subliminal messages&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;dalam kalimat&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;encouraging&lt;/em&gt;tersebut). Charlie dan Kenneth akan bertolak ke Rumania juga dalam waktu dekat, dia sudah berjanji akan mengunjungi mereka beberapa kali kalau kegiatannya sebagai&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;trainee&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;tidak mencekik lehernya sendiri. Dan Erin akan jadi penyembuh, jika dia tidak salah, tahun pelatihannya akan jadi sangat sibuk—&lt;em&gt;no probs&lt;/em&gt;, itulah gunanya penyihir menciptakan sapu, bubuk floo, dan dianjurkan untuk belajar&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;apparate.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi salah satu yang paling membuatnya agak gelisah hanyalah kenyataan bahwa dia belum bicara lagi dengan Cain, sejak kakinya melangkah keluar dari Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;TENTUSAJAPENTING.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANAMUNGKINDIATIDAKMEMIKIRKANCAIN JIKASECUILKABARBERITATENTANGPEMUDAHUFFLEPUFFITUSAJA DIATIDAKTAHUSAMASEKALI?&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...coret. Coret dua kali. Seharusnya tidak begini.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Masa lalu&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;adalah masa lalu. Dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri pada keadaan baru. Dan gadis itu tercenung, tidak sadar dirinya sendiri melamun sambil menarikan jemarinya sendiri pada helaian rambut gelap milik Zeus—orangnya sendiri sudah merosot kehabisan tenaga dari bahu ke pangkuannya. Wajah sedikit pucat milik Z tampak lelah... tampaknya dia sudah mulai mengantuk dan lebih memilih beristirahat saja daripada makan. Yea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;pukpuk&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;strong&gt;"Kau tak sedang bertengkar dengan si hati, kan?"&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha&lt;em&gt;ha.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Terlalu jelaskah? Kontak batin itu ternyata memang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak bertengkar kok," dia mengedikkan bahu, berusaha menyembunyikan intonasi kering dan ogah-ogahan dari suaranya, tapi tampaknya gagal. "Kan memang sudah&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;putus.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;Siapa tadi yang menyenggol tombol galaw?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;small&gt;&lt;img src="http://img139.imageshack.us/img139/9233/zeusx.jpg" /&gt;&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Tidak bertengkar kok."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang pertama kali keluar dari mulut Kay membuat Zeus mengangguk-angguk dan mendengungkan kata singkat berbunyi,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Ow..."&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Baguslah. Rasa-rasanya akan sulit dibayangkan kalau Kay dipisahkan dengan Cain. Pemuda itu tahu seberapa sayangnya Kay pada pacarnya meski beberapa kali menangis mendatangi dirinya dan berkata mereka tengah bertengkar dan sebagainya dan sebagainya. Walau sesungguhnya hati kecil Zeus kesal melihat Kay dibuat berkali-kali menangis begitu, ia tak sampai hati melarang Kay berhubungan dengan Cain. Tak peduli seperti apa gaya berpacaran mereka, rasa sayang itu pasti tetap ada. Buktinya sebentar bertengkar, sebentar berbaikan. Semoga saja Cain juga memiliki perasaan yang sama dengan Kay. Jika tidak, mungkin satu dua pukulan untuk pemuda itu layak disarangkan. Ha. Bicara begini saat sedang sakit rasanya aneh, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Jadi, sebenarnya kena—"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Kan memang sudah putus."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Oh, sudah putus..."&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Zeus mengangguk-angguk lagi. Memejamkan mata, terdiam sesaat lalu tiba-tiba pemuda itu membelalakkan matanya menatap tajam ke arah Kay,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"PUTUS KENAPA?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh sakit atau bukan, reaksi Zeus kali ini memang agak-agak tertunda. Sebut saja lemot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Apa yang terjadi sampai putus? Dia menyakitimu lagi? Brengsek! Memang seharusnya dari dulu dia kuhajar sa—&lt;em&gt;uhuk... uhuk...&lt;/em&gt;—ja!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi-imajinasi pun beterbangan di benak si pemuda. Membayangkan hal-hal yang membuatnya semakin geram saja. Barangkali Cain menemukan gadis lain dan meninggalkan Kay begitu saja. Barangkali Cain sejak awal hanya mempermainkan Kay dan tidak berniat serius. Barangkali Cain tipe laki-laki yang tidak sanggup pacaran jarak jauh (padahal dalam kamus penyihir yang namanya LDR itu nyaris tidak ada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus menarik napas lalu menghembuskannya. Begitu batuknya reda, perasaannya pun ikut melunak. Ia mengangkat tangan untuk membelai pipi Kay dengan jemarinya,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Kau baik-baik saja, kan? Hmm? Katakan saja semua uneg-uneg di benakmu. Aku akan diam dan mendengarkan. Sampai kau puas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;img src="http://imgur.com/C5JdD.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;em&gt;Kan memang sudah putus.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia baru ingat dia belum cerita pada siapapun soal ini, Zeus bahkan baru saja tahu, Erin juga belum. Isi tumpukan perkamen surat musim panasnya pada Severine Shelley lebih banyak membahas soal yang warna-warni saja, yang&lt;em&gt;gloomy&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;macam ini dia pendam dalam-dalam untuk konsumsi dirinya sendiri. Terkadang Kayleigh mendapati dirinya sendiri melamun soal hal ini lama sekali, bertanya-tanya apakah&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;disana&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Cain juga sedang memikirkan hal yang sama atau sudah tidak peduli sama sekali. Saat dia tersadar, biasanya dia akan menyesali sudah menghabiskan sekitar satu-dua jam untuk memikirkan sesuatu yang tak harusnya dipikirkan lagi, dan seseorang yang&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;mungkin saja&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;tidak memikirkannya balik.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Ha.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Rasanya seperti ingin menusuk sesuatu dengan tombak saat dia sendiri sedang sekarat—rasanya sedih,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;sakit&lt;/em&gt;, kesal juga ada.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Kesal&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;pada diri sendiri. Kampret, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan emosi yang seperti ini dibiarkan berlarut-larut sejak beberapa minggu yang lalu sampai sekarang. Hasilnya berdampak jelas pada kesehatannya yang menurun dan (mungkin) terpeta jelas pada ekspresi wajahnya. Z bilang tampangnya kacau, dia mengiyakan. Dia tahu Zeus adalah salah satu oknum yang menyuarakan nada negatif atas hubungannya dengan Cain (&lt;em&gt;...uhuk&lt;/em&gt;), dia beberapa kali menyinggung soal 'menghajar Cain sampai jadi bubur' kalau pemuda Hufflepuff itu sengaja atau tidak sengaja menyakitinya. Charlie dan Kenneth juga pernah melempar wacana itu, meskipun mereka membungkusnya dalam bentuk&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;jokes.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Zeus mungkin lebih protektif, namun di satu sisi dia juga mencoba bersikap suportif. Yeah, selayaknya seorang kakak pada adik perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;strong&gt;"PUTUS KENAPA?!"&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kenapasajaboleh?&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Cis. Bukan. Selabil-labilnya mereka berdua, yang seperti ini juga punya alasan tersendiri. Hanya saja... Dia nyengir pasrah, menelan ludahnya yang terasa pahit. Cerita?&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Tidak cerita?&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;strong&gt;"Apa yang terjadi sampai putus? Dia menyakitimu lagi? Brengsek! Memang seharusnya dari dulu dia kuhajar sa—uhuk... uhuk...—ja!"&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan!" mendadak Kayleigh menyergah, meskipun intonasinya masih lemah. Satu tangannya menepuk-nepuk Z yang masih terbatuk-batuk, inginnya bangkit saja mencari air putih yang&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;available&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;andai dia tidak ingat kepala Zeus masih di pangkuannya. Ternyata pilek yang seperti ini juga bisa membantu dalam keadaan begini:&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;matanya tahu-tahu panas.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Cis. Dia benci sisi lainnya yang&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;cengeng-pengecut&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;jika disinggung-singgung soal ini. Dia jarang menangis—&lt;em&gt;jarang sekali, demi kutil Merlin yang paling besar&lt;/em&gt;—hanya saja fakta ini tinggal sejarah... sejak dia pacaran dengan Cain, kan? Tapi sekarang dia tidak menangis, kok.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Mungkin belum.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya aku tidak mau memikirkannya," dia kembali menjawab setelah batuk Zeus mereda. "Tapi... tapi sulit. Sulit&lt;em&gt;sekali.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Terpikir terus, dan aku benci itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;img src="http://i56.tinypic.com/ohsspy.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;Kalau sudah seperti ini, Zeus rasa-rasanya ingin menyesali kesibukan yang membuatnya kesulitan menghubungi Kay selama liburan. Jika saja ia tahu lebih cepat mungkin beban di pundak Kay bisa lebih berkurang lebih cepat, tak perlu dipendam terlalu lama sampai jatuh sakit begini. Katakanlah ia seorang kakak yang protektif karena kenyataannya memang begitu. Jiwa sosialnya yang terlalu tinggi lah yang membuatnya bisa menaruh diri di dalam situasi orang lain (meski itu baru dipahaminya belakangan ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, kalau dipikir ulang, liburan musim panasnya benar-benar tak tertolong lagi sibuknya. Di awal liburan saja ia sudah mendapat kabar kalau Benaya masuk rumah sakit dan koma. Ia dan Belle setiap hari mendatangi rumah sakit tempat Benaya dirawat dan memberikan bantuan sebanyak yang mereka bisa berikan. Belum lagi Grandpa Vladimir di Rusia yang berulang kali mengiriminya surat untuk segera datang karena banyak urusan keluarga yang harus ia kerjakan. Banyak undangan-undangan dari kerabat dan relasi Elsveta yang harus dihadiri hingga mencuri-curi waktu ke rumah sakit pun sudah sangat sulit. Ditambah dengan kenyataan bahwa Benaya kehilangan ingatannya dan kemampuannya untuk berakrobat.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Zeus rasanya jungkir balik. Untunglah kesibukannya di Skull Alley sedikit mengobati rasa pedih hatinya tersebut. Mengurusi bocah-bocah yatim piatu yang sakit, memperbaiki mainan yang rusak dengan mantra sampai ke hal-hal terkecil seperti menimang-nimang seorang bayi yang baru datang bergabung. Bayi yang mungkin akan diadopsinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukan-kesibukan yang membuat lupa waktu itu pun akhirnya terpaksa dihentikan karena tubuhnya tidak kuat. Sejak dulu memang Belle memiliki daya tahan yang lebih baik daripada dirinya. Dan di sinilah Zeus sekarang, terbatuk-batuk sambil ditepuk-tepuk oleh Kay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Sebenarnya aku tidak mau memikirkannya. "Tapi... tapi sulit. Sulit sekali. Terpikir terus, dan aku benci itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus menatap iba pada gadis itu. Menyadari bahwa Kay tengah menahan tangisnya. Pemuda itu kemudian mengulurkan tangan dan mengusap pipi Kay, tepat di bawah mata gadis itu,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Aku mengerti. Butuh waktu pasti. Dan aku yakin kau pasti bisa melewatinya. Kau ini kan adikku. Adiknya Super Z tidak kenal takut."&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Jemarinya kemudian berpindah ke hidung mancung Kay, memencetnya pelan,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Menangis saja. Tak usah ditahan-tahan. Hanya aku yang lihat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh. Perasaan Kay belum pernah dirasakannya tapi entah kenapa ia bisa mengerti perasaan itu. Terlampau mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang meninggalkan lobang besar di hati,"&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;gumamnya,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"dan lobang itu takkan pernah bisa tertutup lagi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;img src="http://imgur.com/C5JdD.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-family: Tahoma,Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); font-size: 11px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;strong&gt;"Menangis saja. Tak usah ditahan-tahan. Hanya aku yang lihat."&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...hmph."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidungnya memang sedang dipencet pelan oleh Zeus, namun alasan mengapa dia tidak meresponnya dengan kalimat, anggukan, dan gelengan hanya karena Kayleigh sudah berjanji satu hal: dia tidak mau menangis gara-gara Cain lagi. Itu memang kekonyolan tingkat antar galaksi yang tampaknya wajar: dia gadis normal yang biasa, baru saja lepas dari masa ababil tingkat dewa, dan baru saja ditampar&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;sesuatu&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;untuk bisa belajar lebih dewasa. Kan? Menangis itu wajar, kata orang, tapi kalau menangis terus-terusan ya tenggelamkan diri saja sana ke sumur terdekat. Mungkin prinsip mereka berdua terlalu berbeda, mungkin dia terlalu membosankan, mungkin Cain masih menyukai Febryne (...&lt;em&gt;uhuk&lt;/em&gt;), mungkin ego dua-duanya sudah dilapisi titan super-keras sampai tidak punya harapan lagi untuk dileburkan satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya:&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;quit.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Lalu&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;move on.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Seseorang&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;small&gt;yang kau cintai&lt;/small&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;meninggalkanmu? Dunia diluar sana belum kiamat, lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ngomong memang mudah, ya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku—mmmm—tidak mau menangisi&lt;em&gt;nya&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;terus. Bosan." Dia mencoba menyunggingkan senyum, dan langsung tahu senyumnya pasti terlihat sangat menyedihkan karena kentara sekali dipaksakan. Mau tertawa sekarang pun rasanya tidak sesuai dengan atmosfer yang sedang tercipta.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Galawish.&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;Namun dia mencoba terkekeh pelan, menarikan kembali jemarinya ke helaian gelap rambut Zeus dalam gerakan random. Matanya melirik kesana, tapi jelas pikirannya sudah terpencar-pencar ke banyak tempat. Stuttgart, Cain, Flemming, Charlie, Kenneth, Erin, Cain, Black Forest, Vancouver, Mum, Dad, Cain, Zeus, Magizoologist, dragon-keeper, healer, Cain,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;small&gt;Cain&lt;/small&gt;,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;small&gt;&lt;small&gt;Cain&lt;/small&gt;&lt;/small&gt;,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;small&gt;&lt;small&gt;&lt;small&gt;Cain&lt;/small&gt;&lt;/small&gt;&lt;/small&gt;—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—(&lt;em&gt;exhales&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;strong&gt;"Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang meninggalkan lobang besar di hati,"&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;dia mendengarkan Zeus merespon kata-katanya dalam satu gumaman pelan.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;strong&gt;"dan lobang itu takkan pernah bisa tertutup lagi..."&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Ya&lt;/em&gt;, tepat. Itu penggambaran yang tepat—Zeus tentu tahu bagaimana rasanya. Kayleigh tahu pemuda sembilan belas tahun itu pernah mengalami hal-hal yang semacam ini. Beberapa tahun yang lalu, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau sendiri... bagaimana, Z?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-family: Tahoma,Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); font-size: 11px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;&lt;img src="http://i56.tinypic.com/ohsspy.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-family: Tahoma,Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); font-size: 11px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Aku—mmmm—tidak mau menangisinya terus. Bosan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;"Keputusan yang tepat,"&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;balas Zeus tersenyum hangat meski ia tahu kalau Kay tengah memaksakan dirinya. Berpura-pura tegar padahal sesungguhnya tidak. Sama seperti Nabelle kalau sedang keras kepala. Tapi ia menghargai para hawa yang mampu berbuat begitu. Itu artinya mereka mau berusaha. Bukankah itu justru sebuah hal yang positif? Keinginan untuk mencapai sesuatu kadang memang harus dimulai dengan penyangkalan diri. Lagipula, ditinggalkan oleh seseorang yang paling berarti itu sangat berat. Tidak mudah untuk dilupakan. Bahkan bisa meninggalkan bekas yang seumur hidup takkan hilang. Persis seperti gumaman yang tadi ia keluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gumaman yang kemudian membuat pemuda itu terdiam dan berpikir. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang ganjil yang muncul di benaknya. Membuat pemuda itu memejamkan mata dan mengerutkan kening. Kepalanya mendadak terasa sakit. Seperti ada sesuatu yang tajam menusuk-nusuk di belakang kepalanya, tepat di otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Kau sendiri... bagaimana, Z?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;"Entahlah..."&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ujarnya sambil membuka mata dan menatap Kay dengan pandangan heran,&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt; &lt;/span&gt;"Ada yang aneh. Aku merasa seperti pernah mengalami yang sama sepertimu. Tapi aku tak bisa ingat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu terdiam lagi. Menarik napas lalu menghembuskannya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;"Mungkin hanya khayalanku saja. Lupakan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting sekarang Kay kembali ceria dulu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-family: Tahoma,Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); font-size: 11px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:14px;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); line-height: 18px; text-align: justify;font-size:11px;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-4256945832706267620?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/4256945832706267620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/12/on-night-like-this.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/4256945832706267620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/4256945832706267620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/12/on-night-like-this.html' title='On the Night Like This'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i56.tinypic.com/ohsspy_th.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-2330044890898538403</id><published>2010-04-02T07:20:00.000-07:00</published><updated>2010-04-10T12:39:14.637-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fan Fiction'/><title type='text'>Skull Alley (FF)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"   style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;font-family:'century gothic',Tahoma,Verdana;font-size:100%;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Winter Holiday 1986&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu satu kata yang tepat untuk mewakili perasaan Zeus Pierre saat ia menggamit jemari Emmy dan berjalan menuju sebuah tempat bernama Skull Alley. Tempat dimana ia menghabiskan waktunya sejak Christoff membawanya pergi dari kastil Elsveta. Jika saja ia tidak menemukan tempat ini dan berkenalan dengan Kurtzee serta anak-anak berandal yang lain yang menghuni tempat itu, ia mungkin takkan menjadi Zeus Pierre yang sekarang. Seorang pemuda yang mampu memimpin sekelompok anak berandal di usianya yang ke-11 dan mengubah kebiasaan buruk mereka menjadi lebih baik. Jika saja Skull Alley tak ada, mungkin Zeus akan jadi seorang anak laki-laki yang lebih banyak menghabiskan waktu dalam diam atau mungkin ia akan jadi seperti Christoff. Pilihan kedua rasanya lebih pantas dienyahkan dan dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari stasiun kereta, Zeus memutuskan untuk berjalan kaki langsung menuju Skull Alley. Jaraknya tidak terlalu jauh dan salju yang menumpuk di sepanjang jalan telah disapu ke pinggir sehingga tidak membuat langkah mereka terhambat. Ia diam-diam bersyukur bahwa sebagian kebutuhan pakaiannya sebagian tersimpan di Skull Alley; sehingga ia tidak perlu membebani pundaknya dengan ransel yang berat. Cuaca saat itu sangat dingin dan membekukan, ditambah lagi luka-luka di tubuh Zeus selepas berkelahi dengan Ryder di sekolah masih belum pulih sepenuhnya. Sedikit gerakan yang terlalu keras akan membuat sebuah ringisan muncul di wajah si berandal. Perban yang melingkar di kepalanya pun belum terlepas meski retakan tulang rahang sepertinya sudah pulih lebih dahulu. Gadis kecil yang berjalan di sampingnya mungkin sudah lelah memarahi dirinya sehingga memilih untuk diam saja ketika melihat luka-lukanya. Atau mungkin, gadis kecil itu malah sedang memikirkan kata-kata apa yang layak dilontarkan untuk pemuda yang tengah berjalan di sisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berjalan perlahan sembari menahan sakit pada perutnya. Dua buah tinju Ryder sempat bersarang di sana. Keras dan fatal. Membuatnya nyaris kehilangan kesadaran saat itu. Sebuah perkelahian yang bermula karena alasan sepele dan konyol; semata-mata untuk mengalihkan pikirannya dari Belle. Kedua iris peraknya bergulir memperhatikan daerah tempat tinggalnya yang telah ia tinggalkan selama dua tahun. Ia terdiam sejenak ketika melewati kediaman Debussy. Ya, rumah yang ditinggali oleh Lucretia—ibu kandungnya, dan Candy—adiknya. Ingin ia mampir sejenak sekedar untuk menyapa dan melihat keadaan mereka berdua, namun ia kembali teringat kata-kata sang ibu yang melarangnya untuk kembali lagi ke rumah itu. Dan ia kembali meneruskan langkahnya. Tanpa ia sadari, ia menggenggam jemari Emmy lebih keras untuk beberapa saat; tak menyadari ketika gadis kecil itu menoleh ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;SKULL ALLEY&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang berubah. Mobil sedan bobrok berwarna merah yang catnya sudah terkelupas dimakan usia masih terparkir di sudut dekat dinding batu. Berubah peran menjadi tempat duduk alih-alih kendaraan untuk transportasi. Sebuah ring basket usang masih berdiri di sana dengan beberapa bocah sedang bermain. Tumpukan kardus bekas menggunung di samping ring basket, terlihat jelas bahwa tumpukan itu semakin tinggi dalam dua tahun terakhir. Sebuah bangunan kumuh yang telah disulap menjadi tempat tinggal mereka yang tak punya rumah berdiri tegak di samping kanannya. Warna tembok bangunan itu kini berubah, penuh dengan lukisan cat semprot yang dibuat oleh bocah-bocah Skull Alley yang kreatif. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Zeus tersenyum tipis, mengenali sosok bocah-bocah yang tengah asyik bermain basket. Dua tahun telah memberikan perubahan tinggi badan yang signifikan pada bocah-bocah itu. Beberapa dari mereka bahkan terlihat telah mengecat rambutnya dengan berbagai warna seperti pelangi. "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;This is my home, M&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;," ujar Zeus pada gadis kecil yang masih digandengnya, "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Welcome to Skull Alley.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;" Emmy tersenyum riang dan menganggukan kepala. Gadis kecil itu senang karena Zeus mengajaknya menghabiskan liburan musim dingin di Skull Alley, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kelihatannya menyenangkan di sini."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;So, where's Kurtzee?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Itu Zeus! Zeus pulang! Zeus pulang!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Seorang bocah berambut merah menyala menyadari kedatangannya dan mulai berteriak-teriak memberitahu seluruh bocah-bocah lain yang ada di sana. Dalam beberapa detik, mereka telah berlari mengerumuni Zeus dan Emmy. Melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang langsung dijawab oleh Zeus di tempat. Hanya pertanyaan basa-basi seperti apa kabar dan sejenisnya. Juga tentang siapa Emmy. Beberapa dari mereka menggoda Zeus karena menggandeng tangan si gadis kecil sehingga ia akhirnya melepaskan genggamannya dari Emmy. Emmy hanya tertawa menanggapi pertanyaan mereka sambil sesekali mengusap kepala beberapa bocah yang melontarkan pertanyaan pengundang tawa. Zeus merasa senang telah memutuskan untuk kembali ke Skull Alley. Setelah puas, kerumunan bocah-bocah itu pun bubar dan mereka kembali melakukan aktivitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Zeus,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar sebuah suara. Kecil dan halus, nyaris tak terdengar. Zeus menundukkan kepala ketika sebuah tarikan lemah pada jaketnya terasa dan ia tersenyum ketika mendapati Elmira berdiri sambil mendongak menatapnya. Elmira adalah seorang gadis kecil yang seminggu sebelum keberangkatannya ke Hogwarts, ia temukan menangis di pinggir jalan dengan sebuah kertas bertuliskan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;'Nama anak ini Elmira, tolong rawat dia'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; tergeletak di atas perutnya. Usia gadis kecil itu sekarang 5 tahun, dengan rambut hitam mengkilat tergerai halus hingga ke punggungnya dan bintik-bintik coklat halus bertebaran di sekitar hidungnya yang mungil. Elmira tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Elmira, kau masih mengenaliku?" Gadis kecil itu mengangguk dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. "El ompong," ujar gadis kecil itu sambil menunjuk ke arah dimana dua gigi susunya seharusnya berada. Zeus tersenyum geli melihat gadis kecil itu. Emmy kemudian berjongkok sehingga tinggi tubuhnya sejajar dengan Elmira lalu ia mengulurkan tangannya, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Namaku Emmy. Salam kenal, Elmira."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Aku Elmiya,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; balas Elmira cadel sambil menepuk-nepuk telapak tangan Emmy yang terulur kepadanya—keningnya kemudian berkerut, menatap Emmy curiga, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Pacal Zeus, ya?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Emmy tertawa geli dan menggelengkan kepalanya—menyangkal pertanyaan Elmira secepat yang ia bisa, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Bukan. Aku temannya Zeus."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Tak diduga, Elmira tersenyum gembira mendengar jawaban Emmy. Gadis kecil itu serta merta memeluk kedua kaki Zeus dengan erat, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Zeus munya El. Pacal El. Zeus, ndong El..."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Maaf, Elmira. Aku sedang terluka jadi tak bisa menggendongmu," ujar Zeus lembut. Ditepuk-tepuknya kepala Elmira yang kini cemberut menatap dirinya. Kesal karena Zeus tak mau menggendongnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Biar aku saja yang menggendongmu, bagaimana?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Mike menawarkan diri, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Zeus sedang sakit, El." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Mike adalah s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;eorang bocah bertubuh tinggi dan berambut keemasan. Usianya sekitar 11 atau 12 tahun. Memiliki wajah tampan yang teduh; seringkali dimanfaatkan untuk merayu pemilik toko supaya memberikan mereka camilan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Zeus cakit?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Elmira sambil mengangkat tangannya ke arah Mike, menunggu digendong. Mike pun dengan sigap mengangkat tubuh mungil Elmira ke gendongannya—terlihat sudah terbiasa mengurus Elmira. "Zeus mik obat, ya. El juga mik obat waktu cakit." Pemuda itu mengangguk pelan. Gemas dengan tingkah laku Elmira.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kurtzee dimana?" tanya Zeus akhirnya pada Mike.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Zee tadi sedang bersama Ralph, mungkin sebentar lagi dia datang,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Mike.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Aku disini,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Sebuah suara terdengar dari belakang Mike. Sosok seorang gadis berambut merah kini terlihat di bola matanya seiring sebuah tinju yang melayang menuju ke perut si berandal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Stop," ujar Zeus sembari menahan tinju tersebut dengan telapak tangannya, "Kau tinju aku sekarang maka aku akan roboh dengan memalukan di sini. Tentunya kau tak mau itu, hm?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Jadi, cewek yang kau ceritakan itu justru kau bawa kesini?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Kurtzee menatap Emmy dari ujung kepala sampai ke ujung kaki lalu kembali menatap Zeus dengan sindiran yang kentara jelas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Sudah baikan rupanya?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan, gadis ini bukan Belle. Namanya Emmy, dia sahabatku di sekolah," ujar Zeus memperkenalkan Emmy, "M, ini Kurtzee. Sahabatku yang cantik dan tomboy. Just like you."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Hello, Emmy. Welcome to Skull Alley&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; sapa Kurtzee sambil merangkul pundak Emmy, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Ngapain&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; kau main-main dengan si monyet pirang itu?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Bercanda, tentu saja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Emmy hanya menunjukkan cengiran lebar yang menjadi ciri khas nya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;“Ia tak mungkin bisa hidup sampai sekarang jika tidak aku urus,”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Emmy membalas rangkulan Kurtzee dan mengedikkan bahunya. Ia melirik ke arah Zeus yang penuh dengan perban dan ia terkikik kecil. Gadis itu kemudian membuka tas ranselnya dan mengintip ke dalam tas yang penuh dengan permen lollipop dan coklat kodok. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;“Ada yang suka manis? Aku punya permen dan coklat."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Sebuah rangkulan tiba-tiba dari arah belakang memberikan beban di pundak si berandal. Zeus meringis dan mengerang kesakitan. Si gorilla Ralph yang dua kali lebih besar dari dirinya sekarang bertengger di pundaknya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kau babak belur, eh?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Ralph terkekeh sambil menunjuk perban di kepala Zeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anggap saja begitu. Jadi, apa kabar kalian?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 19px;font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'century gothic',Tahoma,Verdana;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Seharusnya kami yang menanyakan bagaimana kabarmu, eh?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Ralph memandangi Zeus dari ujung kepala sampai ke ujung kaki lalu kembali memberikan rangkulan—kali ini dengan lebih perlahan sehingga tidak menimbulkan rasa sakit yang terlalu di tubuh kurusnya. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kau yang babak belur, bukan kami,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; tambah Ralph sambil tertawa terbahak-bahak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Benar juga," sahut Zeus sambil meringis. Sebenarnya ingin tertawa, namun luka yang tengah mengering di sudut bibirnya membuat bibirnya terasa sulit bergerak. Untuk bicara saja dia tak bisa membukanya lebar-lebar, apalagi tertawa. Bisa-bisa lukanya terbuka lagi. Bocah berandal itu melirik ke arah Emmy yang terlihat sudah akrab dengan Kurtzee sekarang. Benar dugaannya, kedua gadis itu akan cocok berteman jika melihat dari kelakuannya yang memang hampir mirip satu dengan yang lain. Ia tersenyum tipis melihat anak-anak Skull Alley yang masih berusia di bawah 11 tahun berkerumun mengelilingi Emmy ketika gadis itu menawarkan permen dan coklat. Akan habis dalam sekejap, lihat saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Zeus, aku perlu bicara denganmu empat mata. Bisa?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Ralph pelan. Bisa dilihatnya Kurtzee melirik mereka berdua dengan tatapan penuh arti. Zeus mengangguk. Merasa ada sesuatu yang sepertinya sangat penting.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"M, aku mau mengobrol sebentar dengan Ralph. Kau tak apa-apa kutinggal dengan Kurtzee, kan? Hanya sebentar," ujarnya pada Emmy lalu mengerling pada Kurtzee, "Ajak dia menyimpan barang-barangnya, Zee. Temani sebentar,&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;okay&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;No problemo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;, Zeus. Emmy akan kubuat betah disini,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; kelakar Kurtzee sambil menggerak-gerakkan tangan kanannya dengan gerakan mengusir. Emmy pun terlihat tidak keberatan, gadis itu membuat tanda V dengan telunjuk dan jari tengahnya. Zeus pun melangkah meninggalkan mereka ketika dirasakannya Ralph mulai melangkah menariknya. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh pemuda bertubuh besar itu dengannya sehingga mereka perlu mencari tempat sepi—memastikan tak ada yang mencuri dengar. Jarang sekali mereka membahas sesuatu tanpa melibatkan anak-anak Skull Alley yang lain. Diabaikannya rasa lelah yang sejak tadi memang sudah menderanya. Istirahat bisa nanti setelah urusan selesai. Ia merasa tidak enak juga karena telah begitu lama meninggalkan geng berandal ciliknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Mereka berhenti berjalan ketika langkah mereka telah sampai di sebuah taman kecil yang kosong. Taman itu sudah tidak dipakai, banyak sampah yang memenuhi tempat itu—tertutupi oleh timbunan salju tebal. Mainan-mainan anak yang sudah rusak dan penyok didiamkan disana, terlihat beku karena dinginnya cuaca. Jika saja boleh menggunakan sihir di luar sekolah, dengan senang hati ia akan me-&lt;i&gt;reparo&lt;/i&gt; semua mainan yang ada disana sehingga anak-anak Skull Alley bisa bebas bermain. Sayangnya, untuk mewujudkan hal itu, harus menunggu hingga usianya mencapai 17 tahun. Ralph menghempaskan bokongnya di sebuah tempat duduk batu yang ada di pojok taman kecil itu, Zeus pun melakukan hal yang sama pada tempat duduk di hadapannya setelah menyapukan salju dengan sebelah tangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Ada apa, Ralph?" tanyanya dengan nada serius.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Geng selatan mengirimkan surat tantangan kemari,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Ralph dengan mimik serius, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"ke Skull Alley, maksudku. Nampaknya mereka tahu kau akan kembali. Ketua geng mereka terbunuh dan entah bagaimana mereka menuduh salah satu anggota Skull Alley yang membunuhnya."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Roman wajah Zeus seketika memucat mendengar penuturan Ralph—nyaris sewarna dengan nafas memutih yang keluar dari rongga mulutnya. Ketua geng selatan terbunuh dan salah satu anggota gengnya yang dituduh? Demi apa itu? Ia yakin tak pernah mengajari seorang pun dari anggotanya untuk melakukan hal-hal kriminal seperti itu. "Apa alasan mereka? Dan siapa yang mereka tuduh?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Katanya ada yang melihat kejadiannya,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Ralph dengan mimik datar,&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Mereka menuduh Mike."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"MIKE?! Mereka sudah gila! Mana mungkin Mike membunuh orang! Bahkan membunuh semut saja anak itu tidak tega! Ukh..," Zeus geram dan berdiri mendadak. Lupa bahwa tubuhnya masih terluka dan rasa sakit pun menderanya ketika gerakan tiba-tiba itu dilakukannya. Perlahan tubuhnya terhuyung dan Ralph dengan cekatan menopang Zeus. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Calm down, mate&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;. Aku juga tak percaya Mike melakukannya,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; kata Ralph sambil membantu Zeus kembali duduk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Mike bilang apa?" tanya Zeus lagi. Bocah kecil itu terlihat biasa saja saat menyambutnya tadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Anak itu belum tahu. Suratnya baru diterima Zee semalam."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Begitu. Bisa panggilkan Mike kemari, Ralph?" Zeus menatap Ralph dalam-dalam. Wajahnya terlihat tegang. Tak menyangka kejadian seperti ini bisa terjadi di Skull Alley.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kurasa kau sebaiknya istirahat dulu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;. Kau terlihat sangat lelah,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Ralph penuh pengertian, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Setelah kau bangun nanti baru kita bahas bersama."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Baiklah," ujarnya—tidak membantah karena pada kenyataannya ia memang sangat membutuhkan waktu beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Mereka pun berjalan kembali menuju Skull Alley dalam diam. Tak satupun dari mereka mengeluarkan sepatah kata. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Bagaimana jika tuduhan itu benar adanya? Demi Merlin, tujuannya kembali ke Skull Alley bukan untuk mengurusi masalah pembunuhan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ralph,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; thanks&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;." Ia menoleh dan melemparkan senyum pada Ralph. Merasa berhutang budi karena Ralph yang notabene adalah seorang ketua geng barat mau membantunya mengurusi Skull Alley.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Not a big deal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;. Istirahatlah," &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;ujar Ralph ketika mereka sudah tiba kembali di Skull Alley. Ralph mengantarnya sampai di depan pintu bangunan kumuh tempat para anak-anak Skull Alley yang tak punya rumah menetap dalam penjagaan Kurtzee. Zeus mengangguk dan melangkah masuk, mencari-cari sosok Emmy namun tidak ia temukan. Ia perlahan duduk di atas sebuah tempat tidur kayu di pojok ruangan dan membaringkan tubuhnya yang lelah di sana. Kelelahan membuatnya terlelap dalam hitungan detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;*******&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Jangan bangunkan dia."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;But we have to tell him about this, moron!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus perlahan membuka kelopak matanya ketika ia mendengar suara orang berdebat di dekat telinganya. Butuh waktu beberapa saat sebelum matanya bisa beradaptasi dengan gelap. Rupanya malam telah datang. Dilihatnya Kurtzee duduk di samping tempat tidurnya dan Ralph berdiri di dekatnya. Wajah mereka berdua terlihat tegang. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi—bukan sesuatu yang baik. Hal pertama yang terbersit di kepalanya adalah, "Hey. Dimana Emmy?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar di dinding. Raut wajahnya kini sama tegangnya dengan kedua teman di hadapannya. Ia belum tahu apa yang akan disampaikan namun ia tahu ada sesuatu yang tidak beres pada Emmy ketika melihat Kurtzee dan Ralph saling menatap. Mike rupanya berdiri di seberang tempat tidurnya, kepala bocah itu tertunduk dan bahunya bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Zeus,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Kurtzee akhirnya,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; "Emmy hilang."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus terpaku—seolah membeku karena dinginnya cuaca malam itu. Di perutnya sekarang seolah ada kupu-kupu yang sedang beterbangan membuatnya mual. Waktu terasa berhenti beberapa saat. Ia berusaha mencerna kata-kata yang baru saja diutarakan oleh sahabatnya itu. Emmy hilang. Hilang. Lenyap. Jika Kurtzee yang mengatakannya, berarti itu bukan sekedar gurauan. "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;What do you mean by that?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Sejak tadi dia bersamamu, bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Tadi aku meninggalkan dia sebentar untuk menyiapkan makan malam dan—,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;BUGH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;—penjelasan Kurtzee tertutup ketika Zeus tiba-tiba meninju tembok di sampingnya dengan keras. Kedua bola matanya terpicing—menatap marah pada Kurtzee. Ia tak mempedulikan rasa sakit yang seketika menderanya akibat gerakan tiba-tiba tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak seharusnya kau tinggalkan dia!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Itu bukan salah Zee, brengsek! Kau tak perlu semarah itu padanya!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Ralph menarik Kurtzee ke pelukannya dan menunjuk ke arah Zeus. Membuat si berandal terdiam sejenak dan menunduk. Ia menghela nafas dan mengerjap. "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Sorry, bro&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;. Aku hanya tak mengira ini akan terjadi," ujarnya meminta maaf, "Kalian sudah mencari dia sampai kemana? Kalian yakin Emmy benar-benar hilang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurtzee melepaskan diri dari pelukan Ralph dan kembali duduk di sisi tempat tidur Zeus. Gadis berambut merah itu menepuk bahu si berandal, mencoba menenangkan pemuda itu meski dirinya sendiri amat sangat tidak tenang dan merasa bersalah. Ketika gadis itu membuka mulutnya untuk bicara, Mike tiba-tiba melangkah mendekat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Emmy tadi sedang bermain dengan kami,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar bocah itu dengan mimik takut, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Petak umpet. Kami semua menyebar untuk bersembunyi. Setelah itu satu persatu ditemukan tapi tak seorang pun menemukan Emmy."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Mungkin dia bersembunyi di suatu tempat yang tak terlihat dan tertidur," ujar Zeus menimpali. Itu adalah satu-satunya dugaan yang paling baik yang bisa dipikirkannya di antara dugaan-dugaan buruk lainnya. Tertidur di cuaca bersalju seperti sekarang sama saja dengan mencari penyakit. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Demi Merlin, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;, Zeus membatin. Bagaimana ia mempertanggung jawabkannya nanti pada si botak Claymer? Lebih dari itu, Emmy adalah sahabatnya. Ia akan merasa sangat bersalah karena ia yang mengajak gadis itu ke Skull Alley.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Permainannya sudah berakhir 2 jam yang lalu,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Ralph, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kau yakin &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;cewek&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; itu tertidur?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Dua jam? Dan kalian baru membangunkan aku sekarang?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Tadi kami sibuk mencarinya dan tak mengira bahwa ia benar-benar hilang,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Kurtzee meremas pundak Zeus. Gadis itu tahu bahwa ia tak mungkin bisa menenangkan Zeus sekarang. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Dan akhirnya kami memutuskan untuk memberitahukannya padamu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Aku akan mencarinya," ujar Zeus. Pemuda berandal itu bangkit berdiri dan melangkah keluar dari bangunan kumuh itu diikuti oleh ketiga kawannya. Ketegangan yang ia rasakan membuatnya lupa pada rasa sakit di tubuhnya. Lagipula, hanya luka dalam. Bukan sesuatu yang perlu dilebih-lebihkan. Ia bukan bocah cengeng yang merengek-rengek karena luka sepele. "Dimana kalian bermain, Mike?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Di seluruh area Skull Alley, Zeus. Kami sudah mencari di setiap sudut bahkan ke lubang-lubang tersembunyi sekalipun,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Mike berlari-lari kecil menyusul Zeus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Melihat pemimpin mereka sudah terbangun dan mau mencari Emmy, beberapa anak Skull Alley yang sudah cukup besar ikut menawarkan diri membantu. Mereka pun berpencar berdua-dua. Zeus bersama dengan Nico, bocah dua belas tahun berambut hitam yang kini disepuh dengan warna biru elektrik. Mereka berdua mencari hingga ke tepi jurang yang ditutupi ranting kering yang tadinya semak-semak belukar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Nico, coba kau lihat ke sebelah sana," ujar Zeus memberikan komando sambil menunjuk ke arah kanan. Nico mengangguk dan menurut lalu Zeus melangkah ke arah kiri. Dengan kedua tangannya, Zeus menggeser ranting-ranting kering yang tumbuh rapat menjadi semak pada tanah bersalju. Berusaha mengintip ke baliknya, mencari-cari sesuatu yang mungkin menandakan Emmy pernah ada di sana. Ia menyusuri seluruh tepi jurang bersalju dan mendapatkan hasil yang sangat tidak memuaskan. Sama sekali tak ada jejak Emmy di sana. "Brengsek. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;M, where the hell are you?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Malam semakin gelap. Bulan penuh yang bertengger semakin tinggi di langit mencurahkan segenap cahayanya untuk menerangi para manusia yang tengah sibuk mencari, berteriak dan memanggil. Hanya satu nama yang disebut, Emmy. Beberapa dari mereka pada akhirnya menyerah karena dingin yang membekukan dan pamit untuk tidur dengan janji akan kembali mencari esok paginya. Zeus belum menyerah sebelum menyisir seluruh area Skull Alley bahkan lebih dari itu jika diperlukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Zeus! Lihat ini!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Nico tiba-tiba berteriak—memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka berdua. Zeus segera berjalan secepat yang ia bisa, menghampiri bocah itu. Nico dengan tubuh bergetar menunjuk ke arah sebatang pohon mapel besar. Ada sebuah surat tertancap di sana. Ditulis dengan tinta merah—&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;darah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;. Kurtzee dan Ralph serta Mike yang mendengar suara Nico pun akhirnya berlari menghampiri mereka, terkesiap melihat surat yang kemudian ditarik lepas oleh Zeus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Zeus, Emmy ada bersama kami," Zeus mulai membacakan surat tersebut—rahangnya mengeras menahan amarah yang menggelegak di tubuhnya, "Dia akan tetap aman jika kau datang ke tempat yang akan ditunjukkan oleh salah satu anggota kami besok. Datanglah temui dia di perempatan London timur jam 1 siang. Pastikan kau datang hanya berdua dengan Mike si pembunuh jika kau tak ingin kami menyentuh tubuh molek kekasihmu." Di akhir surat tertulis &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Southern Kids&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;, nama geng di London selatan. Zeus meremas surat tersebut dan membantingnya ke tanah. Ia mengumpat kesal, "Brengsek! Brengsek!! BRENGSEK!!!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Mike si pembunuh?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; suara Mike yang bergetar menghentikan umpatan Zeus, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Maksudnya aku?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Ini semua gara-gara kau!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Nico tiba-tiba sambil berjalan ke arah Mike lalu mendorong tubuh bocah itu hingga menghantam pohon di belakangnya—menjatuhkan tumpukan salju yang bertengger di dahan, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kalau bukan karena kau yang membunuh pemimpin geng selatan, Emmy tak mungkin diculik!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Itu bohong! Aku tidak membunuh siapapun!" &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Mike melawan, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Bahkan wajah pemimpin geng itu saja aku tidak tahu!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Zeus diam dan mengamati. Ada sesuatu yang aneh dalam kejadian ini. Ia menatap Kurtzee dan Ralph bergantian, sayangnya tak dibalas dengan reaksi yang ia harapkan. Kedua orang itu nampak tidak merasakan apa yang ia rasakan. Sebuah kejanggalan dari tingkah salah satu bocah yang tengah beradu mulut di hadapannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Jangan beralasan!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; seru Nico lagi sambil menarik kerah mantel Mike dengan kasar hingga syal merah yang melilit di lehernya terlepas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Hentikan, kalian berdua," Zeus melangkah masuk ke antara mereka. Ia menarik tangan Nico lepas dari kerah mantel Mike dan menatap tajam pada mereka berdua. "Sekarang kalian tidur. Besok pagi-pagi temui aku di sini. Kita harus bicara. Jangan berkelahi."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Mike dan Nico pun menurut. Mereka berdua segera berlari kembali ke bangunan kumuh tempat mereka tidur setiap malam. Begitu sosok kedua bocah itu menghilang, Zeus melangkah dan duduk di sebuah batang kayu yang tumbang. Ia memberi isyarat supaya Kurtzee dan Ralph mengikuti apa yang ia lakukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Ada sesuatu yang aneh," ujar Zeus dengan nada datar—mendengus, "Tak kusangka ada mata-mata di Skull Alley."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Mata-mata?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Kurtzee dan Ralph berbarengan, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Siapa yang kau curigai?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Zeus menoleh pada mereka berdua dengan tatapan tak percaya, "Kalian tidak merasakan ada yang aneh sejak tadi?" Keduanya menggeleng. "Baik. Aku tanya sekarang, saat mereka main petak umpet tadi, benar Nico yang bertugas jaga?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Iya benar. Memang anak itu yang bertugas jaga tadi,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Kurtzee menatap Zeus dengan kening berkerut dan tiba-tiba saja ia terhenyak—menyadari sesuatu, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Dan dia juga yang pertama kali menemukan surat di pohon itu!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; Zeus mengangguk. Senang karena akhirnya Kurtzee bisa mengerti maksudnya. Begitu pun dengan Ralph meski ia hanya terdiam dan mengelus jenggot halus di dagunya. "Nico juga terlihat begitu yakin bahwa Mike telah membunuh Gary," ujar Zeus menambahkan, "Padahal di surat semalam tidak ditulis Mike telah membunuh siapa. Darimana Nico tahu bahwa pemimpin geng selatan yang terbunuh? Kalian tidak memberitahunya soal surat tantangan sebelumnya, kan?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Bisa saja itu hanya kebetulan,"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt; ujar Ralph kemudian, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kita tidak bisa langsung memutuskan begitu saja. Bisa jadi ini jebakan yang dipasang lawan untuk membuat kita berpikir bahwa Nico adalah mata-mata."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Itu mungkin saja. Setidaknya, kita harus mengawasi anak itu. Besok pagi, kita bertemu lagi di sini dengan kedua anak itu. Kita luruskan masalah sebelum aku pergi menemui anggota geng selatan dengan Mike."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Kurtzee dan Ralph mengangguk. Mereka berdua berpamitan dan berjalan bergandengan meninggalkan Zeus yang masih ingin berada di sana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;i&gt;Mereka pacaran, hm?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;*******&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Pagi-pagi benar, Zeus sudah duduk kembali di batang pohon tumbang tempatnya semalam menemukan surat dari geng selatan. Menunggu kedatangan Kurtzee, Ralph, Mike serta Nico. Bola mata peraknya menatap ke langit dengan kedua tangan yang terbungkus sarung tangan wol menopang dagunya. Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Zeus Pierre memanjatkan doa pada Tuhan. Memohon keselamatan Emmy dan berharap masalah yang terjadi di Skull Alley bisa segera terselesaikan. Sungguh, ini bukan liburan yang ia harapkan. Ia mengajak Emmy karena ingin gadis itu bersenang-senang bukannya mengalami penculikan seperti sekarang. Ia marah pada dirinya sendiri. Demi apapun juga, ia harus menyelamatkan gadis itu dan takkan membiarkan seujung jari pun dari gadis itu terluka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Atau ia akan menghukum dirinya seumur hidup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Zeus,"&lt;/span&gt; suara Kurtzee memecah keheningan pagi itu. Zeus menurunkan pandangannya dan di hadapannya kini ada keempat orang yang ia tunggu, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Kau tidak tidur semalaman?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Aku tidur sebentar," ujarnya. Kurtzee dan Ralph kemudian duduk di sampingnya sementara Mike dan Nico duduk di atas tanah bersalju tepat di hadapannya. Wajah kedua bocah itu antara tegang dan takut. Mereka sudah pernah melihat Zeus marah sebelumnya dan tentu saja mereka takut jika mereka yang menjadi objek kemarahan pemuda itu sekarang. Ralph, satu-satunya perokok di tempat itu menyalakan sebatang rokok dan mengisapnya untuk menghangatkan diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Mike," Zeus menatap dalam ke arah bocah berambut pirang itu—membuat Mike menciut ketakutan, "Kau membunuh Gary?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Aku tak kenal dia,"&lt;/span&gt; ujar Mike gugup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Jawab saja. Ya atau tidak?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Tidak."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kalau begitu aku percaya padamu," ujar Zeus sambil menepuk pelan kepala Mike.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Semudah itu kau percaya bahwa dia tidak membunuh?"&lt;/span&gt; Nico menatap garang pada Zeus. Terlihat tidak terima dengan kepercayaan Zeus yang begitu besar pada Mike, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Jangan tertipu pada sikapnya yang sok alim!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Diam, Nico!"&lt;/span&gt; Ralph tiba-tiba berdiri, membanting rokoknya ke atas salju dan menarik kerah jaket Nico hingga bocah itu terangkat berdiri—Mike menggeser duduknya, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Kami sudah tahu siapa kau sebenarnya, pengkhianat!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Apa maksudmu?!"&lt;/span&gt; Nico memasang tampang menantang—tidak berusaha melepaskan diri, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Kau yang hanya orang asing tidak pantas berkata begitu padaku!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Kau mata-mata geng selatan, kan?!"&lt;/span&gt; Kurtzee ikut berdiri dan membentak Nico.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Sembarangan! Darimana kau menyimpulkan hal konyol seperti itu?! HAHAHA. Jadi kalian mengira aku ini mata-mata? Atas dasar apa? Apa buktinya? Jelaskan padaku!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Lepaskan dia, Ralph," ujar Zeus. Ralph pun melepaskan tangannya dan mendorong Nico hingga duduk kembali di tanah. Zeus ganti menatap bocah itu sekarang—tak menggubris Mike yang menunduk terus sejak tadi, "Benar, Nico. Kami mencurigaimu. Ada sesuatu yang ingin kau katakan? Pembelaan diri, mungkin?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Ada,"&lt;/span&gt; ujar Nico geram, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Aku kecewa padamu, Zeus. Kau sembarangan membuat kesimpulan."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Zeus mendengus, "Nico, Nico, Nico. Aku takkan menyimpulkan demikian jika tindak-tandukmu tidak mencurigakan."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Apa maksudmu?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Darimana kau tahu bahwa Mike membunuh pemimpin geng selatan? Di surat yang semalam tidak tertulis nama orang yang dibunuh Mike," Zeus menundukkan tubuh atasnya—bergerak maju mendekati Nico, "Hm?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Nico terdiam beberapa saat—seolah tersadar bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan yang membongkar kedoknya, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Ah, aku paham sekarang. Tak heran kalian mencurigaiku kalau begitu,"&lt;/span&gt; ujarnya kemudian, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Aku tak sengaja mendengar Kurtzee dan Ralph membicarakan soal surat tantangan tersebut sebelum kau datang, Zeus."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Pantas saja kau begitu ngotot menuduhku, Nico,"&lt;/span&gt; Mike dengan kepala tertunduk tiba-tiba mengangkat suara. Isakan samar-samar terdengar dari suaranya. Bocah berambut pirang yang dikenal dengan kelembutan hatinya itu menangis, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Supaya kau tidak dicurigai, kan?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Sudah, sudah,"&lt;/span&gt; ujar Kurtzee merangkul Mike, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Jangan menangis. Kau anak laki-laki, harus kuat dan tegar."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Nico menatap masam pada Mike yang menangis lalu kembali menatap Zeus dengan berani, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Terserah. Aku tidak bisa membela diri saat ini. Ikat saja aku kalau memang perlu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Zeus tersenyum tipis lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Nico—membisikkan sesuatu lalu menarik kembali tubuhnya. Wajahnya tetap datar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Aku hanya ingin Emmy kembali dengan selamat. Setelah itu baru kuputuskan hukuman yang pantas untukmu."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;*******&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;b&gt;East London, 12.30 p.m&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Pemuda berambut pirang platina itu berjalan menuju tempat yang disebutkan dalam surat—perempatan London Timur. Mike berjalan tepat di belakangnya, terseok-seok karena tebalnya salju membuat sepatunya seringkali tersangkut. Mereka berdua saling diam, tak satupun yang berniat untuk berbicara. Di dalam pikiran Zeus hanya ada Emmy. Ia mencemaskan keadaan gadis itu karena sepengetahuannya, geng selatan adalah geng yang tidak segan-segan melakukan kekerasan. Bahkan beberapa kali anggota mereka terlibat dalam kasus pemerkosaan. Sudah puluhan kali geng selatan sengaja berulah mencari ribut dengan geng timur yang Zeus pimpin. Setiap kali itu pula, Zeus berhasil mempertahankan kemenangan meski tak jarang ia dibantu oleh geng barat yang dipimpin oleh Ralph.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Langkahnya terhenti ketika dua orang yang ia duga adalah anggota geng selatan datang menghampiri. Mata Zeus ditutup dengan kain hitam dan kedua tangannya diikat erat ke belakang, begitu pun Mike. Mereka berdua digiring menuju tempat persembunyian rahasia geng selatan dengan sebuah mobil tua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;b&gt;10 menit kemudian&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Lepas penutup matanya,"&lt;/span&gt; ujar sebuah suara berat yang kasar disusul sebuah gerakan yang membuat kepala Zeus tertarik ke belakang. Sesaat kemudian, kain hitam yang menutup kedua matanya terlepas. Ruangan itu terang benderang, membuat Zeus mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum ia terbiasa dengan silau yang menusuk bola mata peraknya. Mike terikat di sampingnya dalam keadaan tak sadarkan diri. Mereka berada di sebuah bangunan berdinding beton yang tidak terurus. Zeus memicingkan mata—memandang lurus ke arah satu sosok tinggi besar di hadapannya. Apa yang kemudian terlihat di depan matanya membuatnya tercekat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Gary berdiri tegak di hadapannya. Memegang sebatang kayu pemukul di tangan kanannya. Gary. Dalam keadaan hidup. Tanpa cacat cela.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kau," desis Zeus, "Masih hidup rupanya?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Kecewa, hm?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Gary memain-mainkan kayu pemukul itu di kedua tangannya. Menatap pongah pada Zeus yang terikat di lantai. Senyum miring terlengkung di wajahnya yang penuh dengan bekas luka. Ia kemudian berjongkok di hadapan Zeus. "Kau kecewa melihatku hidup?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Dimana Emmy?" ujar Zeus. Kedua bola mata peraknya menatap tajam pada Gary. Amarah bergemuruh bagaikan gunung merapi yang siap meledak di dadanya. Tak mengira bahwa Gary akan menipunya sedemikian rupa dengan cara yang pengecut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Ah, mengkhawatirkan kekasih rupanya,"&lt;/span&gt; Gary bangkit berdiri, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Zeus Pierre yang tersohor itu pada akhirnya dikalahkan oleh cinta. HAHAHA."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"DIMANA EMMY?!! BRENGSEK!!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;b&gt;BUAGGHHHH&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Kayu pemukul itu terayun menghantam lengan kiri Zeus dengan keras, membuat pemuda itu rebah ke lantai. Ikatan tangannya sangat erat membuat pergelangan tangannya perih saat berusaha melepaskan diri. Zeus mengerang kesakitan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Pengecut kau," desisnya, "Dimana Emmy?!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;b&gt;DUAGGG&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Sebuah tendangan kali ini bersarang di perutnya—tepat pada bekas lukanya yang belum pulih. Ia merintih. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat Zeus gemetar. Tawa menyebalkan terdengar memuakkan. Gary melangkah mendekat dan menginjak kepala Zeus yang masih rebah di lantai berdebu. "Argghhh."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Bagaimana rasanya, Zeus?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Senang," ujar Zeus terbata. Seringai tipis terlukis di wajahnya—merendahkan Gary, "Meski tubuhku sedang terluka, kau tetap takkan mampu melawanku jika aku tidak terikat seperti ini. Kau cerdik juga, Gary."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Zeus berharap Gary termakan pancingannya. Berharap kepengecutan lawannya tidak separah yang ia lihat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Lepaskan dia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Umpan berhasil. Seorang anak buah Gary melepaskan ikatan tangan Zeus dengan pisau lipat. Zeus menggerak-gerakkan tangannya—melemaskan ototnya yang kaku karena ikatan yang kencang. Ia kemudian bangkit berdiri perlahan-lahan, menahan sakit yang menggigiti tubuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Apa yang kau mau dariku, Gary?"—&lt;i&gt;sehingga kau nekat menculik Emmy dan berbohong soal kematianmu&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Aku ingin kau mati, Zeus. Sederhana, bukan?"&lt;/span&gt; Gary menjentikkan jari, memberi kode pada anak buahnya yang kemudian membuka sebuah pintu di belakang Gary. Tak lama kemudian, Emmy diseret keluar. Zeus lega melihat gadis itu tidak diperlakukan dengan buruk, bahkan sepertinya Gary terlalu menyepelekan Emmy dengan tidak mengikatnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Zeus!"&lt;/span&gt; ujar Emmy. Gadis itu hendak berlari ke arahnya namun ditahan oleh anak buah Gary.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Lepaskan dia, Gary. Aku yang kau inginkan, bukan dia!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Dia akan kulepaskan setelah kupastikan kau mati," ujar Gary melangkah maju, "Aku perlu tawanan untuk membuatmu lemah."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Banci!"&lt;/span&gt; teriak Emmy tiba-tiba. Gadis itu berlari mendekati Gary lalu berjongkok dan mengayunkan kakinya menjatuhkan Gary. Zeus dengan sigap merebut kayu pemukul yang terlepas dari genggaman Gary. Keadaan memihak pada Zeus sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Zeus, kau tak apa-apa?"&lt;/span&gt; tanya Emmy panik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;"Tenang saja. Kau sendiri?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Aku baik-baik saja."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Kenapa kau bisa sampai diculik?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"A...," Wajah Emmy memerah sekilas, "Aku ditawari es krim."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Oh. Okay."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Zeus berdiri di depan Emmy—melindungi gadis itu ketika Gary kembali bangkit berdiri dan mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya. Pemimpin geng selatan itu rupanya serius soal keinginannya membunuh Zeus. Beberapa anak buah Gary tiba-tiba bergerak mengepung Zeus dan Emmy serta mendorong Mike yang telah sadar hingga menabrak Zeus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Pengecut tetap saja pengecut," gumam Zeus muak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Bisa apa kau sekarang, eh?"&lt;/span&gt; ujar Gary dengan nada congkak, merasa kemenangan telah ada di pihaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Lepaskan kedua anak ini, Gary. Mereka tak ada hubungannya."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Aku akan tetap disini bersamamu, Zeus,"&lt;/span&gt; ujar Emmy cepat. Gadis itu tidak ingin ketinggalan menghajar para gerombolan pengecut geng selatan yang telah menculiknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Aku juga,"&lt;/span&gt; sahut Mike, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"akan membantumu, Zeus."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Zeus pun bungkam. Salut dengan keberanian kedua orang yang sekarang berdiri membelakanginya. Seandainya ia diperbolehkan menggunakan sihir di luar sekolah, semua ini akan selesai dengan cepat—secepat satu ayunan tongkat sihirnya. Zeus menggenggam erat kayu pemukul di tangan kanannya, memasang kuda-kuda dan menatap Gary si pengecut. Ia tak takut dengan pisau jika itu dipegang oleh Gary. Yang ia takuti adalah Emmy terluka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Emmy dan Mike sudah mulai memukul dan menendang, melawan para anak buah Gary yang berusaha memisahkan mereka dari Zeus. Emmy dipegangi oleh dua orang anak buah Gary, gadis itu meronta namun kekuatannya tidak sepadan dengan lawannya. Perhatian Zeus sempat teralih ketika itu terjadi dan Gary memanfaatkannya. Sebuah sabetan cepat diarahkan ke tubuh Zeus dan akan menjadi luka yang fatal apabila Zeus terlambat menghindar. Bagian depan mantelnya terpotong melintang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Hampir saja, Gary," ujar Zeus mengejek, "Tapi masih kurang cepat."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Sabetan demi sabetan kalap pun diayunkan oleh Gary dan dengan cepat Zeus berhasil menghindar meski harus menahan sakit yang teramat pada tubuhnya. Andai saja tubuhnya sedang dalam kondisi fit, ia akan lebih menikmati perkelahian satu lawan satu tersebut. Zeus terkekeh. Ia belum kehabisan stamina sementara Gary terlihat mulai kehabisan tenaga. Satu ayunan keras kayu pemukul yang dipegangnya pun menghantam bahu Gary—membuat pemuda itu terhuyung. Gary mengacungkan pisaunya ke atas dan sekitar lima orang anak buahnya pun bergerak maju dengan cepat memegangi Zeus. Salah satunya terpelanting ke belakang terkena tendangan si berandal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Takut kalah, Gary?" ujar Zeus ketika kayu pemukul di tangannya direbut oleh Gary.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Diam. Aku tak peduli meski aku memakai cara licik untuk menghabisimu,"&lt;/span&gt; Gary mengangkat pisaunya—menyeringai dan ketika tangannya bergerak untuk menghujamkan pisau tersebut ke perut Zeus; diiringi oleh teriakan Emmy—pintu bangunan itu terbuka lebar dengan sangat keras. Perhatian semua orang yang ada di ruangan tersebut teralih ke arah pintu. Ralph masuk ke ruangan tersebut disusul oleh Kurtzee, Nico dan anak-anak Skull Alley yang lain. Zeus yang melihat kesempatan datang langsung menendang tangan Gary sehingga pisau dalam genggamannya terlempar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Dengan cepat, situasi berbalik. Gary dan seluruh anak buahnya kini terkapar dengan tangan terikat di sudut ruangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Emmy selamat. Mike selamat. Dirinya pun selamat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Zeus melangkah mendekati Gary dan ia berjongkok di hadapannya. Persis seperti yang dilakukan oleh Gary sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Polisi sebentar lagi datang," ujar Zeus sambil tersenyum, "Kuharap setelah ini kau jera, Gary."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Tak diduga oleh Zeus, Gary tersenyum. Pandangan matanya bukan mengarah pada dirinya melainkan pada sosok yang sepertinya tengah bergerak mendekat dari belakangnya. Tawa Gary perlahan terdengar dan ketika Zeus menolehkan kepalanya; ia sudah terlalu terlambat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Sensasi dingin logam terasa menembus punggungnya disertai teriakan-teriakan histeris dari Emmy dan anggota gengnya. Mike menusukkan pisau Gary dalam-dalam dari belakang. Zeus roboh disusul oleh tawa Gary. Ralph dan Nico bergegas maju dan mengikat Mike. Tak seorang pun mengira bahwa Mike akan melakukan hal tersebut. Mike pengkhianatnya. Emmy berlari dan berlutut di samping Zeus, tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada pisau yang masih tertancap di punggung pemuda itu. Gadis itu memegangi tubuh Zeus yang mengejang kesakitan—tak berani menggerakannya. Anak-anak Skull Alley yang lain berdiri di luar pintu, bersiap untuk kabur apabila polisi telah datang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Mike itu adikku, Zeus. Kau tak menyangkanya, bukan?"&lt;/span&gt; ujar Gary kemudian—membuat Zeus terperangah, &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Aku juga baru mengetahuinya dua tahun lalu ketika kau membuatku masuk penjara remaja. Ibuku yang sudah bercerai dengan ayahku datang menjengukku di penjara bersama dengan Mike. Dengan uang tabungannya yang tersisa, ia menebusku keluar. Dan tahukah kau apa yang terjadi keesokan harinya?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Zeus hanya diam. Menunggu Gary melanjutkan kata-katanya. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Ibuku gantung diri karena ketakutan dengan ancaman penagih hutang,"&lt;/span&gt; Mike melanjutkan. Ekspresi bocah itu sama sekali berbeda dengan Mike yang selama ini dikenal oleh Zeus. &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Semuanya karena kau yang membuat Gary masuk penjara."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;"Konyol," ujar Zeus sebelum ia kehilangan kesadaran karena banyaknya darah yang keluar dari luka tusukan di punggungnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Omong kosong!"&lt;/span&gt; Ralph menendang perut Gary dan Mike bergantian lalu ia berlutut untuk mengangkat Zeus yang terluka. &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Baru kali ini aku mendengar alasan sebodoh itu untuk membalas dendam!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#999999;"&gt;"Ayo pergi!"&lt;/span&gt; ujar Kurtzee memberikan perintah pada seluruh anak buahnya. Gadis itu meraih tangan Emmy dan mereka pun keluar dari bangunan itu. Kembali ke Skull Alley.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;to be continued (in RP)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-2330044890898538403?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/2330044890898538403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/04/skull-alley-ff.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/2330044890898538403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/2330044890898538403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/04/skull-alley-ff.html' title='Skull Alley (FF)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-9101947619372116073</id><published>2010-03-29T08:01:00.000-07:00</published><updated>2010-03-29T08:43:28.489-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fan Fiction'/><title type='text'>Untitled</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;France, December 1973&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Debussy's Residence&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Anakmu itu sakit lagi, hm?" Sebuah pertanyaan bernada sinikal meluncur dari bibir seorang pria muda berusia awal 30 puluhan ketika ia mengintip ke dalam kamar bayi dan melihat istrinya yang cantik tengah sibuk menimang-nimang seorang bayi berusia satu tahun di pangkuannya. Bayi itu terus menangis karena demam tinggi mengganggu ketenangannya. Lucretia, sang istri, mengangguk lemah dengan sebuah senyum tipis melengkung di wajahnya yang pucat—jelas terlihat bahwa wanita muda itu kelelahan dan kurang tidur. Bayinya sering sekali jatuh sakit sejak dilahirkan. Pada tengah malam kerap kali terbangun dan menangis. Lucretia tidak ingin pelayan yang mengurusi bayinya, ia berkeras ingin merawat putranya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sebaiknya nama Zeus itu diganti saja, Lucretia. Tidak cocok untuk anak penyakitan seperti dia," ujar pria muda itu lagi seraya melangkah masuk ke dalam kamar dan berdiri di samping Lucretia. Wajahnya datar tanpa ekspresi ketika memandang putra pertamanya. Jelas kecewa karena memiliki seorang putra dengan tubuh lemah. Lucretia menoleh menatap suaminya—tidak senang dengan cara pria muda itu berkata-kata. "Tidak, Christoff. Aku yakin nama itu akan membawa berkah untuk anak ini," Lucretia membelai pipi putranya dengan penuh kasih sayang. Buah cintanya dengan Christoff Johann Debussy.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pahit bila mengingat apa yang terjadi pada Lucretia ketika Christoff meminangnya. Ia dianggap sebagai pengkhianat oleh ayah kandungnya sendiri. Ibu dan kakak kandungnya, Boris Elsveta bahkan tidak berkata apa-apa untuk membelanya. Sebuah resiko yang memang harus ditanggungnya karena memilih untuk menikah dengan seorang pelahap maut. Ia diusir dari Kastil Elsveta dan hubungan keluarganya diputuskan begitu saja. Lucretia memandang wajah bayinya yang kini tertidur lelap dalam buaiannya, mengira-ngira apakah kedua orangtuanya akan memaafkan dirinya apabila melihat cucu pertama mereka itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Dia sudah akan mati bahkan sebelum sempat menerima berkah dari namanya sendiri."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Christoff! Jangan bicara seperti itu tentang putramu sendiri! Demi Merlin, apa yang kau pikirkan? Tidakkah kau mencintai anak ini barang sedikit saja?" Lucretia menatap mata suaminya dengan tatapan nanar. Ia tak menyangka bahwa suaminya akan begitu dingin terhadap putranya sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Christoff Johann Debussy, seorang pria muda tampan di usianya yang ke-30. Memiliki rambut hitam legam dan bola mata sebiru langit. Ia seorang pengikut setia Pangeran Kegelapan bersama dengan seluruh keluarga besar Debussy menjadi pelahap maut. Meskipun para pelahap maut bergerak di balik layar, ada saja penyihir yang anti pada Pangeran Kegelapan yang tahu mengenai keterlibatan keluarga Debussy sebagai pelahap maut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Aku hanya mengatakan kenyataan yang kulihat, Lucretia," jawab Christoff dengan senyum dingin. Entah apa yang telah membuat seorang Lucretia begitu mencintai Christoff, wanita itu pun kadang mempertanyakan hal tersebut. "Biar pelayan yang mengurus anak itu karena aku membutuhkanmu di kamar," ujar Christoff sambil berjalan meninggalkan kamar bayi tersebut, "Sekarang." Perintah. Bukan permintaan atau ajakan romantis. Perintah yang harus dikerjakan sesegera mungkin sebelum pria muda itu meledak dan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan Lucretia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-9101947619372116073?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/9101947619372116073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/03/untitled.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/9101947619372116073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/9101947619372116073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/03/untitled.html' title='Untitled'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-3321488113848679533</id><published>2010-01-10T01:22:00.000-08:00</published><updated>2010-01-10T01:25:36.590-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Boathouse'/><title type='text'>Boathouse</title><content type='html'>Kadang manusia berpikir sempit, rasis, cenderung menggolong-golongkan dan menganggap golongannya sendiri sebagai yang terbaik. Dalam hal ini mari kita persempit menjadi golongan muggle dan penyihir. Banyak dari mereka yang saling membenci dengan alasan yang dibuat-buat, padahal sesungguhnya mereka adalah sama-sama manusia yang terikat pada benang merah takdir yang ditetapkan oleh sang pencipta. Baik muggle maupun penyihir, mereka sama-sama merupakan pion yang bermain dalam skenario kehidupan buatanNya dan bahkan tak jarang manusia dipermainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus Pierre Debussy, nama asli seorang anak laki-laki tiga belas tahun yang kini tengah menyusuri tangga berputar milik Hogwarts, turun ke bawah entah kemanapun tangga-tangga itu akan membawanya. Kebosanan mendorongnya untuk menjelajahi kastil Hogwarts yang penuh misteri bagi anak laki-laki hiperaktif itu dan dia memilih untuk melakukannya sendirian kali ini. Dia telah memilih untuk membuang nama Debussy, warisan dari seorang ayah brengsek, &lt;em&gt;surname&lt;/em&gt; sebuah keluarga pelahap maut di Perancis yang telah menjadi pion penghancur dalam kehidupannya. Fakta yang akan dia kubur dalam-dalam. Sayangnya, betapapun kerasnya dia menyangkal, darah sang pelahap maut mengalir dalam tubuhnya. Pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih setelah kejatuhan Pangeran Kegelapan, nama Debussy hanya akan membuatnya dilempari tatapan sinis oleh mereka yang menentang keberadaan para pelahap maut. Beruntunglah dia bersama Lucretia dan adiknya, Candy, memilih tinggal di lingkungan muggle setelah Christoff ditangkap dan dijebloskan ke Azkaban. Lima tahun hidup sebagai berandalan tanpa bersentuhan dengan sihir demi menyenangkan Lucretia. Kini, dia adalah Zeus Pierre. Zeus Pierre yang tak mau lagi menuruti keinginan ibunya untuk hidup sebagai muggle. Dia, memilih untuk menjalani kehidupannya sebagai penyihir dan membuktikan pada semua orang bahwa Zeus Pierre bukanlah penerus Debussy. Takkan pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berjalan menyusuri koridor demi koridor. Melempar kedipan sekilas pada lukisan-lukisan genit yang memandanginya dan menggosipinya. Bertegur sapa dengan para hantu transparan berkilau yang ditemuinya. Kini dia berada di sebuah halaman berumput yang memiliki dua pintu masuk utama. Satu mengarah ke &lt;em&gt;Viaduct&lt;/em&gt; dan yang lain menuju ke &lt;em&gt;Boathouse&lt;/em&gt;. Zeus memilih menuju &lt;em&gt;Boathouse&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu merapatkan jubahnya ketika dingin angin musim gugur bersentuhan dengan kulit lehernya, membuatnya menggigil sejenak. Ditengadahkan kepalanya menatap langit yang mulai berubah warna menjadi kelabu—serupa dengan iris kembarnya. Mendung. Anak laki-laki itu melanjutkan langkahnya ketika rintik-rintik hujan mulai berjatuhan membasahi kepalanya lalu tubuhnya. Dia berlari masuk ke dalam &lt;em&gt;boathouse&lt;/em&gt; dan berteduh di dalam. Hujan deras sukses mengganggu penjelajahannya. Zeus mendengus. Dia bersandar pada dinding batu sambil menyisir rambutnya yang basah dengan jemari. Bau asap rokok samar-samar tercium olehnya bercampur dengan bau hujan. Dan ketika dia memperhatikan lebih teliti—tak jauh darinya—seorang perempuan yang terlihat lebih tua darinya telah ada disana lebih dulu, duduk bersandar di dinding batu. Perempuan itu mematikan rokoknya dan melemparkannya ke air. Anak laki-laki itu berjalan menghampiri perempuan itu. Berdua lebih baik daripada sendiri, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siang, Senior. Kuharap Anda tidak keberatan bila aku duduk disini," ujarnya menyapa. Dia pun menghempaskan bokongnya di samping perempuan itu, turut bersandar di dinding yang sama. "Zeus. Gryffindor kelas 1."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hidupnya dipermainkan oleh sang takdir. Pada usia tiga tahun, dia dibawa ke Rusia untuk tinggal dan dibesarkan di Kastil Elsveta—tanpa orangtua kandungnya. Wajar bila sampai hari ini pun, orangtua yang benar-benar ada dalam hatinya adalah Boris dan Teresa—orangtua Nabelle. Lima tahun. Lima tahun dirinya dibesarkan bersama Nabelle dengan kasih sayang yang setara. Dididik dan diayomi tentang bagaimana seharusnya seorang bangsawan bersikap. Bahkan mereka diajarkan ilmu berpedang dan pengenalan dasar tentang sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun yang patut disyukuri oleh seorang Zeus Pierre, karena setelah itu hidupnya tak sama lagi sejak Christoff datang menyerang Kastil Elsveta bersama pelahap maut lainnya. Sebuah tragedi yang tak pernah bisa dia lupakan yang membuatnya beberapa hari ini merasa iri pada adik sepupunya yang sama sekali tak ingat tentang kejadian pahit tersebut. Yeah, Nabelle tampaknya kehilangan ingatannya entah karena tekanan psikologis atau karena sihir. Gadis kecilnya yang pemberani sekaligus rapuh. Zeus menengadahkan kepalanya menatap sang langit yang sesekali bergemuruh. Kilat sesekali terlihat menyambar. Sedang apa Belle sekarang? Apakah dia ada di tempat yang terlindungi dari hujan? Setahunya, gadis kecil itu takut pada suara petir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus melipat kakinya—bersila lalu merapatkan jubahnya yang basah, berusaha sedikit menghangatkan tubuhnya yang mulai gemetar. Dia mengalihkan perhatiannya kembali pada perempuan yang ada di sampingnya sekarang. Sosok yang sedikit mengingatkannya pada Lucretia, ibu kandungnya. Beliau juga perokok, sama seperti perempuan itu. Gerak-geriknya pun dewasa dan anggun. Ah, mungkin nanti malam, dia akan menulis surat pada Lucretia. Tak peduli akan dibaca atau tidak. Persetan dengan semua itu. Lucretia memang bersikap seolah membenci dirinya, tapi belakangan ini dirinya menyadari bahwa diam-diam Lucretia tetap memperhatikan segala yang dia butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Senior...? Panggilan macam apa itu, nak? Lihat dimana kau berada, ini negara egaliter..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu mendengus pelan, tersenyum pada sosok perempuan di sampingnya. Tipe senior yang menjunjung kesetaraan rupanya. Rasanya, dia mulai menyukai perempuan itu. Peraturan atau senioritas, jelas bukan hal yang menarik bagi si berandal. Perempuan di sampingnya itu jelas—menarik dengan cara berpikir egaliternya itu. Lebih nyaman berbincang dengan seseorang yang seperti dia ketimbang senior-senior lain yang gila akan kehormatan. Lalu, kalimat keberatan kembali meluncur dari bibir perempuan itu pada seorang anak perempuan lain yang kini bergabung. Basah kuyup meski tak separah dirinya. Surai-surai peraknya mulai mengering, meski jubah dan seragamnya masih melekat basah di kulitnya. Memberikan sensasi dingin yang cukup mengganggu. &lt;em&gt;Brr—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Kita belum kenal, kurasa. Tapi apa aku boleh berada di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I know who you are, Momsen..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pierre, right? Momsen. Matahari Momsen."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Sure&lt;/em&gt;. Yeah, I'm Zeus Pierre. Ini tempat umum, Nona Momsen. &lt;em&gt;Please take a seat.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;&lt;br /&gt;"Dan jangan memanggilku dengan embel-embel begitu, kalian berdua..." perempuan itu memiringkan kepala, tersenyum santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian bersikap seakan aku yang memiliki tempat ini. Kita sama-sama murid di sini, aku tidak tahu darimana kalian belajar bersikap seakan kalian lebih inferior begitu... Tapi, sayang, jangan dibiasakan, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi seharusnya kami memanggilmu apa agar keinferioritasan itu naik pangkat sedikit? Aku takut penghilangan apa yang kau sebut dengan 'embel-embel' itu justru membuat kami dikira kurang ajar."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;She's right, what do you want me to call you, Miss?&lt;/em&gt;" Anak laki-laki itu balas tersenyum santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;At least, tell me your name.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Perempuan, perempuan, perempuan. Kalau mau menilik kembali kehidupannya, sepertinya memang Zeus bertumbuh dikelilingi oleh perempuan. Laki-laki yang pernah hadir dalam hidupnya dan memberi kesan melekat dalam dirinya bisa dihitung dengan jari—Boris Elsveta, Grandpa Elsveta dan Christoff. Boris, seorang ayah teladan, seorang auror yang bijaksana dan pemberani. Seorang pria yang sangat dia hormati sejak dia kecil. Grandpa Elsveta, yang mendidiknya dengan keras untuk menjadi seorang penyihir muda yang tidak membeda-bedakan status darah. Pria tua yang menggemblengnya menjadi seorang laki-laki yang menghormati kaum hawa. Lalu, Christoff. Tak ada yang bisa diceritakan tentang pria yang pahitnya adalah ayah kandungnya sendiri. Tak ada hal baik yang pernah dia dapatkan dari pria itu kecuali bahwa berkat benih dari pria brengsek itulah dirinya lahir ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun sejak Christoff ditangkap dan dijebloskan ke Azkaban, dia hidup bersama dua orang perempuan. Lucretia, ibu kandung yang nyaris tak dikenalnya dan juga yang membenci dirinya. Kemiripan parasnya dengan Boris—almarhum kakak Lucretia—membuat dirinya semakin dibenci. Candy, adik yang berbeda empat tahun dengannya, tak bisa dibilang akrab sejak gadis kecil itu mulai bisa memahami bahwa Lucretia membenci dirinya. Entah gadis kecil itu hanya meniru sikap Lucretia atau memang benar-benar membenci dia. Skull Alley yang jadi tempat pelariannya karena rumah bukan lagi tempat yang nyaman bagi seorang Zeus Pierre. Tempat &lt;em&gt;nongkrong&lt;/em&gt; dan bersenang-senang bersama teman-teman berandal ciliknya, membuat keonaran dimana-dimana, berlaku iseng dan senantiasa bersenang-senang. Memimpin geng timur bersama dengan Kurtzee, sahabat muggle-nya yang juga seorang perempuan. Meski tak seperti perempuan karena perilaku dan cara bicaranya yang kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini di Hogwarts pun, dia lebih banyak dihadapkan dengan perempuan. Nabelle, adik sepupu yang menjadi salah satu alasannya meninggalkan rumah dan membantah keinginan Lucretia untuk masuk ke Hogwarts. Adik sepupu yang telah melupakan semua kenangan tentang dirinya. Seorang gadis kecil yang sejak dulu telah menjadi sosok paling istimewa di hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yeah,&lt;/em&gt; perempuan, dengan beragam sikap dan cara berpikir yang seringkali tak terduga olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatiannya kembali teralih pada dua sosok perempuan yang kini bersama dengannya berteduh di dermaga. Membahas senioritas, egalitas dan hal-hal membosankan lainnya. Persetan dengan aturan maupun teori. Kebebasanlah yang membuat seorang Zeus tetap bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"You may call me Proust, or Agrippina, the last one I may let you call me by that name, I may not..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memanggil dengan embel-embel juga tidak lantas membuatmu lebih beradab. Kau tidak dengar kemarin di pesta itu mereka memanggil-manggil Dawne dengan sebutan 'senior',"&lt;/span&gt; Agrippina melirik padanya. Memberikan kesan bahwa perempuan itu tidak menyukai perbuatan yang telah dilakukan Dawne saat pesta. Padahal menurut Zeus, keberadaan seseorang seperti Dawne itu lumayan membuat dunia yang membosankan ini sedikit lebih meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Dan tetap bertingkah kurang ajar di depan guru. Lebih senior mana murid cupat dengan gurunya? Kau panggil aku dengan sebutan Prefek sambil mengataiku peliharaan guru dalam hati, itu sama saja bohong."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Well,&lt;/em&gt; pada bagian itu, aku setuju sepenuhnya. "&lt;em&gt;I agree&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;&lt;em&gt;Then, I won't call you senior or prefek anymore&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;, Agrippina. Jika kau tidak keberatan, aku lebih suka menyebut nama depanmu. Terdengar lebih manis." Dia bukan sedang menggoda, hanya bersikap jujur dengan apa yang dia rasakan. Mengungkapkan apa yang dia inginkan. Tanpa paksaan, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"....Kita tinggal di Hogwarts, di dunia sihir. Saatnya kau melepaskan ikatan dengan dunia lamamu dan masuk ke dunia ini. Di sini, sihirmu membuatmu terhormat. Kita menghormati yang sihirnya paling kuat..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum rimba, eh? Yang kuat yang menang. Yang kuat yang berkuasa. Tak jauh beda dengan kehidupannya di Skull Alley. Penuh dengan persaingan meski di luar terlihat menyenangkan. Baginya, sihir kuat berguna untuk melindungi orang-orang yang dia kasihi dari orang-orang brengsek seperti Christoff dan tentu saja, Pangeran Kegelapan itu sendiri. Anak laki-laki itu tersenyum miris, "Menghormati yang sihirnya paling kuat... entah kenapa, kedengarannya lebih seperti ungkapan rasa takut ketimbang rasa hormat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah di mana saja sama? Takut pada yang paling kuat lantas menjilat mereka dengan penghormatan yang membuai?                     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"What is in a name...?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nothing. Just something to call someone.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"It is true. I was one of them. I was a part of them, muggles... I'm a halfblood. Justru karena itu aku lebih mengerti keajaiban dunia ini, karena itu sihir menjadi lebih berharga bagiku. Bukan sesuatu yang tidak kusyukuri, atau sesuatu yang begitu asing sampai kubenci..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;So what if you are a part of muggles?&lt;/em&gt; Muggle bukanlah komunitas yang harus dibenci hanya karena pada masa lalu beberapa dari mereka menyerang kaum penyihir dan membakar mereka dengan alasan penyihir berbahaya. Banyak muggle yang menerima keberadaan para penyihir dan bersedia merahasiakannya. Banyak muggle yang jauh lebih menyenangkan ketimbang beberapa penyihir yang dia temui di Hogwarts. Pada intinya, muggle dan penyihir adalah sama-sama manusia yang tidak memiliki kesempurnaan yang absolut. Menjadi seorang penyihir, seperti kata Agrippina, adalah sesuatu yang patut disyukuri. Mereka, para penyihir, diberikan sebuah kekuatan untuk melindungi diri sendiri dan juga orang yang mereka kasihi. Dia, Zeus Pierre, juga menghargai berkah yang diterimanya sebagai penyihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agrippina mematikan sigaretnya dan mendudukan diri di sebelah Zeus dan Momsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"See here, Pierre... Kenapa kau melihat kekuatan untuk ditakuti? Yang kau harus takuti adalah tujuannya... Tapi baik tidaknya itu pasti relatif, jadi relatif pula rasa takut dan hormatnya. Yang kalian ingin itu apa? Rasa hormat dari cinta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai sejauh apa cinta itu sampai dikhianati? Kau lebih mudah membunuh dan mengkhianati orang yang kau cintai ketimbang orang yang kau takuti. Itu sifat dasar manusia mau tidak mau kau akui. Alasan apa pun yang kuberikan, jawaban apa pun, tidak akan bisa pasti. Sebuah lingkaran tidak memiliki awal maupun akhir."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya terdiam dan mendengarkan ketika dua entitas hawa di dekatnya berbincang, meresponi pernyataannya tadi. Dia tidak sedang membahas tentang senior-senior mereka di Hogwarts. Persetan dengan mereka yang gila hormat. Bukankah Agrippina sendiri berkata bahwa senior sebaiknya tidak membuat mereka merasa inferior? Bahwa Prefek, apalagi Ketua Murid, adalah peliharaan guru. Berarti tak ada yang menjamin bahwa Ketua Murid mereka itu kuat atau tidak. Statusnya sama. Murid. Masih belajar. Hanya saja, pengalaman lebih banyak. Bukan berarti dirinya adalah seorang pembangkang tulen. Dia tahu kapan harus bertingkah sopan dan pada siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak peduli bila Tequilla dilempari pai oleh murid-murid yang lain. Aku tak kenal siapa dia dan tak tahu bagaimana kelakuannya selama ini sehingga tak layak mendapat rasa hormat yang seharusnya dia terima," ujarnya menanggapi pertanyaan Momsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;And, No. I didn't say that I'm scared or something...&lt;/em&gt; itu hanya sebuah impresi yang kuterima dari caramu berbicara tadi, Agrippina. Tentang menghormati mereka yang sihirnya lebih kuat. Tapi, kau benar bahwa yang harus ditakuti adalah tujuan sebuah sihir digunakan," rahangnya mengeras, "Aku menghormati mereka yang memang layak dihormati. Yang menggunakan sihir untuk melindungi banyak orang. Tapi, aku mengutuk mereka yang mempermainkan sihir untuk menghancurkan hidup orang lain, mereka yang menyalahgunakan sihir terlarang semata-mata untuk mendapatkan kekuasaan dan bersenang-senang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Christoff, maksudmu?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berandal itu masih ingat betapa mudahnya seorang penyihir membunuh penyihir lainnya. Hanya dengan sebuah rapalan kutukan kematian dan &lt;big&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;BAM&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/big&gt;, berakhir sudah hidup seseorang yang menjadi target rapalan mantra tersebut. Dia sendiri pernah merasakan kutukan &lt;em&gt;Crucio&lt;/em&gt; diarahkan pada tubuhnya. Kutukan yang nyaris membuat dirinya berharap untuk mati daripada lebih lama tersiksa dengan rasa sakit yang ditimbulkan oleh mantra tersebut. Dan melihat bagaimana kutukan &lt;em&gt;Imperio&lt;/em&gt;yang diluncurkan Christoff bereaksi pada Nabelle. Bocah berandal itu mendengus. Benci jika harus mengingat masa lalu yang menyakitkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ekor matanya dia melihat seorang bocah laki-laki datang dan menyapa mereka satu persatu. Berceloteh dan sibuk sendiri mengomentari kilat. Lucu. Khas anak sebelas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Yeah, Kincaid. I'm Pierre.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Oh ya, kalian lagi ngobrol? Ayo lanjut saja. Jangan membiarkanku menghentikan kalian. Go on.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berandal itu menunduk. Mencoba mengacuhkan keberadaan Kincaid disana. Kembali mengingat rentetan peristiwa mengerikan pada masa lalunya—dimana rapalan mantra kutukan ditembakkan, tanpa ada seorang pun sempat menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin sebenarnya, penyihir juga butuh latihan ketangkasan untuk menghindari rapalan mantra, eh?" Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Bocah itu tersenyum miris.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-3321488113848679533?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/3321488113848679533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/01/boathouse.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/3321488113848679533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/3321488113848679533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/01/boathouse.html' title='Boathouse'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-4459027211809680906</id><published>2010-01-01T20:09:00.000-08:00</published><updated>2010-01-10T01:36:08.592-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Danau 1985'/><title type='text'>She's a Pedophilia Virus</title><content type='html'>Timeline : Sore hari sekitar jam 4. Dua hari setelah PAT.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu cuaca terbilang cerah khas cuaca musim panas. Matahari masih berjaya di langit meski teriknya sudah tak terlalu membakar di kulit—hanya memberikan kilau indah di atas permukaan danau hitam. Seorang bocah laki-laki bersurai pirang platina nampak sedang berbaring sendirian di hamparan hijau tepat di sisi danau. Lengan kirinya diletakkan di bawah kepala sementara lengan kanannya yang diperban tergeletak merentang. Permata peraknya sesekali menatap ke langit, memperhatikan pergerakan awan-awan putih yang santai. Terlalu santai bagi seorang bocah laki-laki hiperaktif seperti dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah laki-laki itu teringat kembali pada teman-teman berandal ciliknya di Skull Alley. Tak dapat disangkal bahwa dia merindukan keramaian dan kegilaan yang hampir setiap hari terjadi di sana. Padahal dia baru meninggalkan tempat itu sekitar dua minggu tapi rasanya seperti sudah sangat lama. Sesungguhnya dia ingin menulis surat pada mereka semua melalui Bobo, burung hantu elangnya. Tapi dia sedikit takut bila Bobo sampai dengan selamat di sana, burung hantu itu takkan kembali lagi karena ditangkap dan dijadikan santapan oleh Kurtzee. &lt;em&gt;Haha, just kidding&lt;/em&gt;. Alasan sesungguhnya adalah dia ragu. Mengirimkan surat melalui burung hantu bisa berarti bahwa dia mengatakan pada para berandal cilik di Skull Alley bahwa dia adalah seorang penyihir. Dan itu rasanya bukan hal yang bijaksana karena dia tak yakin bagaimana pendapat teman-teman muggle-nya itu tentang penyihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Menghela napas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemari kanannya yang bebas kini menggenggam sebuah batu berukuran sedang, pas dalam genggamannya. Bocah itu kemudian mengangkat tubuhnya—duduk dan melemparkan batu tersebut dengan kencang. Membuat luka di lengannya terasa sedikit nyeri. Batu itu memantul beberapa kali di atas permukaan air sebelum akhirnya tenggelam ke dasar danau. Membentur seekor gurita raksasa, mungkin. Dia tahu bahwa perasaan homesick-nya itu hanya akan berlangsung sementara. Dia sendiri yang memutuskan akan menjadi penyihir hebat untuk melindungi orang-orang yang dia sayangi. Lucretia, Candy dan—Baby Belle. Dia sudah berjanji pada Belle bahwa dia akan selalu menjadi pelindungnya. Akan selalu ada di samping adik sepupunya itu kapanpun dia dibutuhkan. &lt;em&gt;Sedang apa gadis kecil itu sekarang?&lt;/em&gt; Biasanya jam segini, Belle sering duduk bersandar di pohon yang paling dekat dengan sisi danau untuk bermain gitar dan bernyanyi. &lt;em&gt;Kangen.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal adik, benaknya kini teringat pada satu sosok mungil yang dikenalnya di Leaky Cauldron. Gadis mungil sebelas tahun yang selalu membawa boneka beruang bernama Tuan Bubu dalam pelukannya. Gadis mungil itu tak terlihat seperti seorang anak berusia sebelas tahun di matanya. Apalagi caranya bicara yang terlihat seperti balita. &lt;em&gt;Yeah&lt;/em&gt;, gadis mungil itu selalu membuat Zeus terlihat seperti seorang om-om pedofil karena gemas setengah mati ingin mencubit pipi ataupun memeluknya. &lt;em&gt;She looks like a baby, y'know!&lt;/em&gt; Memang bukan berarti Zeus naksir pada gadis mungil itu, tapi lebih kepada ingin menjadikan gadis mungil itu sebagai adiknya. Dia ingat, di depan Calnera, dia selalu berbicara seperti bicara pada balita, bukan pada anak sebelas tahun. Bahkan dia menyebut dirinya sendiri dengan sebutan kakak. Kalau salah satu penghuni Skull Alley melihat kelakuannya itu, dia pasti akan ditertawakan habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada cara untuk menahan rasa gemas dan &lt;em&gt;geregetan&lt;/em&gt; jika berada dekat-dekat gadis mungil penyebar virus pedofil itu? Jika ada, tolong beritahu Zeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;Jika ada kesempatan, aku akan memperbaiki sikap di depan Calnera.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah laki-laki itu berjanji pada dirinya sendiri sambil sekali lagi melemparkan sebongkah batu ke permukaan danau hitam—tak peduli pada rasa nyeri yang menyusul merambati lengan kanannya. Konyol rasanya bersikap seperti demikian pada seorang gadis yang baru dikenalnya belum lama. Gadis mungil itu berbeda dengan Belle yang pada dasarnya memang manja. Ah, mungkin ini karena dia terbiasa memanjakan Belle sehingga dia jadi kesulitan saat bertemu anak lain yang terlihat manis seperti adik sepupunya itu. Sifat orang berbeda. Itu yang harus dicamkan dalam hati bocah tigabelas tahun itu sekarang. Belle senang diperlakukan sebagai tuan puteri dan dimanjakan, Calnera belum tentu. Apalagi, Calnera itu perempuan dan dia laki-laki. Bisa-bisa gadis mungil itu salah paham dengan tindakannya. Sambil mendengus, dia mengacak-acak rambutnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus masih memandangi riak-riak air akibat lemparan batunya tadi ketika tiba-tiba sebuah suara imut mengalir masuk ke dalam gendang telinganya. &lt;span style="color:grey;"&gt;"Selamat sore, Tuan Zeus. Apa kabar?" &lt;/span&gt;Demi Merlin, doa asal-asalan yang barusan dipanjatkan seenaknya itu dikabulkan secepat ini?! Bocah laki-laki itu membelalak sesaat sebelum menengok dan memberikan senyuman pada gadis mungil yang kini duduk di sampingnya. Dia lucu, demi Tuhan. "Ha... hai. Kabarku baik. Bagaimana denganmu, Tu—eh Calnera?" Yeah, langkah pertama untuk memperbaiki sikap, dia harus mulai memanggil Calnera dengan namanya. Bukan dengan sebutan tuan putri kecil. Ada rasa lega di hatinya kini, merasa dirinya bisa mengontrol keinginan untuk memperlakukan Calnera selayaknya balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;—sesaat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Zeus! Dan Calnera, kan?”&lt;/span&gt; Tiba-tiba saja Emmy muncul dan duduk di samping Calnera, langsung merangkul dan memeluk gadis mungil itu erat-erat. Bahkan menempelkan pipinya ke pipi Calnera yang imut itu. &lt;span style="color:grey;"&gt;“Haaa, tidur sambil memeluk Calnera, enak yaa.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Glek.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tidur sambil memeluk Calnera? Oh Merlin. Kirimkan Belle untuk menyelamatkan aku.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah laki-laki itu menelan ludah saat melihat betapa senangnya Emmy bisa memeluk Calnera tanpa rasa canggung. Jemarinya tanpa sadar meremas helai-helai rerumputan yang mencuat di sela jari-jarinya. Mati-matian berusaha menjaga ekspresinya agar tetap &lt;em&gt;cool&lt;/em&gt; meski perasaannya saat itu amat sangat ingin melakukan hal yang sama seperti yang Emmy sedang lakukan. Bocah itu kini menggigit bibirnya, memalingkan wajah sebelum kehilangan kontrol diri—jaga &lt;em&gt;image&lt;/em&gt;. "Hai, M!" ujarnya cepat lalu bangkit berdiri. "A... aku lari-lari dulu sebentar. Okay?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, melakukan aktivitas yang menguras tenaga dan membuat tubuh berkeringat bisa membuat pikiran-pikiran yang tak diinginkan enyah dari kepala. Zeus pun kini mulai berlari di tepi danau dengan kencang, secepat yang dia bisa. Terus dan terus berlari kemudian berbalik ketika dirasanya dia sudah cukup jauh, dan berlari kembali ke tempat Calnera dan Emmy berada. Masih berlari di tempat dengan keringat mulai mengalir di pelipisnya, bocah laki-laki itu menghampiri kedua gadis yang lebih muda darinya itu—memberikan cengiran sekilas dan kembali duduk, kali ini di samping Emmy. Rasanya, dia tak mampu duduk tepat di samping Calnera saat ini jika dia memang ingin bisa mengontrol dirinya. "Haaa—olahraga itu memang menyegarkan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyegarkan pikirannya terutama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Tuan Zeus marah padaku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kenapa pindah tempat?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GLEKK.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calnera mengira Zeus marah padanya. Menurutmu, kira-kira seperti apa perasaan yang berkecamuk dalam hati seorang bocah laki-laki berusia tiga belas tahun dengan iris perak dan rambut pirang platina itu, sehingga dia kini terdiam dengan mulut terbuka menatap dua orang gadis manis yang duduk di sampingnya? Hahaha. Bocah laki-laki itu kebingungan karena tindakannya sendiri. Dia duduk di samping Emmy, alih-alih duduk kembali di tempatnya di sebelah Calnera setelah berlari-lari tadi. Keningnya berkerut sekarang. Kedua alisnya bertaut. Mulutnya terkatup rapat. Gumaman terdengar. Bingung bagaimana harus menjelaskan alasannya. Rasanya tak mungkin dia bilang terus terang bahwa duduk berdekatan dengan Calnera akan membuat dirinya gemas setengah mati sehingga ingin mencubit gadis mungil itu, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Tidak. Untuk apa aku marah padamu, Tuan pu—err... Calnera? A... aku hanya salah ambil posisi duduk. Hehehe," ujarnya gugup sambil menarik tubuh dengan kakinya sehingga kini dia duduk tepat di depan Emmy dan Calnera. Ya, Tuhan. Dari depan sini wajah mungil Calnera sangat menggemaskan. Apalagi dengan tampangnya sekarang yang mengira Zeus marah. Zeus menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir. Kedua tangannya tak tahan ingin menjulur dan mencubit pipi Calnera yang terlihat lembut dan tembam. Kedua tangannya harus disibukkan dengan sesuatu!! Dan tiba-tiba saja bocah itu mengambil posisi tengkurap dengan kedua tangan menopang tubuhnya. &lt;em&gt;Push-up &lt;/em&gt;dimulai. Apapun caranya, dia harus membuat kedua tangannya bekerja supaya tidak tiba-tiba mencubit pipi mungil Calnera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aduh, lukanya terasa menggigit karena menopang tubuhku. Biar sajalah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian... suka olahraga, tidak?" tanyanya sambil tetap &lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt; di depan Emmy dan Calnera. Matanya menatap lurus ke tanah. Konsentrasi &lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt; akan membuat pikirannya anehnya tentang cubit-mencubit itu lenyap. Mudah-mudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kali ini, Zeus bersyukur Kurtzee berada jauh di pinggiran London bagian timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;One&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Three&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twenty-five&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah pirang itu terus menghitung dalam hati sembari melakukan &lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt;. Memang benar, konsentrasi membuatnya lupa akan keinginan hatinya yang sangat kuat untuk mencubit pipi empuk Calnera.&lt;em&gt; You're so smart, Zeus. SO VERY SMART.&lt;/em&gt; Muahaha. Pokoknya, selama berada di dekat nona mungil itu, Zeus akan melakukan &lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt; sampai gejala-gejala pedofilnya sembuh total. Usia Zeus baru tiga belas tahun, rasanya aneh jika dalam usia semuda itu dia sudah ngidam punya anak. Betul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Ngidam adik, narator bodoh.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Suka, aku suka... yang tidak berat seperti push up,"&lt;/span&gt; Calnera menjawab pertanyaannya dengan suara yang lucu, &lt;span style="color: grey;"&gt;"Tidak ikutan, Nona?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bertanya pada Emmy, Calnera malah mem-&lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt;-kan Tuan Bubu di tanah. Demi Merlin. Zeus tak boleh melihat pemandangan yang super lucu itu atau push-up-nya akan gagal total. Bocah laki-laki itu mati-matian menahan keinginan untuk menoleh dan memperhatikan tingkah Calnera. Mati-matian menahan pandangannya tetap lurus ke tanah. Mati-matian berhitung dalam hati—hitungannya sudah kacau balau, ngomong-ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;One&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Three&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis mungil itu tertawa. Tawanya benar-benar seperti tawa bayi yang polos dan suci. &lt;em&gt;Oh Tuhan&lt;/em&gt;. Cobaan macam apa yang Kau berikan pada seorang bocah berusia tiga belas tahun itu? Zeus mengernyit, mengerutkan kening. Mengulangi hitungan &lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt;-nya dari awal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;One&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Ahahaha, mau main banyak-banyakan push up, sama Tuan Bubu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati. Calnera mengajaknya bicara dan akan sangat tidak sopan apabila dia tidak menatap mata gadis mungil itu saat berbicara. Setetes keringat mengalir dari pelipisnya, bocah laki-laki itu menelan ludah. &lt;em&gt;Push-up&lt;/em&gt;-nya terhenti sesaat lalu menoleh ke arah Calnera sambil nyengir lebar—dengan ekspresi aneh. "Mau saja. Tapi, aku pasti kalah sama Tuan Bubu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;One&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Tuan, itu perban luka betulan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhenti lagi. Sepertinya gelar so very smart itu harus dicabut sekarang. Karena push-up-nya terbukti gagal. "Iya, betulan. Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Tuan Zeus, sudah jangan lakukan itu lagi. Jangan nakal, Tuan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh. Diminta dengan cara manis seperti itu, siapa yang sanggup menolak? Senyum manis sudah tersungging begitu saja di wajahnya kini. Senang dengan perhatian gadis mungil itu. Tapi, tidak, di saat seperti ini justru dia harus &lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt; lebih ekstrim lagi. Tak peduli meski lengannya sakit ataupun terbuka dan berdarah-darah sekalian. Otaknya harus dibersihkan dari keinginan cubit-cubit itu. Ah, seandainya saja Calnera mau jadi adik angkatnya, Zeus tak perlu depresi seperti ini. "Tapi... aku... harus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;One&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Three&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ten&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Calnera, jadi boneka ku yah, yah yah,”&lt;/span&gt; pinta Emmy. &lt;span style="color: grey;"&gt;“Nanti kalau mau, aku akan suruh Zeus berhenti push up, okay?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;WHAT!? Jadi boneka?! Mauuuu...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah laki-laki itu menatap Emmy dengan tatapan super-iri-aku-juga-mau-peluk. Bibirnya mengerucut sesaat lalu dia mulai melanjutkan &lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt;nya lagi. Luka di lengannya sudah sangat sakit sekarang. &lt;em&gt;Si-hal&lt;/em&gt;. Kalau dia tidak terluka, berapa kalipun dia kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Hey, Zeus. Berhenti push up, atau nanti ku seret ke klinik,"&lt;/span&gt; ancam Emmy sambil memasang tampang galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus menurut lalu duduk dengan wajah memelas menatap Emmy, "&lt;em&gt;Okay, Mommy.&lt;/em&gt;" Hehehe. Mommy Emmy. "Calnera, &lt;em&gt;call her Mommy from now on. I will be your Daddy&lt;/em&gt;," ujarnya pada Calnera sambil nyengir lebar. Iseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Tidak deh, terima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emmy juga tidak ingin menjadi Mommy. Emmy ingin menjadi anak saja dan Calnera jadi boneka ku.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat Calnera menolak candaannya soal &lt;em&gt;Mommy-Daddy&lt;/em&gt;. Bahkan, Emmy juga begitu. &lt;em&gt;Sigh.&lt;/em&gt; Padahal Zeus tadi hanya berkelakar karena cara bicara dan tingkah Emmy terlihat seperti seorang ibu memarahi anaknya. Zeus mengerutkan keningnya memandangi kedua anak perempuan yang duduk di hadapannya sekarang. Tanpa sadar, pipinya menggembung. Calnera telah bersedia menjadi boneka Emmy ketika mendengar tawaran Emmy bahwa dia akan membuat Zeus berhenti &lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt;. Itu curang, memanfaatkan Zeus dan kebaikan hati Calnera untuk kesenangannya sendiri. Zeus juga mau. Jadi, maaf saja jika dia sekarang berniat untuk mengikuti jejak Emmy.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;&lt;br /&gt;“Oh iya, sini lengan mu. Pasti sakit kan? Ku obati lagi.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah berandal itu mendesis, menahan rasa sakit yang menjalar di lengannya ketika Emmy melepas perban di lengannya. Perban itu sedikit menempel pada lukanya yang masih basah dan bernanah. Luka yang cukup besar, hebat juga burung hantu elang milik si banci, setidaknya burung hantu elang itu telah membuktikan diri bahwa dia bukan banci seperti pemiliknya. Zeus kemudian menarik lengannya menjauh dari Emmy dan mengambil posisi &lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt; lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Aku takkan berhenti push-up kalau Calnera tak mau jadi adikku,"&lt;/strong&gt; ujarnya sambil cemberut. Bocah berandal itu nekat melanjutkan &lt;em&gt;push-up&lt;/em&gt;nya. Menunggu jawaban dari gadis mungil yang menggemaskan itu. Satu, turunkan badan, tumpukan segala beban di telapak tangan dan &lt;em&gt;nyess...&lt;/em&gt; luka di lengannya dengan bahagia kembali mengeluarkan darah segar. Dua, angkat tubuh perlahan, dorong dengan kekuatan lengan. Darah kembali keluar dari lengannya yang gemetar kesakitan. Tiga, turunkan lagi tubuh perlahan. Gerakannya sudah semakin goyah, keningnya berkerut. Darah mengalir sampai ke telapak tangannya lalu berlanjut ke hamparan rumput. Bocah tiga belas tahun itu menggigit bibir untuk menahan rasa sakit di lengannya. Memang, Zeus adalah bocah keras kepala. Apalagi jika dia sudah menginginkan sesuatu, apapun akan dilakukan untuk mendapatkannya meski mencelakai dirinya sendiri. Serampangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tahu, kali ini dia agak berlebihan. Tak seharusnya dia memaksakan keinginannya pada Calnera. Tapi, dia sangat menginginkannya. Entah kenapa. Kebodohan seorang bocah tiga belas tahun memang kadang tak bisa ditebak. Di pikirannya, kalau dia jadi kakak Calnera maka dia akan lebih bebas memberi pelukan, cubitan gemas atau tepukan di kepala pada Calnera tanpa perlu merasa seperti om-om pedofil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pusing. Kepalanya mulai pusing sekarang. Tapi bocah berandal keras kepala itu belum berniat berhenti sampai keinginannya terpenuhi. &lt;em&gt;Yeah&lt;/em&gt;, sebut saja dia bodoh. Dia memang seringkali seperti itu, melakukan sesuatu yang tak masuk akal bahkan membahayakan dirinya sendiri. Beruntung selama ini ada Kurtzee dan teman-teman berandalnya yang masih punya akal sehat untuk menahan jika Zeus hendak melakukan hal bodoh seperti yang dia lakukan sekarang. Coba kalau tidak, mungkin sekarang Zeus tidak akan seutuh sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu bisa melihat darah yang mengalir dari lengan kanannya, merasakannya dan mencium bau amisnya. Pandangannya mulai buram dan dia mengumpat dalam hati. Sadar akan kebodohannya sekaligus enggan berhenti dan menyangkal kata-katanya sendiri. Tak akan berhenti sebelum Calnera setuju menjadi adiknya. Sekarang dia merasa tolol dan berharap ada seseorang menghentikannya dengan paksa alih-alih dia berhenti sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;Gengsi, Zeus?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Shut up!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Hai, Emmy. Masih ingat aku?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Suara itu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Halo, adik kecil. Siapa namamu? Aku Belle. Kelas 2, Ravenclaw. Kalau tak salah kamu di Ravenclaw juga, kan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Belle?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus terkesiap ketika menyadari bahwa Baby Belle-nya sekarang ada disana. Bocah berandal itu tak mengira bahwa dirinya akan tertangkap basah oleh gadis itu saat sedang melakukan perbuatan konyol ini. Tapi, bisa apa dia selain meneruskan kebodohannya? Sudah terjun, tenggelam sekalian. Si berandal mendengus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Zeus sedang apa? Sudah gemetaran begitu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terdiam, tak tahu mau menjawab apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Sedang menyapa malaikat maut,”&lt;/span&gt; ujar Emmy dengan nada santai yang sarat akan sindiran. Dan kemudian, Belle pun menyadari luka di lengannya. Gadis kecil itu menarik tubuh Zeus dan jatuh terduduk ketika bobot tubuh anak laki-laki itu menimpa tubuh mungilnya. Dia sekarang terbaring di atas paha ramping adik sepupunya yang cantik. Sedang marahpun, Belle tetap terlihat cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Zeus bodoh! Luka di lenganmu terbuka dan berdarah, kenapa masih push-up! Demi Merlin! Dari dulu Zeus selalu saja meremehkan luka!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena dia bodoh, Miss Belle.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Tuan berani push up lagi, atau apapun tindakan yang menyakiti diri sendiri, aku tidak mau kenal sama Tuan lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang saja Calnera. Ketika ia push up lagi, Calnera pun tak akan melihat wujud dia lagi.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga gadis kecil itu bergantian memarahi, mengatai dan mengancamnya. Dan apa yang diberikan oleh Zeus sebagai balasan atas kekhawatiran mereka? Cengiran nakal yang lemah. Kepalanya pusing. &lt;em&gt;Si-hal&lt;/em&gt;. Dia mengangkat tangan kirinya dan meletakkan telapaknya di kening. Mengurut-urut pelan. Dan tiba-tiba dia terdiam ketika sesuatu mengusiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wait. Belle bilang apa tadi? Dari dulu? Artinya...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus mengangkat tubuhnya dengan susah payah, duduk, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Belle—berbisik lirih, meyakinkan supaya kedua gadis kecil yang lain tidak mendengar suaranya, "Belle, kau sudah ingat? Kau tadi bilang dari dulu aku selalu meremehkan luka! Kau sudah ingat?" Senyumnya mengembang sementara jemarinya mengusap lembut pipi adik sepupunya itu. Dia sungguh berharap ingatan Belle kembali, kecuali tentang kematian ayahnya. Aneh, tubuhnya terasa berat sekarang. Pemandangan sekitarnya terlihat bergoyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hoo—gempa?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Sakitnya kurang? Mau kutambah sakitnya, eh?”&lt;/span&gt; ujar Emmy tiba-tiba sambil berdiri—membuat Zeus mengalihkan perhatiannya dari Belle. Gadis tomboy itu menggosok kedua tangannya dan melakukan &lt;em&gt;stretching&lt;/em&gt;. Nampak siap menghajar dirinya. &lt;span style="color: grey;"&gt;“Sudah siap? Atau mau berhenti?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus mendongakkan kepala, hendak menjawab ocehan Emmy ketika tiba-tiba saja kegelapan menyelimuti dan menarik kesadarannya dengan cepat. Tubuhnya ambruk lemas ke hamparan rumput. Pingsan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-4459027211809680906?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/4459027211809680906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/01/shes-pedophilia-virus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/4459027211809680906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/4459027211809680906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/01/shes-pedophilia-virus.html' title='She&apos;s a Pedophilia Virus'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-4946961613299254343</id><published>2010-01-01T20:01:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T20:02:36.264-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Danau 1985'/><title type='text'>Welcome Juniors</title><content type='html'>&lt;em&gt;Hoahmm—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu mengantuk, makanya dia menguap. Cuaca sore itu terbilang panas. Kalau sedang begini, dia jadi semakin rindu pada Skull Alley. Kenapa? Karena di saat panas seperti ini, dia dan teman-teman berandal ciliknya akan ramai-ramai pergi ke sungai yang berada tak jauh dari sana lalu berenang sampai puas. Seusai berenang, mereka akan mendatangi toko es krim yang pemiliknya sangat baik hati karena selalu memberikan mereka es krim gratis dengan syarat mereka tidak mengacak-acak toko es krim tersebut. Baik sekali, bukan? Seandainya saja semua pemilik toko di pinggiran London bagian timur berlaku baik pada geng berandal ciliknya, toko-toko itu pasti akan aman dijaga oleh mereka dan bukannya diacak-acak oleh beberapa anak buah Zeus yang tergolong iseng. Tidak, mereka tidak mencuri ataupun &lt;em&gt;malak&lt;/em&gt;. Hanya masuk ke dalam toko tersebut lalu main-main atau pura-pura bertengkar, salah satu dari mereka akan jatuh menabrakkan diri ke rak manapun dan membuat barang-barang disana berantakan. Setelah itu, tentu saja kabur, kecuali untuk para berandal perempuan yang masih kecil. Mereka hanya perlu memasang wajah bersalah dan dengan mudah diampuni, malah tak jarang diberikan permen oleh pemilik toko. Muahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, di Hogwarts agak sulit melakukan keonaran seperti itu. Pertama, disini tidak ada TOKO. Kedua, siapa yang cukup nakal dan iseng untuk dijadikan anak buahnya? Ketiga, disini ada Belle. Zeus tak mungkin bertingkah macam-macam di depan Baby Belle-nya. Jaga image sebagai seorang kakak yang keren, tentu. Kalau tidak begitu, bagaimana cara membuat Belle percaya bahwa dia akan menjadi pelindung gadis kecil itu? Seorang pelindung di mata Belle adalah sosok yang seperti pangeran-pangeran atau ksatria dalam dongeng. Bukan pemimpin berandalan seperti dirinya. Meski begitu, Zeus tak keberatan bertingkah aristrokrat untuk menyenangkan adik sepupunya itu. Biar begini, sampai usia 8 tahun, Zeus tumbuh besar di Kastil Elsveta dan dididik selayaknya bangsawan. Jadi, gaya aristrokrat sebenarnya sudah melekat dalam diri bocah itu. Catat, hanya saat dia diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hoahmm—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tungkai kurusnya terus melangkah, membawanya menuju danau hitam. Ingin rasanya menceburkan diri ke sana sekedar untuk mendinginkan badan. Tapi, kata Belle, di dalam danau itu banyak sekali makhluk-makhluk gaib dan ada juga gurita raksasa. Seram. Zeus belum mau mati. Kali ini dia kesana untuk mencari Belle, selama di kastil, entah kenapa Baby Belle-nya seolah menghilang. Bagaimana mau melindungi kalau bertemu saja susah. Seharusnya, dimana ada Belle, disitu ada Zeus. &lt;em&gt;Betul?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iris peraknya melirik ke sebuah kerumunan di dekat danau, kemudian kepalanya ikut menoleh karena melirik itu membuat mata pegal, tahu. &lt;em&gt;Hooo—&lt;/em&gt;banyak anak kelas satu disana. Tertarik untuk mengetahui apa yang sedang dibahas, Zeus pun berlari menghampiri kerumunan itu. Tak dilihatnya ada undakan kecil berbatu tak jauh dari tempatnya sekarang. Dan dengan sukses sepatunya tersangkut di undakan tersebut dan terjatuhlah si bocah pirang platina ke atas hamparan hijau, terguling-guling (sengaja) menuju satu sosok gadis berambut pirang kecoklatan yang dikenalnya. "Hai, M! Sedang apa kumpul-kumpul disini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu segera bangun dan duduk di samping Emmy. Melemparkan cengiran lebar pada semua anak yang ada dalam kerumunan itu. "Halo semua. Zeus bergabung."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-4946961613299254343?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/4946961613299254343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/01/welcome-juniors.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/4946961613299254343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/4946961613299254343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2010/01/welcome-juniors.html' title='Welcome Juniors'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-595015616084619957</id><published>2009-12-30T01:19:00.000-08:00</published><updated>2010-01-01T23:08:34.907-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gubuk Hagrid 1985'/><title type='text'>Intip Hagrid yuk!</title><content type='html'>Yeah! Pengalamannya kemarin sangat spektakuler dan menyenangkan. Hanya saja kurang sedikit bumbu kehebohan akibat dari keisengan-keisengan yang sesungguhnya ingin dia lakukan. Tapi, melempar bom kotoran atau menyemprotkan air dengan ketapel air di awal tahun ajaran bukan sesuatu yang baik, bukan? Apalagi semalam, suasana begitu meriah di pesta awal tahun. Dia sudah resmi menjadi murid Hogwarts, ngomong-ngomong. Penyihir. Bukan manusia biasa. Dia PENYIHIR. Muahaha. &lt;em&gt;So what, Zeus?&lt;/em&gt; So, dia bisa pamer pada teman-teman berandalannya di Skull Alley nanti. Atau mungkin mengerjai geng utara dan selatan yang memang luar biasa menjengkelkan. Ah, sayang sekali sebelum usianya 17 tahun, dia dilarang menggunakan sihir di luar sekolah kecuali jika dia ingin bernasib sama seperti Belle. Entah tulisan di dahi gadis kecil itu sungguh-sungguh permanen atau tidak. Semoga saja tidak. Zeus tak bisa membayangkan gadis kecil itu terpaksa mengenakan topi lebar setiap kali harus keluar dari kamar. Kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong soal keluar kamar, Zeus saat ini sedang menjelajah, lho! Gairah dan antusiasme yang semalam masih berdesir di pembuluh darahnya—membuat dia tak bisa tidur nyenyak. Hogwarts itu adalah tempat yang menarik untuk ditelusuri saking besarnya. Banyak tempat yang sepertinya memiliki banyak misteri. Anak laki-laki tiga belas tahun itu sangat siap untuk membongkar setiap misteri yang tersimpan di sana. Sendirian pun tak masalah jika tak ada yang mau ikut bersamanya. Siapa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kakinya membawa dia mendekati sebuah gubuk yang ukurannya tidak terlalu besar. Namanya juga gubuk, masa kau berharap ada gubuk sebesar kastil Hogwarts? Mimpi saja sana. Kelabu kembarnya kemudian menangkap satu sosok gadis yang dikenalnya. M. Yang telah mengobati dan membalut lukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Nyengir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, M! Sedang apa?" Zeus berlari menghampiri gadis berambut pirang kecoklatan itu lalu menunjuk ke arah luka di lengan kanannya yang masih terbalut perban, "Nanti, bantu aku mengganti perbannya, ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Langit pagi hari itu sangat cerah namun tidak menyilaukan. Hamparan kebiruan berhiaskan bola-bola seputih kapas menjadi lukisan yang memanjakan setiap indera penglihatan yang menatap ke atas. Sang matahari entah sedang bersembunyi dimana. Biarkan saja dia beristirahat sampai tiba waktunya dia berlaga saat tengah hari nanti. Sekarang biarlah sejuk tetap menguasai karena—Zeus sedang menjelajah. Begitu pula dengan para tupai kecil, semut-semut, burung-burung, semua sedang memanfaatkan kesejukan pagi ini untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emmy, si gadis bersurai pirang kecoklatan itu mengangguk meresponi permintaannya untuk mengganti perban di lengannya, namun tiba-tiba terdiam, berpikir dan memberikan saran untuk langsung ke klinik sekolah saja untuk mengobati lukanya. Zeus terkekeh dan menggeleng sok manja pada gadis kecil itu. "&lt;em&gt;Nope. I want—you to take care of my wound, M&lt;/em&gt;." Hey, Zeus bukannya sedang meminta tanggung jawab dari gadis kecil itu, lho. Memang penyebab lukanya ini karena melindungi gadis itu dari serangan seekor burung hantu elang milik seorang banci, tapi Zeus melakukannya dengan sukarela tanpa pamrih. Dia hanya segan datang ke klinik. Klinik itu bau obat dan sangat tidak nyaman. Kalau ada Emmy, buat apa ke klinik? Muahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu tiba-tiba melompat di tempat, terkejut karena Emmy memekik keras di dekat telinganya. Kekagetan sepertinya menular. Zeus melirik sosok yang datang tiba-tiba itu dengan ekor matanya—sambil mengelus-elus dadanya, sosok seorang anak laki-laki yang kelihatannya sepantaran dengan dia rupanya. Denan Multianda, eh? Anak laki-laki itu memberikan senyum pada seniornya yang memberi pengumuman tentang kepemilikan gubuk di dekat mereka, seperti seorang tour guide. Hahaha. "Hey. Aku Zeus. Salam kenal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multianda kemudian mengeluarkan sebuah toples berisi permen dan menyodorkan sebungkus permen pada Emmy dan Zeus. Dengan sopan, Zeus menolak permen yang ditawarkan Multianda. Dia tak terlalu suka makanan manis. &lt;em&gt;"No, thanks."&lt;/em&gt; Lagipula, gubuk Hagrid ini lebih menarik untuk dinikmati ketimbang permen. Dengan penasaran, Zeus melangkah mendekati gubuk tersebut. Hagrid itu, pria besar yang menyambut mereka di Stasiun Hogsmeade, bukan? Gubuk di depannya ini milik raksasa itu? Tak salah? Memang ruangannya cukup besar untuk raksasa seperti dia? Padahal Hogwarts itu luas, kenapa raksasa itu hanya diberi gubuk sekecil ini? Teganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditariknya sebuah kotak kayu yang cukup tinggi dari dekat gubuk tersebut dan disandarkannya ke dinding gubuk. Anak laki-laki itu naik ke atas kotak tersebut, mencoba mengintip ke balik jendela. Dia ingin tahu seperti apa isi dalam gubuk tersebut. &lt;span style="color: grey;"&gt;"Ah ya, kira-kira Hagrid sedang ada di rumahnya tidak ya?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau mencari Hagrid, M? Sepertinya gubuk ini kosong. Tak ada orangnya," ujar Zeus seraya mengintip dari jendela gubuk tersebut. Debu menempel di jemarinya saat dia berpegangan pada kusen jendela. Nampaknya, Hagrid itu butuh bersih-bersih. Bisa kena pilek kalau gubuk sekecil ini dibiarkan berdebu begini. Ya kan? Hey, sejak kapan Zeus jadi peduli dengan kebersihan rumah orang? &lt;em&gt;Forget it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Anak laki-laki berambut pirang platina itu kembali melanjutkan misi intip-mengintip gubuk Hagrid setelah sebelumnya memberi informasi bahwa raksasa itu tidak ada di rumah. Jujur, dia penasaran setengah mati ingin melihat seperti apa interior di dalam gubuk seorang raksasa. Ingin memastikan apakah di dalam sana ada kursi berukuran besar, meja berukuran besar, kasur berukuran besar dan segala &lt;em&gt;furniture&lt;/em&gt; berukuran besar-besar. Sayangnya kaca jendela Hagrid terlalu tebal debunya, dia jadi sulit untuk memantau terlebih lagi dia masih harus berpegangan erat di kusen jendela untuk menahan tubuhnya. Kotaknya kurang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendengar ada beberapa anak lain yang datang karena tertarik dengan apa yang sedang dia dan Emmy lakukan di sana. Tapi, dia malas untuk menengok dan membiarkan Emmy yang menyambut kedatangan mereka seperti petugas resepsionis menerima tamu. Padahal gubuk ini bukan punya mereka. Dengan sedikit napsu, Zeus meniup-niup kaca jendela tersebut, berusaha membubarkan para debu-debu yang menempel erat disana. Sayang, usahanya membuahkan hasil yang nihil alias buang-buang tenaga. Anak laki-laki itu pun mendengus kesal. Berniat untuk turun dari kotak karena merasa sudah tak ada gunanya lagi mengintip-intip sesuatu yang tak bisa diintip. Biar saja para burung pipit yang kecil itu menggantikan posisinya di kusen jendela. Pegal. Lihat saja telapak tangan Zeus kini sudah memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja Zeus hendak melepaskan pegangannya ketika sebuah suara sopran cempreng berkumandang membuatnya terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;”Gya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aduh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pegangan tangannya terlepas karena terkejut, sebelah kakinya salah menginjak pinggiran kotak sehingga kotak yang dia pijak kini mulai miring dan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BRUKK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—jatuhlah dia ke hamparan hijau yang lembab. "Aduh. Lukaku tertindih," rintihnya sambil mengusap-usap lengan kanannya yang tadinya diperban. Kini perbannya robek separuh, memperlihatkan bekas lukanya yang masih basah. Yeah, burung sialan itu menorehkan luka yang cukup dalam dengan cakar bututnya. Burung dan pemiliknya sama-sama kejam. Cuih. Kelabu mudanya kemudian melirik ke arah pemilik suara cempreng yang kini sedang berguling-guling. Zeus menghampiri gadis kecil tersebut dengan ikut berguling-guling ke arahnya tanpa memedulikan lukanya yang sekarang mengeluarkan darah. Terlalu malas berdiri ditambah rasa penasaran. Memang, seperti seseorang pernah bilang kalau Zeus itu punya nama macho, sikap serampangan dan muka secantik Miss Universe*.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, nona. Kau kenapa?" Dan pada semua orang yang baru bergabung, "Hey, semua! &lt;em&gt;Welcome to &lt;/em&gt;Gubuk Hagrid!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Memangnya kau siapa, Zeus?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-595015616084619957?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/595015616084619957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/intip-hagrid-yuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/595015616084619957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/595015616084619957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/intip-hagrid-yuk.html' title='Intip Hagrid yuk!'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-4098694783690841807</id><published>2009-12-30T00:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T00:58:39.939-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seleksi Asrama 1985'/><title type='text'>Seleksi Asrama 1985 - 1986</title><content type='html'>Kereta yang dijuluki sebagai naga besi merah oleh adik sepupunya itu kini berhenti—telah menunaikan tugasnya untuk mengantarkan murid-murid Hogwarts sampai di Stasiun Hogsmeade. Kala itu, matahari telah bersembunyi di balik gelapnya malam, berganti giliran tugas dengan sang rembulan dan para bintang. Anak laki-laki bersurai pirang platina itu menyunggingkan senyum ceria ketika disadarinya kehidupan yang baru akan dijalaninya mulai detik ini. Kehidupan yang jauh berbeda dari kehidupannya sebagai berandalan di sebuah kota kecil di pinggiran London. Entah mengapa, benaknya menuntut dia untuk bersikap lebih tenang di sekolah ini. &lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;—hanya untuk saat-saat tertentu saja. Sifat dan kelakuannya yang cenderung hiperaktif, pemberontak dan seenaknya itu tak bisa diubah begitu saja. Hanya ada satu pengecualian, dia dengan alami menjadi sosok yang &lt;em&gt;behave&lt;/em&gt; saat bersama dengan Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digamitnya lengan adik sepupunya dengan lembut dan bersama melangkah keluar dari naga besi merah tersebut. Keduanya terlihat amat antusias. Jubah hitam Hogwarts sudah terpasang rapi di tubuhnya, dengan sebuah jalinan aksara menyebutkan namanya—Zeus Pierre—tanpa embel-embel Debussy yang dibencinya. Keren. Di tempat ini, dia adalah Zeus Pierre yang bebas. Bukan putra dari seorang pelahap maut Christoff Debussy. Dia adalah Zeus Pierre, seorang pemimpin berandalan cilik di Skull Alley, seorang pembuat onar sekaligus pembela kebenaran bagi mereka yang dirugikan, seorang anak laki-laki dengan pembawaan anggun khas aristrokrat melekat dalam setiap gerakan tubuhnya—&lt;small&gt;hanya saat dia diam&lt;/small&gt;. Dengan senyuman ceria, dia melambaikan tangan ketika adik sepupunya berpamitan untuk bergabung dengan senior-senior yang lain, langsung menuju kastil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik sepupunya adalah seniornya disini. Ironis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tungkainya melangkah dengan cepat—bergabung dengan teman-teman seangkatan yang kini berkumpul di depan satu sosok pria besar dan berjalan melalui rute yang berbeda dengan para seniornya. Sebuah jalan setapak membawa mereka ke hadapan sebuah hamparan air danau berwarna hitam sehitam langit malam. Dari tempat itu, dia bisa melihat sebuah kastil yang akan menjadi tempat tujuan mereka. &lt;em&gt;Hell yeah&lt;/em&gt;—dirinya dapat merasakan degup-degup antusiasme mengalir di seluruh pembuluh darahnya, membuat anak laki-laki hiperaktif itu kesulitan untuk terus berdiam diri. Kedua telapak tangannya membuka dan menutup, saling bertaut di depan dada kurusnya, kemudian digosok-gosokkan tanda tak sabar. Setengah berlari, anak laki-laki itu menghampiri sebuah sampan kecil tak berdayung—melompat masuk sehingga membuat sampan itu berayun sesaat dan tiga pasang mata memelototinya dengan ekspresi takut. Zeus terbahak meminta maaf. "Bukankah yang barusan itu seru?" ujarnya riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan &lt;em&gt;yeah&lt;/em&gt;, pemandangan selanjutnya tidak bisa dibilang membosankan. Serius. Lihat saja bukit karang dan tirai sulur yang menutupi sebuah goa di danau itu. Sampan mereka bahkan kini sudah berada di dalam goa!! &lt;em&gt;Amazing!&lt;/em&gt; Banyak sekali batu-batu mencuat dari langit-langit goa dan dari dasarnya, kalau tak salah batu-batu itu disebut stalaktit dan stalakmit. Kalau saja Kurtzee dan anak-anak Skull Alley lainnya ada disini, mungkin goa ini sudah dijadikan tempat nongkrong favorit mereka untuk bermain. Mungkin lain kali jika bisa, dia akan mengajak Belle bermain-main ke goa ini dan mencari tahu lebih banyak lagi. Sebodo amat dengan peraturan. Muahaha. Dan kemudian, sampan kecil berlabuh di sebuah tempat yang mirip seperti pelabuhan kecil di dalam goa—sepertinya di bawah tanah. Anak laki-laki itu dengan cepat naik ke daratan, membantu dua anak perempuan yang satu sampan dengannya. Mereka terlihat gamang saat berdiri di sampan, harus dibantu tentu saja. "Hati-hati. Disini agak licin jalannya. Berpegangan saja pada jubahku supaya kalian tak jatuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah mereka kemudian telah sampai di pintu keluar goa, berhadapan dengan danau hitam yang tadi dilewati. Zeus mengikuti langkah anak-anak yang lain dan tibalah mereka di sebuah hamparan rumput luas dan Kastil Hogwarts berdiri dengan megah di depan mereka. Anak laki-laki itu berdecak kagum. Terpesona sama seperti hampir semua anak lain yang ada disana. Kaki-kaki kecil mereka terus berjalan mengikuti si pria besar sampai ke sebuah gerbang—yang kemudian terbuka. Mereka disambut seorang wanita tua yang berperawakan anggun dan sedikit galak, sepertinya. Wanita itu tak banyak bicara, hanya menuntun mereka menghadap sebuah pintu kayu besar. Menyuruh mereka berbaris dua-dua dan mereka pun masuk ke dalam sebuah Aula besar dimana murid-murid senior yang lain telah duduk rapi memenuhi empat buah meja panjang berbeda warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan itu jelas dipenuhi berbagai sihir. Langit-langit aula memperlihatkan langit malam dengan taburan bintang berkelap-kelip, serbuk bintang bahkan sungai antariksa mengalir lembut dengan indahnya. Jangan salahkan anak laki-laki tiga belas tahun itu jika tanpa sadar dia telah mengeluarkan ungkapan kekaguman dengan cara yang norak—berteriak dan melompat-lompat. Bisa kau bayangkan ribuan lilin beterbangan di atas meja seperti menari? &lt;em&gt;That's just awesome, mate!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya sampai disitu, kali ini sebuah topi lusuh diletakkan di atas sebuah kursi oleh wanita tua tadi. Dan tiba-tiba saja topi itu memiliki mulut rombeng dan mulai bernyanyi. Lagu yang aneh tapi menghibur. Tidak, Zeus tak pandai berbohong. Dia terhibur. Menyayangkan Kurtzee dan anak-anak Skull Alley takkan pernah punya kesempatan untuk melihat semua keanehan yang ajaib ini. Keanehan yang hanya bisa dinikmati oleh penyihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat asrama, itu yang tersirat dari lagu yang dinyanyikan si topi lusuh. Gryffindor, Ravenclaw, Hufflepuff dan Slytherin. Entah dimana dia akan ditempatkan. Dia tak terlalu peduli selama dia ada di sekolah itu bersama adik sepupu yang selama ini dia rindukan. Di asrama mana pun tak jadi soal. Belle bilang, topi lusuh itu bisa membaca karakter mereka. &lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;, karakter hiperaktif dan pemberontak seperti dia, dimana sepantasnya ditempatkan, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Pierre, Zeus"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya dipanggil. Menghembuskan nafas lega karena nama Debussy tidak turut disebut disana. &lt;em&gt;No&lt;/em&gt;, tak ada seorang pun boleh tahu latar belakang keluarganya. Anak laki-laki itu pun melangkah dengan percaya diri menghampiri si topi lusuh. Duduk di kursi dan memakai topi itu di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, dia takkan pernah menyesali keputusannya untuk datang ke Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sorry, Lucretia. My path is to be a wizard.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-4098694783690841807?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/4098694783690841807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/seleksi-asrama-1985-1986.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/4098694783690841807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/4098694783690841807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/seleksi-asrama-1985-1986.html' title='Seleksi Asrama 1985 - 1986'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-3618808990779261175</id><published>2009-12-29T06:30:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T06:35:33.234-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley 1985'/><title type='text'>New Pets</title><content type='html'>Target. Target. Zeus ingin mencari target keusilan pertamanya di dunia sihir. Baru saja bocah berambut perak itu keluar dari sebuah toko lelucon dengan kantong belanjaan berisi beberapa barang-barang lelucon yang tentunya tak sabar untuk dia coba, terutama bom kotoran dan ketapel air. Hey, dua jenis barang itu sangat efektif untuk mengerjai orang—meski Zeus belum tahu pasti apa yang akan terjadi saat menggunakan kedua barang itu tapi setidaknya dia bisa membayangkan dari namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dum dum dum dum—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus bersenandung dengan sumbangnya sembari melangkah mencari tempat yang strategis, tepat dan cocok untuk melaksanakan aksi isengnya. Tentu saja harus ada target yang menjadi korban dan kau tahu, mencari target itu pun harus dipilah-pilah berdasarkan tampang dan perawakan. Kalau wajahnya galak, lebih baik jangan, daripada beresiko mendengarkan ocehan-ocehan panjang lebar dan membosankan. Oh satu lagi, targetnya harus laki-laki. Zeus tak mau mengerjai anak perempuan yang belum dikenalnya dengan baik, tak sopan. Zeus hendak mencari target seorang bocah laki-laki dengan wajah yang lucu dan bertampang iseng sepertinya, barangkali korbannya malah akan jadi teman. Bukankah begitu lebih menyenangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah tungkai panjangnya membawa Zeus ke pinggiran jalan yang jauh dari keramaian. Iris kelabunya berbinar ketika melihat ada seorang bocah laki-laki berambut pirang sedang asyik bercakap-cakap dengan tiga ekor hewan peliharaannya. Entah kenapa, di mata Zeus, bocah pirang itu terlihat seperti pawang. Zeus, sih tak bisa membayangkan harus mengurusi tiga ekor peliharaan sekaligus. Dia hanya berencana membeli seekor burung hantu untuk keperluan surat-menyurat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mari kita berhenti membicarakan dunia fauna. Setelah diamati, wajah bocah pirang itu terlihat menyenangkan dengan pipi bulatnya yang berisi. Kelihatannya bukan tipe target yang akan mengamuk jika dikerjai. Jujur saja, Zeus lebih berharap keisengannya dibalas. &lt;em&gt;Hahaha.&lt;/em&gt; Dengan langkah perlahan, mengendap-endap, Zeus bersembunyi di balik pohon tepat di belakang bocah pirang yang kini sibuk melerai kucing dan hewan bundar berbulu pink yang entah apa namanya. Diletakannya kantong belanjaan di dekat kakinya, sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara meski saat ini bocah pirang itu takkan bisa mendengar suara karena sibuk menangkap kucingnya yang mulai mengejar hewan bundar berbulu pink itu. Jemarinya segera masuk ke dalam kantong tersebut dan mengambil sebuah bom kotoran dari sana. Seringai nakal terlukis jelas di wajah putihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hehe. Bersiaplah, nak.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil ancang-ancang. Kunci target yang dituju dan arahkan bom kotoran itu tepat ke sasaran. Zeus menggerakkan lengan kanannya dan melemparkan bom kotoran itu langsung menuju pada bocah berambut pirang. Semoga saja bocah itu tidak tiba-tiba berlari sehingga lemparannya meleset. &lt;em&gt;Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;Syuuttt—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BOOOMMMM!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah! Lemparan bom kotoran Zeus tepat mengenai bokong si bocah gembul yang kini tengkurap di atas tanah. Alih-alih mengumpat seperti kebanyakan orang bila berada di posisinya, bocah gembul itu malah tertawa gembira sambil menggebuk-gebuk jalanan dan menggerak-gerakan kakinya. Reaksi yang sama sekali tidak terduga. Entah apa yang membuat bocah gembul satu itu begitu bahagia dilempari bom kotoran yang ternyata baunya luar biasa—BAU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Syuuttt—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BOOOMMMM!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woah! Bom kotoran lagi! Rupanya Elliot juga sedang bersembunyi di semak-semak dan meniru perbuatan iseng Zeus. Menyenangkan! Tangan Zeus sudah siap mengambil sebuah bom kotoran lagi ketika sudut matanya kemudian menangkap gerakan seorang gadis berjalan menghampiri sambil menjilati es krim. Gadis manis yang sering berpapasan dengannya setiap kali belanja di toko-toko Diagon Alley. &lt;em&gt;Stalking me, eh?&lt;/em&gt; Zeus tak keberatan, kok. Apalagi gadis kecil yang manis begitu. Zeus menatap bingung pada si gadis kecil yang kini malah memperhatikan wajahnya dari dekat lalu mengirimkan cengiran jarak jauh pada Elliot.&lt;strong&gt; "Ada apa dengan wajahku, Nona?" &lt;/strong&gt;Gadis kecil itu bukannya menjawab pertanyaannya malah asyik melompat-lompat sambil menunjuk-nunjuk sehingga es krimnya terjatuh. Benar-benar gadis kecil yang penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tersenyum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Elliot, Zeus... Kalian sedang apa di sini?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kali ini seorang gadis kecil lain. Mariel. Zeus hanya memberikan cengiran pada gadis kecil satu itu. Kalau begini, bisa-bisa ketahuan oleh bocah gembul itu. Feromonnya tak bekerjasama. Bagaimana bisa bersembunyi jika orang-orang datang menghampiri dan membongkar persembunyiannya begitu saja? Nah, lihat kan. Bocah gembul itu sekarang sudah datang ke tempatnya dengan cara yang spektakuler. Terpeleset es krim si gadis manis. Mimisan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hey, hidungmu berdarah."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja seekor burung hantu elang berwarna hitam terbang dengan kecepatan tinggi menuju tepat ke arah gadis di samping Zeus. Cakar-cakar tajam terlihat di kaki burung itu—siap menerkam mangsanya. Ada apa ini? Tak mungkin seekor burung hantu menyerang manusia yang sedang makan es krim. Masa burung hantu jaman sekarang doyan makan es krim? Pasti ada seseorang yang memerintahkan burung itu. Dengan gerakan cepat, Zeus melangkah ke depan si gadis pirang kecoklatan—mengangkat lengan kanannya menutupi wajah. Wajah itu aset berharga Zeus, tahu. Cakar si burung hantu mendarat tepat di lengan tersebut dan meninggalkan goresan yang cukup dalam disana. Rasa pedih menjalar membuat Zeus sedikit mengernyit. &lt;em&gt;Brengsek.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dengan jelas Zeus bisa melihat siapa pemilik burung hantu elang tersebut. Seorang anak laki-laki jelek berambut pirang panjang dan tak terurus berdiri tak jauh dari hadapannya. Di wajah jeleknya itu tersungging senyum puas. Senyuman pengecut yang berani menyerang seorang gadis. &lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;—sekarang bukan waktunya mengurusi luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hey, kau bocah tengik bau sampah. Kau itu laki-laki atau bukan, hah?! Berani menyerang perempuan... Cuih!&lt;/strong&gt;" Zeus memang jarang marah tapi bila kau berani memancing amarahnya, kau cari mati,&lt;strong&gt; "Kalau kau memang laki-laki, ayo satu lawan satu denganku. Tangan kosong."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mau tahu beberapa alasan mengapa bocah kecil gondrong di depannya itu pantas disebut sebagai &lt;em&gt;&lt;u&gt;the Queen of Banci&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;? Baiklah, mari kita jabarkan satu demi satu dari setiap kata-kata nista yang terujar dari mulut rombengnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu. &lt;span style="color:grey;"&gt;"Siapa? Aku? Kau marah-marah padaku ?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dia pura-pura bodoh dan berlagak tak berdosa padahal sudah jelas dia pelakunya. Banci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua. &lt;span style="color:grey;"&gt;"Hei mau sok jagoan atau bagaimana? Memang apa salah ku heh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sok menantang padahal sebenarnya dia hanya takut. Tak berani bertanggung jawab pada tindakan sendiri, eh? Banci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga. &lt;span style="color:grey;"&gt;"Mereka yang menyerang!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengecut. Melemparkan kesalahan pada korban. Mengadu. Banci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya adalah bocah di hadapan Zeus saat ini bukan laki-laki tapi dia adalah ratu dari semua banci-banci di dunia. Jenis manusia yang paling dibencinya. Camkan itu. Dengan tatapan meremehkan, Zeus balas menatap si banci yang berjalan mendekat sambil tersenyum. Sok berani, eh? &lt;em&gt;Cuih&lt;/em&gt;. Jemari Zeus terkepal, rahangnya mengeras. Bocah perak telah siap menghajar si banci. Kalau saja kelakuan bocah gembul di dekatnya tidak membuat perhatiannya teralih. Sepertinya sejak tadi bocah gembul itu sibuk sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana, bocah gembul yang mengaku bernama Ziggy itu datang mendekat dan dia hanya memakai celana pendek yang seharusnya menjadi pakaian dalam. Ada gambar kodok di bagian selangkangannya. Kalau saja suasana saat itu sedang santai, Zeus pasti akan tertawa terbahak-bahak bahkan mungkin menginginkan celana yang serupa. Tapi, tidak sekarang. Dia masih harus mengurusi si banci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba saja perhatiannya kembali teralih. Gadis pirang yang tadi dia lindungi sekarang nampak sedang berjongkok dan menyengkat kaki si banci. &lt;strong&gt;"BAGUS, NONA!"&lt;/strong&gt; Zeus suka dengan gadis pemberani seperti dia. Sepertinya mereka bisa jadi teman yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ziggy sepertinya ingin meniru perbuatan gadis itu. Ah, tidak. Bocah gembul yang konyol itu malah terjatuh tersengkat kakinya sendiri. Zeus hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Melihat kejadian kocak seperti itu membuat amarah yang tadi sempat menguasai Zeus, sedikit mereda. Tawa tersembur begitu saja dari bibirnya dan mendadak bocah tiga belas tahun itu merasa sedikit gamang. Pandangannya terasa buram dan berputar. Terhuyung sesaat sampai akhirnya dia berhasil bersandar pada batang pohon di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus tak sadar bahwa luka di lengannya mengeluarkan banyak darah.&lt;strong&gt; "Brengsek!" &lt;/strong&gt;Kenapa harus di saat seperti ini. Zeus memejamkan mata sesaat menahan sensasi berputar di kepalanya. Untung saja, pertolongan datang tepat pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Kamu namanya Zeus kan? Mana tangan yang luka? Sini ku obati.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si gadis pirang itu nampaknya seorang dokter kecil. Lihat saja, dia membawa peralatan P3K lengkap dalam tasnya. Zeus sambil nyengir malu-malu mengulurkan tangan kanannya yang terluka. Semoga saja nona satu itu tidak fobia dengan darah. Kenapa Zeus malu? Soalnya tadi gadis pirang itu bilang bahwa Zeus cakep. Ehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Ah, tunggu sebentar, nona,"&lt;/strong&gt; ujar Zeus tiba-tiba, menarik kembali lengannya dan berjalan menuju si banci—pusingnya sudah sedikit reda. Setidaknya, banci satu ini harus diberi pelajaran terlebih dahulu. Meski langkahnya masih agak terhuyung, Zeus masih kuat. Zeus itu termasuk orang dengan stamina yang kuat, lho. Makanya, rajinlah berolahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemari tangan kiri Zeus dengan cepat mencengkeram kerah baju si banci. Kedua matanya terpicing, menatap langsung pada mata si banci yang memang seperti perempuan. "&lt;strong&gt;Kau. Lebih buruk dari banci. Dasar pengecut!"&lt;/strong&gt;ujar Zeus dengan nada dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tinju kanannya dengan cepat melesat ke arah pipi si banci. Saat kepalan tangannya berada sangat dekat dengan pipi si banci, gerakannya terhenti. Telunjuknya mencuat menyentil hidung si banci dengan keras. Haha. &lt;strong&gt;"Banci tak pantas mendapat tinju dariku."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gerakan cuek, Zeus berbalik dan berjalan kembali menuju si gadis pirang. Lebih baik mengobati lukanya dengan seorang nona manis daripada repot mengurusi banci. &lt;strong&gt;"Nah, tolong obati lukaku. Namamu siapa, Nona?"&lt;/strong&gt; ujar Zeus sembari menghempaskan bokongnya ke hamparan rumput dan bersandar ke batang pohon. Kepalanya pusing. &lt;em&gt;Si-hal.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Zeus tumbuh besar di lingkungan menengah ke bawah di pinggiran London sejak usianya yang ke-8. Berteman dengan anak-anak berandalan yang menyebut tempat nongkrong mereka dengan sebutan Skull Alley. Seperti anak-anak berandalan atau biasa disebut preman pada umumnya, teman-teman sepermainan Zeus rata-rata berperilaku kasar dan seenaknya. Bahkan kebanyakan terlihat lebih tua daripada usia sesungguhnya. Kedatangan Zeus pertama kali di tempat itu tidak disambut dengan hangat. Apalagi wajahnya yang tergolong feminin membuatnya menjadi bulan-bulanan penghuni Skull Alley. Tak jarang Zeus mendapatkan pukulan ataupun tendangan dari anak-anak yang lebih tua darinya sampai suatu hari sebuah kejadian membuat anak-anak Skull Alley berhenti menjadikannya sasaran. Wibawa dan perawakan aristrokrat Zeus membawanya menjadi pemimpin Skull Alley di usianya yang ke-11. Yeah, penghuni Skull Alley berusia antara enam sampai dua belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun menjadi berandalan, belum pernah sekalipun Zeus bertemu dengan seseorang yang pengecutnya melebihi si banci gondrong yang kini sedang meremas luka di lengannya. Darah segar dengan semangat mengalir keluar dari seluruh permukaan lukanya. Zeus yang tak menyangka akan diperlakukan seperti itu hanya bisa menarik nafas dan meringis kesakitan. Rahangnya mengeras. Kedua matanya terpejam, berusaha tidak mengeluarkan erangan yang pasti akan membuat si banci itu kesenangan. &lt;em&gt;Brengsek!!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Kau, tidak apa-apa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;"Ya. I guess,"&lt;/strong&gt; ujarnya lemah. Kepalanya terkulai lemah bersandar pada batang pohon. Pandangannya kabur karena terlalu banyak mengeluarkan darah—membuatnya terpaksa memejamkan mata. Dibiarkannya Emmy merawat luka di lengannya, membalutkan perban menutupi lukanya yang terbuka. &lt;strong&gt;"Thanks, M."&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Kuharap kau tak keberatan kupanggil M.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;"Temanmu yang barusan... sepertinya haus darah. Haha."&lt;/strong&gt; Zeus berusaha bercanda agar Emmy tidak terlalu cemas. Di wajahnya yang pucat, kini tersungging seulas senyum dan dengus tawa samar pun terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anak yang menarik. Si banci itu.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-3618808990779261175?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/3618808990779261175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/new-pets.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/3618808990779261175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/3618808990779261175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/new-pets.html' title='New Pets'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-837610133475434151</id><published>2009-12-29T04:21:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T09:10:24.766-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hogwarts Express 1985'/><title type='text'>Gerbong 5 : Kompartemen #13</title><content type='html'>Yeah! Akhirnya waktu untuk berangkat menuju Hogwarts telah tiba. Seorang anak laki-laki bersurai pirang platina tampak sibuk membawa ransel di punggung, sebuah kandang burung hantu di tangan kanan dan menggandeng seorang gadis kecil berambut keemasan di tangan kirinya. Di belakang mereka seorang anak laki-laki berambut pirang tergopoh-gopoh mengikuti langkah mereka. Si anak laki-laki pirang platina adalah yang tertua di antara mereka, mencari-cari gerbong dengan kompartemen kosong untuk mereka tempati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerbong satu sampai gerbong empat telah mereka lewati dan semuanya telah terisi penuh. Kini langkah mereka sudah tiba di gerbong lima. Berharap-harap semoga ada sebuah kompartemen kosong. Intip mengintip satu persatu akhirnya mereka mendapatkan sebuah kompartemen kosong. Nomor 13. Mungkin beberapa orang menghindari karena menganggap angka 13 adalah angka sial. Hell yeah. Zeus bukan tipe anak yang percaya pada hal-hal tak jelas seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita beruntung. Kompartemen ini kosong. Ayo kalian lekas masuk!" ujar Zeus pada Belle dan Elliot. Zeus segera membereskan barang bawaan mereka dan menyimpannya pada rak barang yang ada di langit-langit kompartemen. Belle langsung mengambil tempat di samping jendela dan Elliot juga mengambil tempat yang serupa. Bersebrangan kursi. Anak laki-laki pirang platina itu mengambil tempat duduk di samping Belle, adik sepupunya yang masih terlihat pucat meski senyum sudah kembali di wajah mungil gadis kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah merasa lebih baik, Baby Belle?" tanyanya sembari mengusap-usap kepala Belle yang sedang memeluk seekor bayi kucing bernama Boris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Siang itu, matahari sepertinya cukup ramah. Sinarnya tak seterik hari-hari di Diagon Alley. Mungkin, matahari sedang senang melihat murid-murid baru Hogwarts yang bersemangat berangkat menuju sekolah sihir mereka. Anak laki-laki bersurai pirang platina itu bersandar di kursi kompartemen di samping adik sepupunya dan memandangi gadis kecil itu. Dia masih terlalu senang karena bertemu lagi dengan Baby Belle-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Well,&lt;/em&gt; kehidupan itu memang selalu berubah-ubah. Itu fakta. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan mereka. Zeus lahir di Paris, di kastil milik keluarga besar bangsawan Debussy yang kemudian jatuh bangkrut dan hancur pada usianya yang ke-3. Kemudian, kedua orangtuanya membawa dia ke Kastil Elsveta di Rusia untuk tinggal bersama keluarga besar ibunya. Hanya Zeus yang diterima sedangkan kedua orangtuanya diusir tanpa diijinkan untuk menemui dia lagi. Di sanalah untuk pertama kalinya, Zeus kecil bertemu dengan Belle dan mereka tumbuh bersama lima tahun lamanya. Setelah lima tahun itu, kehidupan Zeus kembali berubah. Christoff, sang ayah, tiba-tiba saja datang menyerbu Kastil Elsveta bersama dua orang temannya dengan dalih merebut dia kembali. Dan di bawalah Zeus keluar dari Kastil Elsveta, kembali bersama keluarga kandung yang sudah menjadi orang asing baginya. Sang ayah yang seorang pelahap maut kemudian ditangkap dan dimasukkan ke Azkaban. Dari sana, Zeus dan adiknya, Candy, dibawa ke sebuah kota kecil di pinggiran London oleh ibunya. Tinggal di pemukiman muggle dan bergaul dengan anak-anak berandalan disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;See?&lt;/em&gt; Hidup itu berubah-ubah. Manusia seperti pion yang dipermainkan oleh benang takdir yang disulam oleh sang pencipta. Berusaha untuk maju mengikuti permainan dan berusaha untuk tetap tegar—atau menyerah. Dengan usil, Zeus mencubit ujung hidung mancung Belle saat gadis kecil itu tiba-tiba melontarkan pertanyaan pada Elliot sambil terkekeh. Ms. Leona itu katanya seorang guru privat yang mengajari Belle semua pelajaran selama di London. Gadis kecil itu tidak bersekolah di sekolah umum. Menurut penuturan adik sepupunya, Ms. Leona adalah seorang perempuan muda yang sangat sopan, beretiket dan bangsawan &lt;em&gt;wannabe&lt;/em&gt;. Terlihat memang dari perawakan dan gerak-geriknya saat mereka bertemu di stasiun King's Cross tadi.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;br /&gt;"Permisi masih ada tempat untukku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo. Tentu saja masih ada. Silakan masuk."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu NIQ. Anak perempuan yang dikenalnya di Diagon Alley. "Hey, NIQ. Masuk saja. Masih ada tempat, kok. Sendirian saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus merogoh kantong celananya, mengambil sekotak coklat kodok yang kemarin diberikan Silver padanya. Untuk Belle, tentu. Dan Zeus baru ingat untuk memberikannya pada Belle. "Baby Belle, ini coklat dari Papa botak-mu." Zeus menyodorkan kotak tersebut dengan sedikit ragu. Belle itu dulu takut kodok, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tiba-tiba saja kompartemen nomor 13 sudah penuh terisi. Baru saja seorang anak laki-laki yang sepertinya mengenal Belle masuk dan bergabung disana ditambah Cassie, anak perempuan yang dikenalnya di Diagon Alley. Dengan ramah, Zeus melemparkan cengiran pada mereka berdua. Belum, dia belum sempat berkata apa-apa untuk sekedar menjawab sapaan dari Cassie karena tiba-tiba saja dari kotak yang harusnya berisi coklat dari troll botak, kini berlompatan sekitar dua puluh ekor kodok kecil berwarna coklat.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Huwooo! Apa itu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki bersurai perak itu hanya bisa melongo sesaat dan memperhatikan saat kotak itu kemudian terlempar ke langit-langit kompartemen. Disusul oleh teriakan adik sepupunya yang ternyata masih takut dengan kodok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I... itu... kodok berlapis coklat?!" ujar Zeus sambil menunjuk-nunjuk ke arah kodok-kodok yang sekarang asyik berlompatan di lantai kompartemen. Didorong oleh rasa ingin tahunya, anak laki-laki itu berjongkok mencoba menangkap seekor coklat kodok yang kemudian melompat masuk langsung ke dalam mulutnya. Hap. Nyam nyam. Manis. Rasa coklat. Tidak ada rasa kodok-kodoknya sama sekali. "Hey, Baby Belle! Ini coklat asli! Sepertinya disihir sehingga bisa melompat seperti kodok hidup!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus segera memungut kotak kemasan coklat kodok yang tergeletak di lantai dan mulai menangkapi kodok-kodok yang tersisa. "Hey, Elliot dan err—kau," menunjuk pada anak laki-laki bermata hazel &lt;small&gt;(Harvey)&lt;/small&gt;, "Bantu aku mengumpulkan kodok-kodok ini, please. Dimakan saja kalau mau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditangkapnya satu ekor kodok lalu berdiri dan kembali ke tempat duduknya. Ditepuk-tepuknya kepala adik sepupunya yang masih meringkuk ketakutan, "Hey hey, senior Elsveta," bisiknya, "ada yang bertanya padamu, tuh. Buka mulutmu, ngomong-ngomong." Dengan cepat, Zeus memasukkan coklat kodok yang dipegangnya ke dalam mulut Belle. "Enak, bukan?" Muahaha.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-837610133475434151?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/837610133475434151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/gerbong-5-kompartemen-13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/837610133475434151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/837610133475434151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/gerbong-5-kompartemen-13.html' title='Gerbong 5 : Kompartemen #13'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-9096379921513345781</id><published>2009-12-28T09:58:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T09:59:22.889-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leaky Cauldron 1985'/><title type='text'>It's FOOTBALL, not QUIDDITCH</title><content type='html'>Mimik wajah si anak laki-laki itu mendadak cerah saat melihat beberapa anak tampak sedang berkumpul di suatu tempat di depan Leaky Cauldron siang itu. Yang membuatnya gembira bukanlah anak-anak itu melainkan bola sepak yang sedang digiring seorang anak perempuan berambut merah dan ditendang menuju gawang yang dibuat dengan meletakkan dua buah kaleng pada jarak berjauhan. Sepakbola! Permainan olahraga yang sangat populer di kalangan muggle dan tentu saja populer di geng Zeus dan kawan-kawan sepremanan-nya. Permainan sepakbola di Skull Alley, basecamp geng-nya di pinggiran London juga memanfaatkan barang-barang bekas seperti kaleng ataupun kardus bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum tersungging di wajah putihnya saat kedua tungkainya berlari menghampiri anak-anak yang tengah berkumpul disana. Kelihatannya semua adalah calon seniornya nanti. Tak ada salahnya berkenalan dengan senior, bukan? Mudah-mudahan saja mereka tidak menolak calon murid seperti dirinya untuk ikut bermain bersama mereka. Lagipula, kelihatannya yang mengerti permainan hanya si nona berambut merah. Yang lainnya? Yeah, you're right. Mereka sibuk melontarkan pertanyaan demi pertanyaan pada nona berambut merah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gerakan cepat, Zeus mengikat rambut peraknya yang sebahu. Melemaskan otot-otot lehernya. Beberapa hari tanpa berolahraga membuat otot-otot tubuh terasa kaku. Apalagi, Zeus termasuk anak laki-laki yang aktif berolahraga dan aktif mengerjai orang-orang menyebalkan di lingkungannya. Apa hubungannya? Ada. Habis mengerjai orang, Zeus pasti dikejar dan dia harus berlari untuk menyelamatkan diri. Olahraga juga, kan? Zeus menatap satu persatu entitas yang ada disana sambil menebarkan senyum ramahnya. Kesan pertama itu penting supaya dia diterima dalam kelompok. "Halo! Ikutan main, dong. Aku bersedia jadi kiper, Nona!" ujar Zeus pada nona berambut merah, "Tendanganmu bagus, ngomong-ngomong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;&lt;small&gt;"Ayo Zeus! Giring bolanya ke arah kiri!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus! Sekarang oper bolanya ke Maine!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah! Hati-hati!! Ada gorila berbulu coklat berlari ke arahmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tendang sekarang! Tendang bolanya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"GOALLLL—"&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tadi itu adalah cuplikan teriakan Kurtzee saat Zeus tengah bertanding sepakbola dengan geng berandalan di pinggiran kota London sebelah barat. Geng timur yang dipimpin Zeus beraliansi dengan geng Barat yang dipimpin si gorila berbulu coklat, Ralph. Kenapa dia disebut gorila berbulu coklat? Masa kau tak bisa membayangkan seperti apa sosoknya dari sebutan tersebut? Cih—yang benar saja. Tentu dia disebut seperti itu karena tubuhnya yang besar dan gemuk. Tingginya saja hampir 15 senti lebih tinggi dari Zeus. Belum lagi tubuhnya yang besar dan berbulu, padahal usia Ralph dan Zeus hanya berbeda 2 tahun. Zeus sih ogah macam-macam dengan gorila jadi lebih baik beraliansi saja sebelum dibantai dengan tragis. Zeus pintar. Jelas. Untungnya si gorila berbulu coklat itu punya hobi yang sama, sepakbola. Olahraga yang menyatukan kaum &lt;em&gt;muggle&lt;/em&gt;. Dan menyatukan gorila dengan monyet. Siapa monyetnya?&lt;em&gt; Zeus the monkey boy.&lt;/em&gt;&lt;small&gt; &lt;em&gt;*ditampar chara*&lt;/em&gt;&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kelabu kembarnya melirik ke arah seorang perempuan yang disebut 'tante' oleh nona berambut merah. Dan 'tante' itu kemudian meminta untuk dipanggil kakak saja. Zeus tertawa kecil. Jelas terlihat kalau perempuan satu itu sudah berusia lebih tua dari mereka semua walau belum pantas disebut tante, sih. &lt;em&gt;Baiklah, kupanggil kau kakak kalau begitu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, satu persatu anak lain datang bergabung. Dan semuanya terlihat sudah saling mengenal satu sama lain. Membuat Zeus sedikit merasa terasing. Hanya satu detik. Muahaha. Dengan cermat, Zeus memperhatikan pembicaraan mereka. Mengingat satu persatu nama yang disebutkan entah dari siapa dan oleh siapa. Charlie Weasley, Nymphadora Tonks, Kenneth Larz, Macbeth dan Orson. &lt;em&gt;Check.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari menunggu permainan dimulai, Zeus melakukan sedikit pemanasan dengan berlari-lari di tempat,&lt;em&gt; push-up, sit-up,&lt;/em&gt; berguling-guling dan memanjat pohon. Pemanasan itu penting jika kau mau melakukan suatu aktivitas yang cukup berat. Resiko kram mengancam kalau otot-ototmu terkejut. Terserah kreativitasmu saja bagaimana pemanasannya, yang penting tubuhmu jadi panas dan otot-ototmu siap digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Back to the field.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Tim pertama itu aku, Senior Macbeth, sama anak cowok cantik itu. Tim kedua Charlie, Orson, dan Tante yang rambut pendek, ya? Deal? OKEE, DEAL YA!”&lt;/span&gt; seru Tonks memutuskan tim sembari berlari ke tengah-tengah halaman, &lt;span style="color: grey;"&gt;“AYO, CHARLIE SAMA YANG COWOK CANTIK SUIT!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"NAMAKU ZEUS. BUKAN COWOK CANTIK, NONA!" Zeus berteriak pada Tonks di tengah lapangan sambil tertawa. Sekaligus memperkenalkan diri secara tak langsung pada semua yang ada di sana. Lumayan. Menghemat waktu. Kemudian Zeus melangkah menghampiri Charlie, si anak lelaki berambut merah dan melirik ke arah seorang anak perempuan yang baru saja datang menawarkan diri menjadi cheerleader. &lt;em&gt;Lucu juga.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo suit, bro." Zeus tersenyum dan mengulurkan telapak tangannya yang terkepal ke arah Charlie. Siap untuk melakukan suit.                           &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-9096379921513345781?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/9096379921513345781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/its-football-not-quidditch.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/9096379921513345781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/9096379921513345781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/its-football-not-quidditch.html' title='It&apos;s FOOTBALL, not QUIDDITCH'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-7597218830459901050</id><published>2009-12-28T08:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T04:19:59.979-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Stasiun King&apos;s Cross 1985'/><title type='text'>Waiting for a... friend?</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kamar 101—Leaky Cauldron&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Zeus! Bangun! Sudah waktunya kita ke stasiun King's Cross!"&lt;/span&gt; Belle, adik sepupunya tiba-tiba menghambur masuk ke dalam kamar penginapannya. Melompat langsung ke atas tubuhnya yang masih terbaring di balik selimut. Untung saja gadis kecil itu tergolong bertubuh mungil dan ringan. Kalau dia sebesar troll botak yang kemarin menggendong Belle, mungkin sekarang Zeus sudah mati tak bernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh my Got! Belle! Sakit, hey! Kau ini membangunkan atau mau membunuhku, sih?" ujar Zeus seraya menoyor kepala Belle dengan lembut. Bocah hiperaktif satu itu merasa lega sekaligus mensyukuri kepolosan adik sepupu satu-satunya itu. Kalau Belle bukan tipe anak yang polos, tak mungkin secepat ini mereka berdua bisa akrab selayaknya saudara. Mengingat gadis kecil itu kehilangan seluruh memori sebelum kematian ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Makanya, cepat bangun! Belle tak mau tertinggal. Ayo cepat ganti pakaian. Belle tunggu di bawah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengus pelan sembari tersenyum menatap gadis kecil yang tengah berlagak menjadi ibu-ibu yang membangunkan anaknya. "Iya, iya. Aku bangun. Lima menit lagi aku sudah di bawah. 'key?" Zeus dengan cepat mengganti piyamanya dengan sebuah kaos singlet hijau tua dan celana tiga-perempat hitam. Seluruh barangnya sudah rapi tersimpan di dalam tas ransel yang telah diberi mantra perluasan oleh troll botak. Baik juga orang itu. Berkat mantra itu, Zeus jadi tak perlu bersusah payah membawa banyak barang. Diangkatnya ransel dan kandang Bobo—burung hantu elang berwarna abu-abu—dan anak laki-laki bersurai perak itu keluar dari kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Stasiun King's Cross&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu berusaha menyamakan langkah dengan gadis kecil bersurai keemasan yang berjalan di sampingnya, menggandeng Zeus dengan gestur manja khas seorang adik. Belle bilang, dia janjian dengan guru privatnya di tempat ini. Adik gurunya itu akan jadi murid di Hogwarts juga. &lt;em&gt;Siapa, ya kira-kira? &lt;/em&gt;Jangan-jangan Zeus pernah bertegur sapa dengannya saat di Leaky Cauldron atau Diagon Alley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle menarik lengannya menuju peron 10. Ah, tidak. Gadis kecil itu berhenti di antara peron 9 dan 10 lalu menatap Zeus ceria. &lt;span style="color:grey;"&gt;"Zeus lihat tembok pembatas itu, kan? Itu pintu masuk menuju peron 9 3/4, lho! Di sanalah Hogwart's Express berada!"&lt;/span&gt; ujar gadis kecil itu bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Eh? Tembok pembatas itu pintu masuknya? What the—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tak salah, Baby Belle? Bagaimana caranya?" tanya Zeus dengan mimik heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Tenang. Nanti Belle tunjukkan. Kita tunggu Ms. Leona dan adiknya dulu disini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Okay."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu meletakkan ransel dan kandang Bobo di lantai stasiun dan menghempaskan bokongnya di samping ranselnya. Dengan lembut ditariknya lengan Belle untuk duduk disampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menunggu itu membosankan, bukan? Ada yang mau bergabung?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Paha kirinya kini telah menjadi bantal bagi kepala si gadis kecil. Sementara sebelah kakinya yang lain ditekuknya menjadi penopang bagi tangan dan dagunya sendiri. Jemari kirinya membelai poni si gadis kecil dengan lembut. Terlihat dari geraknya bahwa anak lelaki itu sangat menyayangi si gadis kecil yang kini lelap tertidur. &lt;em&gt;Yeah&lt;/em&gt;, Belle-nya masih belum sehat benar setelah mengalami guncangan traumatis berkenaan dengan masa lalunya yang terhapus dari memori otaknya. Bila Kurtzee ada di tempat itu saat ini, mungkin gadis berandal itu sudah mencela Zeus dengan beragam kata-kata yang barangkali terdengar menyinggung bagi yang tak mengenalnya. Tapi, sahabat Muggle-nya tak ada disini. Di tempat ini, dia hanya berdua dengan Baby Belle-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelabu kembarnya bergulir menyapu setiap sisi yang bisa tertangkap pandangannya. Memperhatikan entitas-entitas yang berlalu-lalang di stasiun tersebut. Ada yang berjalan santai bersama keluarga, ada yang berlari-lari seolah dikejar setan, ada yang berjalan cepat sambil sesekali melihat jam tangannya. Yang lebih banyak lagi adalah anak-anak yang membawa banyak barang bawaan dan kandang burung hantu. Para murid Hogwarts. Zeus menatap dengan mata membelalak saat satu, dua orang penyihir cilik berlari menembus tembok pembatas yang tadi ditunjukkan oleh Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hoo—Jadi begitu cara masuknya? Damn cool!!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus merasakan semangat tiba-tiba mengalir di seluruh pembuluh darahnya saat melihat semakin banyak orang yang menembus tembok pembatas tersebut. Muggle atau non-penyihir sepertinya tak ada yang menyadari keanehan tersebut. Mereka tetap berjalan seolah tak melihat apa-apa yang menyimpang. Ah! Semoga saja teman Belle yang ditunggu itu segera datang. Zeus tak sabar mencoba menembus tembok pembatas itu. Rasanya seperti sihir. &lt;em&gt;Well, &lt;/em&gt;ini memang dunia sihir, kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Jadi? Sedang mau masuk kedalam?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sapaan mengalir masuk ke telinga Zeus, menarik kepalanya untuk menoleh dan melemparkan senyum. &lt;em&gt;Ah&lt;/em&gt;. Anak perempuan berparas Asia yang waktu itu rupanya. "Hey. Yep. Nanti. Masih menunggu seseorang disini. Kau sendiri?"                         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Menunggu—terkadang membosankan bukan? Jadi kau menunggu siapa?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu terkadang membosankan? &lt;em&gt;Haha.&lt;/em&gt; Bisa dibilang selalu membosankan. Apalagi kalau sendirian. Tapi, menunggu itu juga bisa dibilang sebuah seni untuk melatih kesabaran seseorang. Latihan yang murah sekaligus paling efektif. Sungguh. Kau coba saja. Zeus pernah diminta menunggu Kurtzee di lapangan basket Skull Alley. Mau tahu berapa lama anak perempuan berandalan itu membuatnya menunggu? Bukan satu atau dua jam saja tapi enam jam. Luar biasa, bukan. Kalau saja Kurtzee tak punya alasan yang tepat, mungkin Zeus sudah marah pada sahabatnya itu. Bayangkan saja, Zeus sudah mengenakan seragam basket dan membawa bola basket terbaiknya untuk bermain bersama Kurtzee. Tapi anak itu tak kunjung datang sampai akhirnya salah satu anak buah Zeus datang mengabari bahwa Kurtzee sedang terlibat perkelahian dengan geng berandalan lain. Sejak saat itu, Zeus selalu mengajak seseorang kalau dia diharuskan menunggu. Atau, meninggalkan tempat janjian jika orang yang ditunggu tak muncul dalam 30 menit. &lt;em&gt;Muahaha.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Jadi sedang menunggu dirinya untuk bangun saja? Ataukah ada orang lain yang datang sebentar lagi?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Well, well, well.&lt;/em&gt; Mari kita kembali ke Stasiun King's Cross. Nona berparas Asia satu ini kalau dilihat-lihat lucu juga. Terlihat sekali dari wajahnya kalau dia sedang bosan atau apapun itu lalu menghampiri Zeus untuk sekedar berbincang dan melepas kebosanan. Ide yang bagus. Tak buruk sama sekali. Apalagi dia sendiri juga bosan kalau hanya menunggu tanpa ada teman bicara. Zeus pada dasarnya anak yang hiperaktif, susah untuk berdiam tak bergerak dalam waktu lama, seperti saat ini. Dia tak bisa bergerak karena takut membangunkan Belle. Gadis kecil itu butuh tidur setelah semalaman mengobrol tentang masa kecil mereka yang terlupakan. Terlupakan oleh gadis kecil itu. Yeah, kalau bicara soal menunggu. Nampaknya Zeus harus menunggu lama sampai gadis kecil itu bisa mengingatnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedang menunggu teman Belle. Kau sendiri? Sedang menunggu seseorang?" Zeus bertanya balik. Jujur, Zeus tak ingat nama anak perempuan Asia itu. "Nona, namamu siapa, ngomong-ngomong? Sorry, aku tak ingat." Tanya saja langsung daripada bingung, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“—aku juga melupakan namamu, mari kita ulangi lagi? Tiffany. Dan kau—siapapunlah namamu…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"My name is Zeus. Zeus Pierre, Nona."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Kalau begitu duluan…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tak mau anak laki-laki itu terkekeh saat gadis berparas Asia itu bangkit berdiri dari sampingnya dan berjalan sambil menarik kopernya menuju tembok pembatas yang adalah gerbang masuk menuju peron 9 3/4. Gadis Asia itu unik kalau tak mau disebut aneh. Tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi dengan interaksi seadanya. Gadis Asia bernama Tiffany itu dengan santai menabrakkan dirinya ke tembok pembatas tersebut dan menghilang dalam hitungan detik yang tak sempat terhitung. Ya, gimana ngitungnya. Baru sebut sa—Tiffany-nya sudah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Jam berapa kereta akan berangkat, Mister?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak perempuan kurus berambut cepak—berkesan tomboy datang menghampiri si anak laki-laki pirang platina itu. "Jam 11, Nona. Belum terlambat."&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;&lt;br /&gt;"Hai, masih ingat padaku?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan lain kali ini berambut coklat datang menghampiri, minta diingat. Zeus memang magnet. Muahaha. "Hai. Masih. NIQ, kan? Apa kabar? Sudah siap berangkat menuju Hogwarts?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Boleh aku ikut gabung" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh. Silakan jika tak keberatan duduk di lantai," ujar Zeus mempersilakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapannya kini beralih pada Belle yang masih tertidur. Apakah sebaiknya gadis kecil itu dia bangunkan sekarang? Tak tega, sih. Tapi sebentar lagi kereta akan berangkat dan yang dia tunggu belum juga datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baby Belle. Bangun." Dan tepat pada saat itu seorang wanita datang menghampiri mereka bersama seorang anak laki-laki pirang yang—&lt;em&gt;eh? Itu kan Elliot. Jangan-jangan yang Belle tunggu itu dia?&lt;/em&gt; "Hey, Elliot!! Jadi, kau yang ditunggu oleh Belle?"                           &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-7597218830459901050?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/7597218830459901050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/waiting-for-friend.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/7597218830459901050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/7597218830459901050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/waiting-for-friend.html' title='Waiting for a... friend?'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-6100385750440320746</id><published>2009-12-21T08:46:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T08:48:38.639-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontrak Sihir'/><title type='text'>Kontrak Sihir</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-family: Tahoma,Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); font-size: 11px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;Bocah kecil bermata kelabu itu termenung menatap sang langit yang kini mulai berubah menjadi serupa dengan warna matanya. Punggung kurusnya bersandar di sebuah batang pohon yang kokoh, sementara sebelah kakinya menggantung di tepian tebing. Pikiran bocah kecil itu membayangkan kembali semua hal yang terjadi di masa lalunya. Penyesalan terlihat di ekspresi wajahnya yang rupawan. Dia yang dinamakan serupa dengan dewa Yunani merasa kecewa karena ketidakmampuannya mengubah masa lalu. Namun, masa depan ada dalam genggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah badai dadakan tiba-tiba menghempas tubuh kurusnya. Tanpa sempat berpegangan, Zeus itu terlempar jatuh dari tepian tebing tempatnya duduk. Ditutupnya rapat-rapat kedua kelopak matanya, pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada rasa sakit yang menyusul di tubuhnya ataupun bunyi tulang retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah kecil itu membuka kelopak matanya, kedua permata kelabunya kini menangkap satu sosok renta duduk di meja usang dalam sebuah ruangan. Zeus menatap ke sekelilingnya dengan heran, entah sejak kapan dia ada di ruangan asing itu. Sebuah keanehan yang menggelitik nalurinya untuk mencari tahu. Perlahan, dihampirinya meja usang tempat sosok renta itu duduk—tampak membuai seekor burung berwarna merah yang cantik. Tiba-tiba, sosok renta itu berbicara dengan suara yang terdengar begitu jauh namun dapat terdengar dengan jelas di telinga Zeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;“Kalian adalah orang-orang terpilih dan ini adalah sekolah terbaik untuk kalian. Tidak sulit untuk bertahan dan belajar di sekolah ini, hanya butuh keteguhan dan ketekunan hati. Jadilah diri kalian apa adanya dan nikmatilah semua hal yang terjadi pada masa penempuhan pendidikan kalian tersebut. Jadilah seorang penyihir yang memiliki value dalam hidup dan bukan penyihir yang hanya memiliki value dalam nilai akademis. Satu hal yang perlu kalian ingat adalah, penyebab kegagalan dalam hidup bukanlah berasal dari orang lain atau situasi, tetapi diri kalian sendiri. Berhasil tidaknya kalian, semua tergantung pada diri kalian sendiri.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, sebuah piala transparan keemasan muncul tiba-tiba di atas sebuah meja kecil dan tepat di sebelahnya ada sebuah perkamen kecoklatan—kosong dan polos. Sebuah dorongan kuat timbul dalam benak Zeus untuk menghampiri meja tersebut dan menulis di atas perkamen itu. Dengan segera diambilnya pena bulu yang tersedia disana lalu menggoreskan sesuatu di atas perkamen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-family: Tahoma,Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); font-size: 11px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;Kontrak Sihir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr style="border-width: 0px; background-color: rgb(90, 112, 179); clear: both; color: rgb(90, 112, 179); height: 1px;"&gt;&lt;br /&gt;Sepenuhnya mengerti dan akan mematuhi peraturan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;Zeus Pierre&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: rgb(84, 36, 37); font-family: Tahoma,Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: rgb(79, 72, 51); font-size: 11px; font-style: italic; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;Well, it must be a dream.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-6100385750440320746?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/6100385750440320746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/kontrak-sihir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/6100385750440320746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/6100385750440320746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/kontrak-sihir.html' title='Kontrak Sihir'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-1416191074843294969</id><published>2009-12-15T04:09:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T04:12:27.179-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surat Tahun Pertama'/><title type='text'>Surat Tahun Pertama (draft)</title><content type='html'>Dunia sihir seolah enggan melupakan dirinya meski sudah dua tahun berturut-turut Zeus mengacuhkan amplop-amplop bercap hijau yang dikirimkan kepadanya oleh beragam burung hantu. Mungkinkah para pengirim surat tersebut bisa membaca keinginan hati seorang anak laki-laki bernama lengkap Zeus Pierre Debussy sehingga mereka tak juga menyerah mengirim dan mengirim lagi meski tak mendapatkan balasan dari si penerima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun lalu, saat pertama kali surat itu muncul pada usianya yang kesebelas, Zeus membuka dan membaca isi surat tersebut yang ternyata adalah surat undangan dari sebuah sekolah. Bukan sekolah biasa, itu adalah sekolah sihir paling termashyur di Inggris, Hogwarts. Ya, dugaanmu benar. Zeus memang adalah seorang penyihir, keturunan darah murni. Ayah Zeus adalah seorang penyihir yang dikutuk oleh komunitas penyihir karena pengabdiannya pada Pangeran Kegelapan dan kini mendekam tanpa jiwa di Azkaban. Kabar angin mengatakan, Christoff Johann Debussy telah menerima ciuman maut dari Dementor, sang penjaga Azkaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus adalah seorang bocah kecil yang hiperaktif, konyol, penuh rasa ingin tahu dan juga seorang pembuat onar di sekolah. Meski begitu, Zeus disukai oleh teman-temannya. Tentu saja saat pertama kali anak laki-laki itu membaca surat dari Hogwarts, dia sangat bersemangat menunjukkan surat tersebut pada Lucretia, ibunya. Namun, bukan senyum kebanggaan yang ditunjukkan oleh wanita itu melainkan sebuah tamparan keras di pipi kiri Zeus disertai rentetan kalimat makian, larangan, detensi dan airmata kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus kecil hanya tahu bahwa ibunya membenci keluarga besar Elsveta yang telah mengusirnya. Zeus tak tahu bahwa ibunya begitu membenci dunia sihir dan semua yang berhubungan dengan sihir. Termasuk Zeus yang semakin lama bertumbuh semakin serupa dengan Boris, kakak laki-laki Lucretia yang telah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus sendiri tidak membenci dunia sihir, apalagi keluarga Elsveta. Mereka yang telah membesarkannya dengan kasih sayang selama beberapa tahun di awal kehidupannya. Kasih sayang yang tak pernah didapatkannya dari ibu kandungnya sendiri. Jujur, Zeus merindukan keluarga Elsveta terutama sepupu satu-satunya yang cantik dengan surai keemasan membingkai wajah mungilnya yang selalu tersenyum, Nabelle Marion Elsveta yang akrab disapanya sebagai Baby Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari ini, ketika seekor burung hantu tiba-tiba mendarat di atas tempat tidurnya dengan sebuah surat terjepit di paruhnya, Zeus memantapkan hati untuk pergi diam-diam ke Hogwarts. Dia yakin, Baby Belle pasti juga ada di sekolah itu. Lagipula Candy, adiknya, sudah cukup besar untuk menjadi teman bicara Lucretia. Sudah waktunya bagi Zeus memilih jalan hidupnya sendiri apapun resiko yang akan ditanggungnya. Ya, Zeus tak bisa selamanya menuruti keinginan ibu yang membencinya dan menyangkal keinginannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Hogwarts, aku akan datang,”&lt;/span&gt; gumamnya lirih sembari meremas perkamen dalam genggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Baby Belle, wait for me.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-1416191074843294969?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/1416191074843294969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/surat-tahun-pertama-draft.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/1416191074843294969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/1416191074843294969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/12/surat-tahun-pertama-draft.html' title='Surat Tahun Pertama (draft)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4033241471672267946.post-1581229970791043356</id><published>2009-11-29T21:04:00.000-08:00</published><updated>2010-01-10T00:02:30.397-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biodata'/><title type='text'>Biodata Karakter</title><content type='html'>[b][Nama -- Panggilan][/b]: Zeus Pierre Debussy — Zeus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Status Darah][/b]: Pureblood&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Tempat dan Tanggal Lahir][/b]: Paris, 18 Oktober 1972&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Suku Bangsa Karakter][/b]: Perancis - Russia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Asrama][/b]: Griffyndor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Tahun Masuk Hogwarts][/b]: 1985&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Peliharaan][/b]: BoBoHo, burung hantu elang abu-abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Tongkat sihir][/b]: Ivy 29 cm, inti serpihan jantung Leprechaun Guinea purba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Sapu terbang][/b]: -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Posisi di Tim Quidditch][/b]: -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][big]Latar Belakang Keluarga[/big][/b]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Nama Ayah][/b]: Christoff Johann Debussy (Pureblood—Death Eater)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Nama Ibu][/b]: Lucretia Lois Elsveta (Squib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Nama Saudara][/b]: &lt;a href="http://i151.photobucket.com/albums/s154/Synyster-dave77/LEFTFORDEADDANIELLENEWS2.jpg"&gt;Candy Sloanna Debussy&lt;/a&gt; (9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Latar Belakang Keluarga][/b]:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucretia lahir sebagai satu-satunya Squib dalam keluarga besar bangsawan Rusia—Elsveta. Keadaan tersebut membuatnya merasa terkucil dari para kerabatnya yang adalah penyihir pureblood. Meski Lucretia tetap diperlakukan layaknya seorang nona muda, tetap saja dirinya merasa bahwa para kerabat bahkan para pelayannya menganggap dia sebelah mata. Ketika Lucretia menjalin hubungan asmara dengan Christoff—seorang pelahap maut, gadis itu diusir dari kastil Elsveta, bahkan dia tidak lagi dianggap sebagai bagian keluarga. Lucretia kemudian ikut dengan Christoff ke Paris dan tinggal di kastil keluarga Debussy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, Lucretia melahirkan anak pertamanya—Zeus Pierre Debussy—dalam kondisi prematur. Tiga tahun setelah itu, keluarga Debussy jatuh bangkrut. Orangtua Christoff bunuh diri meninggalkan sejumlah besar hutang. Christoff dan Lucretia kabur ke Rusia dengan membawa Zeus yang sakit-sakitan, berharap keluarga Elsveta mau menerima mereka. Bahkan Christoff berpura-pura telah insaf dan tidak lagi menjadi pelahap maut. Sayangnya, ayah Lucretia tidak mudah percaya pada ucapan Christoff. Beliau hanya menerima Zeus untuk tinggal di kastil Elsveta, bahkan beliau melarang Lucretia dan Christoff menemui anak mereka. Setahun kemudian, Candy Sloanna, anak kedua pasangan ini lahir ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun kemudian, saat Zeus berusia 8 tahun dan Candy 4 tahun, insiden besar terjadi di kalangan para penyihir sedunia. Bencana terjadi dimana-mana. Saat itu Christoff yang telah bangkit datang menyerang kastil Elsveta bersama dua orang pelahap maut untuk merebut Zeus kembali. Boris, kakak laki-laki Lucretia, meninggal dalam penyerangan tersebut untuk melindungi putri tunggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christoff berhasil merebut Zeus kembali dan membawanya pulang ke pelukan Lucretia. Sayangnya, ketika Christoff tiba di rumahnya, saat itu pula dia disergap oleh para auror dan ditahan di Azkaban. Kabar burung mengatakan, pria itu telah mendapatkan sebuah ciuman dari Dementor. Setelah kejadian itu, Lucretia diam-diam membawa Zeus dan Candy kabur ke London—hidup pas-pasan bertiga sebagai muggle. Kebencian Lucretia pada keluarga besar Elsveta membuatnya menjauhkan Zeus dan Candy dari segala macam bentuk sihir dengan cara apapun, bahkan jika bisa, ia akan membuat kedua anak itu benci pada penyihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus yang bertumbuh semakin besar ternyata mewarisi wajah Boris, kakak laki-laki Lucretia yang telah mati dan Zeus pun sangat tertarik dengan dunia sihir. Kedua hal ini membuat Lucretia membenci anak itu dan enggan berlama-lama menatap wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][big]Data Personal[/big][/b]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Personaliti Karakter][/b]:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pemberontak, pembuat onar, konyol, hiperaktif.&lt;br /&gt;- Rasa ingin tahunya sangat besar.&lt;br /&gt;- Hampir tak pernah marah.&lt;br /&gt;- Jika berada di dekat ibu dan adiknya, dia menjadi anak yang pendiam.&lt;br /&gt;- Gentleman sejati. Menganggap perempuan adalah makhluk yang harus dilindungi.&lt;br /&gt;- Tidak suka belajar—alergi buku, lebih suka bermain.&lt;br /&gt;- Suka jadi pusat perhatian.&lt;br /&gt;- Suka mengusili temannya.&lt;br /&gt;- Jago berkelahi.&lt;br /&gt;- Benci pada kenyataan bahwa dia adalah anak dari seorang pelahap maut—dia dan ibunya menyembunyikan kenyataan ini dari siapapun termasuk Candy.&lt;br /&gt;- Diam-diam sejak kecil ia menyimpan perasaan pada sepupu satu-satunya, Nabelle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b][Bakat dan Kekurangan][/b]:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Olahraga dan biang onar di sekolah.&lt;br /&gt;- Memiliki stamina yang kuat.&lt;br /&gt;- Buta nada. Jangan suruh Zeus main musik atau bernyanyi jika kau mau telingamu selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]Keterangan Lain[/b]&lt;br /&gt;* Dua tahun berturut-turut mengacuhkan surat undangan dari Hogwarts untuk menyenangkan hati ibunya.&lt;br /&gt;* Mudah terserang demam pada pergantian musim meski tidak sampai mengganggu aktivitasnya.&lt;br /&gt;* Kakak sepupu sekaligus teman masa kecil Nabelle selama di Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]Ciri Fisik[/b]:&lt;br /&gt;- Jari kelingking pada tangan kirinya buntung separuh—dipotongnya sendiri sebagai lambang sumpah bahwa dia takkan jadi pelahap maut seperti ayahnya.&lt;br /&gt;- Rambut berwarna pirang platina&lt;br /&gt;- Kulit putih&lt;br /&gt;- Wajah cantik seperti perempuan&lt;br /&gt;- Mata berwarna &lt;color=#5f9ea0 style="color: rgb(51, 153, 153); font-weight: bold;"&gt;Cadet Blue&lt;/color=#5f9ea0&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4033241471672267946-1581229970791043356?l=zeuspierre.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://zeuspierre.blogspot.com/feeds/1581229970791043356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/11/biodata-karakter.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/1581229970791043356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4033241471672267946/posts/default/1581229970791043356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zeuspierre.blogspot.com/2009/11/biodata-karakter.html' title='Biodata Karakter'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
